Bab 4.
Laurel ngangguk kayak anak penurut yang aslinya bukan. "Oke. Aku gak bakal kabur. Boleh telepon sahabatku sama bosku gak? Aku harus ngasih tau mereka kalau…"
"Ngasih tau kalau kamu diculik? Gak bisa, sayang. Kamu bakal ngasih tau mereka persis kayak yang aku bilang." Si Pria Sepatu Boots keliatan geli. Apa yang lucu dari dia?
Dia ngangguk, terus nelpon nomor Matteo. Dia langsung angkat dan suaranya yang cempreng memenuhi seluruh ruangan.
Laurel sekilas ngelirik muka Pria Sepatu Boots, tapi selain tampangnya yang geli, matanya keliatan dingin. Dia berdeham lagi. "Matteo! Aku lagi dalam perjalanan pulang."
"Iya…maaf banget ya udah minta kamu gantiin shift malamku, Laurel. Seharusnya aku gak…kamu gak apa-apa kan?" Matteo kedengeran khawatir.
"Iya, dia emang harusnya khawatir, brengsek." Pria Sepatu Boots berbisik pelan.
Laurel cemberut sambil nengok ke dia. "Kamu ngomong sesuatu?"
Pria Sepatu Boots geleng kepala. "Waktunya habis."
"Dengerin, Matteo. Jangan deket-deket klub atau apartemenku dulu, dan bilang ke Bapak Malik kalau aku lagi gak enak badan banget…"
Ada suara berisik di latar belakang. "Kamu masih di sana?" Laurel nanya khawatir kalau sesuatu terjadi sama dia.
"Aku di sini, sayang." jawab Matteo dari ujung telepon. "Kamu beneran gak apa-apa?"
Laurel menghela napas. Dia ngelirik Pria Sepatu Boots yang duduk di sebelahnya. Dia lagi merhatiin setiap gerakannya kayak elang. "Aku gak apa-apa. Cuma sampein pesannya aja ya. Aku bakal urus diri sendiri." Dia matiin teleponnya, terus natap Pria Sepatu Boots. "Sekarang kamu seneng?"
'Aku udah capek.' Dia berdiri tiba-tiba. "Kamu harus makan dan Oh, jangan coba-coba kabur, anak buahku bakal nembak kamu begitu keliatan." Dia ngomong santai, terus keluar dari ruangan.
Laurel merem sambil mikir keras. Siapa sih orang ini? Gak ada jawaban yang bagus. Dia bahkan gak ngasih tau namanya.
Dia itu bos mafia. Laurel yakin. Dia gak sebodoh itu buat gak nyadar. Dia punya aura misterius yang aneh dan coba-coba main-main sama setiap pertanyaan yang diajukannya. Perutnya keroncongan keras. Seberapa memalukan sih aku ini?
Walaupun laper, dia gak bakal ngasih dia kepuasan buat ngeliat dia megangin perut dan mohon-mohon makanan. Dia gak bakal nyerah sama rasa lapar dan ngemis di kakinya…
Dia lebih milih kelaperan daripada makan sama pembunuh.
Sementara itu, di Bounce…
"Kenapa suaranya cempreng banget…dan Matteo?" Diego nanya sambil ketawa.
Luis geleng kepala sambil mengelilingi anak cowok itu yang lagi ngebersihin tembok. Harus bersih sempurna. "Dia cewek pinter, tau gak sih. Dia gak bakal percaya lagi sama aku kalau aku kasih tau namanya. Aku udah naksir dia dari dulu. Tapi karena dia deket sama bos, aku harus mundur. Aku salah kemarin. Semoga Bos gak terlalu keras sama dia." Tambahnya sambil ngerasa menyesal.
"Kamu kan tau Bos. Kamu harus ngecek dia." Diego nyaranin.
Luis natap dia kayak dia tiba-tiba tumbuh 5 kepala. "Kamu tau aku gak bisa begitu." Dia nepuk anak cowok itu, ngasih isyarat buat berhenti nuangin pemutih ke tembok. Udah mulai mencurigakan.
"Aku harus lindungin…"
"Lindungin apa? Kamu beruntung dia pingsan sebelum kamu keliatan, man." jawab Diego dengan sombong.
"Mungkin." jawab Luis. Dia gak mau nerusin obrolannya. Dia harap sahabatnya baik-baik aja barengan. Laurel orangnya berani dan Bos gak ada bedanya sama berani. Itu bukan kombinasi yang bagus.
Dia udah coba nanya tapi Laurel gak mau cerita apa-apa. Dia tau dalam lubuk hatinya, dia ngerasa dia lagi coba buat ngejaga dia. Gimana perasaannya kalau dia tau kalau dia terkait sama orang yang nyulik dia tanpa persetujuannya?
Luis cekikikan, tapi gak nyampe ke matanya. Dia udah gak sabar mau liat gimana dramanya bakal terjadi.
Di saat yang sama…
Pria Sepatu Boots ngegebrak meja setelah nunggu satu jam buat cewek itu. Dia keras kepala. Pria Sepatu Boots sadar sambil berusaha keras nahan amarahnya tapi mendidih di perutnya dan ngancem mau keluar.
Dia manggil pengawal yang deket sama dia. Dia bisikin instruksi ke dia dan nunggu.
Pengawal itu gak buang-buang waktu dan langsung naik ke atas.
Pria Sepatu Boots senyum licik saat denger protes marah cewek itu bergema di bawah.
"Kamu gak serius kan!" Cewek itu menjerit. Dia tau dia udah gatel mau nampar dia tapi pengawal itu nahan dia tanpa susah payah.
Mukanya berubah jadi marah. Itu gak ngebuat dia jadi gak cantik sih. Pria Sepatu Boots ngerasa banyak bagian yang tegang pas mikirin mau nyium bibir seksi itu.
Terlalu dini, dia tau, tapi tubuhnya punya pikiran sendiri.
"Dudukkin dia. Kalau dia sampe ngejerit lagi, bekap mulutnya." Pria Sepatu Boots berbisik pelan. Tapi kenapa dia kedengerannya kayak lagi nyaranin sesuatu yang lain. Dia bisa tau dari kemerahan di ujung telinganya.
Cewek itu berjuang keluar dari cengkeraman pengawal. 'Huh!'
Pria Sepatu Boots ngangkat tangannya dan pengawal itu balik ke posisinya. "Duduk dan makan." Dia nunjuk ke meja yang penuh sama berbagai macam hidangan.
Cewek itu kaget tapi coba buat nyembunyiinnya dengan batuk. Sayangnya, perutnya keroncongan keras.
Pria Sepatu Boots jalan ke meja dan berharap dia ngikutin dia. Dia iya.
Ngelirik dia dari sudut matanya, dia perhatiin penampilannya. Rambut acak-acakan, mata merah mungkin karena nangis, perut keroncongan, celemek dari semalam dan sisa bajunya kusut.
Pria Sepatu Boots geleng kepala saat dia narik satu kursi. Cewek itu bingung. Terus dia nyambungin semua titik. "Kalau kamu mikir aku bakal makan sama kamu, kamu pasti udah gila." Dia nyembur dengan getir.