Bab 111.
'Gue gak ada masalah sama itu. Cuma, lo udah lebih lama dari kebanyakan. Dia culik lo dan harusnya sekarang dia udah lepasin lo, tapi dia malah milih buat nahan lo. Gue cuma jagain bos gue. Gue gak mau lo jadi kelemahan dia.'
Laurel nge-klik atap mulutnya karena kesel. 'Maksudnya gimana sih?' Kenapa bukan keluarganya yang jadi kelemahan dia?'
Sebastian ketawa gugup. 'Lo bakal ngerti kok.'
Tiba-tiba, Lucas keluar. Laurel kaget, dia lagi senyum lebar banget.
'Gue rasa kita harusnya jalan sekarang deh.'
Laurel nyengir. Senyumnya nular banget. Dia belum pernah lihat Lucas sebahagia ini. Apa yang terjadi sama Lucas yang canggung beberapa jam yang lalu? Dia noleh dan lihat rahang Sebastian kayak mau copot. Artinya dia juga kaget.
'Lo yakin mau?' tanya Laurel. Dia harus yakin kalau Lucas siap buat bawa hubungan mereka ke level berikutnya. Dalam hati, dia tahu Lucas bukan masalahnya. Dia yang jadi masalahnya, dan se-asik apa pun tawarannya, dia gak yakin itu yang dia mau sekarang.
'Emang lo gak mau ikut gue?' Suaranya kayak sakit hati gitu.
Sebastian tahu ini kode buat dia pergi, biarin dua sejoli ini berduaan.
'Gak gitu-gue gak mau lo salah paham…' Laurel mulai jelasin.
'Gue ngerti kok.' Dan Lucas yang datar itu balik lagi. Laurel gak suka sama sekali.
'Oke, ayo kita jalan.' Dia senyum lebar, padahal gugup banget. Dia nyembunyiinnya jago banget. Ponselnya geter di saku, ngingetin dia sama penguntitnya. 'Ada yang mau gue kasih tahu di jalan.'
Lucas ngangkat alisnya, penasaran.
…
6 tahun…
'Gue yang urus lo, dan lihat apa yang lo sia-siain!' Antonia teriak ke adiknya. Orang yang dia kerja keras banting tulang buat itu malah duduk santai di bawah pohon, bukannya sekolah buat belajar gimana caranya balas budi sama kakaknya karena udah nolongin dia.
Laurel kaget pas denger suara kakaknya. Dia buru-buru jatohin catatan, sambil ngebersihin roknya. 'Gak gitu kok. Gue…'
'Gue nyesel bawa lo kalau lo penyebab semua sakit gue!' Antonia nyembur dengan pahit.
'Lo gak serius kan?' Laurel gagap. 'Masa ngomong gitu sama adik sendiri?'
Antonia berdiri dengan tangan di pinggang. 'Kasih gue satu alasan kenapa gue harus terus-terusan biayain lo kalau lo cuma nyia-nyiain hidup lo.' Dia nunjuk buku itu. 'Lo malah baca buku!'
Laurel natap buku itu dengan datar. 'Gue di-bully. Dengan pukulan dari ayah dan semuanya…lo mau gue jadi apa? Gue ke sekolah dan hari pertama gue langsung dipukulin. Gak lihat tanda di badan gue?'
Antonia nyibir. 'Iya deh, dan besok gue percaya kuda bisa terbang. Tanda dari ayah gue bisa kenalin, tapi bukan dari tukang bully atau apa pun. Kalau lo mau bunuh diri-'
'Maksud lo apa sih?!' Laurel nanya, kaget, kayak Antonia udah gila. 'Gue baru aja ngumpulin keberanian buat bilang ke lo kalau gue di-bully, dan lo malah bikin gue kelihatan kayak korban. Gue yang jadi korban di sini!' dia teriak.
Antonia celingak-celinguk, gak kaget lihat orang-orang natap mereka kayak alien. 'Lo selalu bikin semuanya tentang lo. Lo kesayangan ibu, tapi lo bunuh dia.' Air mata ngisi mata Antonia, tapi gak mau keluar.
Laurel naruh tangan kanannya di dada. Dia ngeremas kuat. 'Lo bikin gue sakit, Antonia…gue gak bunuh ibu. Itu udah bertahun-tahun lalu, kok lo bisa mikir gitu sih? Lo kesayangan papa, dan gue gak protes kok.'
'Ah, udah deh, jangan pake drama gini, dasar cewek egois! Gue kerja keras buat lo, dan lo malah bikin alasan murahan kalau lo di-bully. Lo? Kenapa lo gak pernah lapor?' Antonia nanya, gak percaya. Dia sengaja masukin adiknya ke sekolah yang bebas bully, dan sekarang dia denger ini.
Laurel berdehem. 'Karena gue tahu lo bakal bereaksi kayak gini. Lo gak pernah bisa ngerti apa yang gue alamin setiap hari. Lo ngerasa kalau lo kerja keras banting tulang buat gue, gue milih jalan ini, kan? Yah, salah besar. Mulai sekarang, gue berhenti, dan lo gak perlu lagi kerja keras buat gue.' Dengan itu, Laurel ngambil bukunya. Dia masukin buku itu ke tasnya dengan marah, terus pergi.
Antonia ngehela napas dengan marah. Dia ngelap bawah hidungnya pake punggung tangannya dan ngendus.
Mereka menjauh setelah hari itu. Antonia nyimpen rahasianya, sementara Laurel nyimpen rahasianya.
…
Laurel masuk ke bioskop. Gak ada orang sama sekali, dan dia cemberut. Dia noleh ke Lucas yang lagi nyengir. 'Lo beli semua tempatnya, ya?'
'Maaf.' Dia kayaknya gak ngerasa bersalah.
Laurel senyum. Sempurna banget. Terus semuanya berubah pas dia lihat dirinya yang lebih muda di sudut ruangan, lagi nangis. Dia pelan-pelan megang baju Lucas karena kaget.
Lucas mau duduk pas dia ngerasa ada jari lembut yang megang bajunya. Dia ngelihat ke samping, nemuin Laurel nunjuk sesuatu di kejauhan. Gak ada apa-apa di sana.
'Ada apa?'
Laurel gemeteran. 'Lo bisa lihat itu?' dirinya yang lebih muda ngendus, dan Laurel ikut ngendus. Dia ngerasain sakit dan sedih yang gak bisa dijelasin buat dirinya yang lebih muda. 'Itu gue.'
Lucas gak bisa lihat apa-apa. 'Maksud lo gimana sih?'
Laurel tiba-tiba nangis kejer pas dirinya yang lebih muda lagi ditarik paksa dari tempat persembunyiannya. Tiga cewek berdiri berdampingan, ngehajar perutnya.
Lucas menghela napas. Dia gak sadar udah ngerusak kencan mereka. Dia pelan-pelan ngelepas tangan Laurel dari bajunya. 'Sini, duduk dulu. Tempat ini pasti bikin lo inget sesuatu deh.'