Bab 35.
Tapi sesuatu bilang ke Laurel kalau dia gak di sini karena dipaksa, dan dia berusaha buat matiin suara itu. Dia bisa matiin kalau dia mau. Cuma dia gak mau ngakuinnya, mengingat Boss Lucas udah usaha keras buat bawa dia pulang.
Pulang?! Apaan sih yang gue pikirin? Gue baru di sini tiga hari dan bahkan belum selesai! teriak Laurel dalam hati.
'Lucas!" Rosemary tiba-tiba berteriak, bikin Laurel kaget dikit. Dia noleh ke arah kamar, siap-siap beres-beres dan tidur, pas denger pintu Lucas berdecit. Gak berdecit karena udah tua atau gimana. Itu berdecit pelan, cuma buat ngejek dia. Dia nengok buat ngeliat Lucas yang penasaran, pake polo putih tinggi dan celana dalam yang nunjukkin kaki berbulunya yang panjang. Dia keliatan berkuasa bahkan pake pakaian santai. Laurel cemberut kesal.
Tiga puluh menit lalu, Langsung setelah Laurel masuk rumah bareng Lucas; dia udah nanya banyak pertanyaan, banyak yang gak pernah dijawab. Dia udah marah waktu Lucas gak ngehirauin dia dan langsung ke kamarnya. Dia udah mondar-mandir naik turun tangga. Ini kali ketiga dia turun pas ketemu orang tua itu natap dia kayak dia gak ada kerjaan lain.
'Lucas, turun sekarang juga.' Dia manggil lagi.
Lucas buka pintu dan nemuin perempuan dengan banyak pertanyaan di sisi tangga. Kenapa dia belum mandi juga? Dia nanya, sama sekali lupa sama Rosemary. Konyol banget.
Laurel julurin lidah ke dia. Kalau dia gak bersih banget ganggu dia, dia bisa biarin Laurel pergi aja. Setelah dia pergi, dia bakal kasih tau sebersih apa dia bisa. Laurel meringis sih. Tapi dia ragu banget sama pikiran aneh itu.
Tatapan Rosemary berubah dari Lucas ke perempuan aneh yang berdiri di pintu kamar tamu, ke tatapan penasaran Lucas. Semua perhatiannya ke dia dan Rosemary ngerasa tersinggung.
Udah hampir lucu, kecuali Rose lagi gak mood.
'Lucas, gue mau lo manggil Silas sekarang juga.' Ini bikin Lucas tertarik.
Dia noleh dengan ekspresi konyol di wajahnya, terus senyum muncul di bibirnya. 'Rosie!' dia manggil dengan nada bosan.
Laurel bingung. Apa dia seneng liat dia atau dia pura-pura seneng liat pelacurnya? Atau ibunya mungkin… dengan pikiran ini Laurel mikir apa dia gak bersikap kayak istri cemburu.
Rosemary gak seneng sama panggilan itu, keliatan dari gerakannya. 'Gue udah bilang berkali-kali jangan panggil gue Rosie.' Sesuatu bilang ke Laurel kalau dia gak seburuk yang keliatan.
Lucas turun tangga dengan malas. 'Gue bisa dan gue bakal terus begitu.' Dia nyampe anak tangga terakhir dan meluk dia. Indah banget buat ditonton tapi Laurel gak menghargai adegan itu. Dia gak kenal perempuan itu! Dia muter bola mata, siap-siap buat muter kenop pintu dan istirahat malam ini. Dia udah selesai sama drama malam ini. Dia udah cukup drama hari ini.
'Dia siapa?' Rosemary nanya sambil matanya fokus ke Laurel yang keliatan capek. Laurel gak butuh siapa pun buat bilang kalau dia yang dimaksud. 'Dia'. Dia tanpa sadar nunda buat buka pintu, sedikit penasaran apa yang bakal Boss Lucas bilang dia itu.
'Dia...' Boss Lucas menggantung, natap Laurel intens. Kayak dia nembus langsung ke jiwanya. '...teman. Dia lagi ada masalah tempat tinggal sekarang dan gue gak bisa nolak.' dia nyelesaiin, naikin alis waktu Rosemary ngasih dia tatapan gak percaya sama sekali. 'Lo gak percaya sama gue.' dia bilang datar.
Tentu aja Rosie gak percaya. 'Kalau dia salah satunya, lo gak usah pura-pura. Boss, lo tau gue bakal dukung lo apa pun yang lo pilih, tapi kalau soal nyari cewek yang tepat, lo harus serahin kerjaan itu ke gue.' dia ngasih Laurel tatapan sinis dan Lucas gak melewatkannya.
Apaan sih sama perempuan dan cemburu? Lucas bisa taruhan mereka berdua lagi nge-judge satu sama lain. Gak penting tapi penting buat mereka. Buat perempuan pada umumnya. Yang lebih parah, mereka bahkan gak saling kenal! Dia berdeham, muka merah mau muncul di lehernya. Tapi dia gak pernah biarin, karena itu cuma bikin Rosemary makin sombong. Dia kayak ibu buat mereka semua dan mereka biarin dia begitu. Dia khawatir sama semua pria kayak dia ibu kandung mereka.
Kadang, kalau beberapa dari mereka berantem sama istri mereka, mereka punya pundak Rosemary buat nangis. Dia penasihat mereka, koki, dan segalanya yang dunia luar gak mau jadi buat mereka.
Dia bikin bisnis keluarga Dante gak keliatan begitu buruk meskipun apa yang mereka alamin cukup buat bikin pria hancur. Mereka mafia Lord dan butuh sentuhan kemanusiaan.
Dia sentuhan itu.
'Lo gak usah repot-repot mikirin itu.' Lucas cium keningnya. Entah itu buat bikin Laurel makin kesel, dia gak tau, tapi itu gestur baik ke Rosemary. Itu nunjukkin dia seneng liat dia di rumahnya.
Laurel ambil itu yang pertama, ngembusin napas sambil buka pintu dan membantingnya. Lebih baik biarin dua sejoli itu sendirian. Dia udah tau soal kaburnya dia sama perempuan. Dia harap dia bikin dia kehilangan banyak tenaga dalam nangkep dia kayak dia kehilangan tidur malam karena seks gilanya yang liar. Dia binatang! Laurel bergidik kesal sambil keluar dari piyama. Dia buang ke tempat sampah di sebelahnya, berharap gak pernah pake lagi.
Tapi menggoda buat nyimpen piyama itu sebagai kenang-kenangan. Itu harusnya ngingetin dia waktu dia berhasil ngerjain orang gila dan pengawalnya dan hampir dapet kebebasannya.