Bab 173.
Dia seharusnya udah baca tanda-tandanya dan jauhin dia. "Lo mau apa sih dari gue, psikopat!"
Dela Cruz menghela napas, matanya melihat sekeliling karena ini dekat dengan wilayah Lucas. Gak bakal bagus buat dia kalau dia ketahuan sama Laurel dalam posisi ini, berusaha menyakitinya. Dia harus bawa dia ke tempat lain.
"Maaf," bisiknya.
Laurel panik dan dia mulai berontak lagi. "Minta maaf buat apa?"
"Buat ini," jawab Dela Cruz sambil mengangkat tinjunya dan sebelum Laurel bisa mikir apa yang akan dia lakukan dan protes, dia ngehajar kepala Laurel dan dia pingsan.
....
Lucas udah gak sabar. Udah dua jam sejak Laurel dan Trish harusnya balik, tapi dia belum lihat tanda-tanda mereka.
Tiba-tiba, Luis lari masuk dengan tablet di tangan kanannya dan Lucas tahu ada yang gak beres. "Ngomong."
Luis kelihatan muram karena dia gak tahu gimana cara ngasih tahu berita ke bosnya. Dia udah kesel dan cemburu sama hubungan sahabatnya dengan Bosnya. Tapi sekarang, dia udah belajar untuk nerima. Laurel gak lagi ngobrol sama dia kayak biasanya. Dia ngerusak persahabatan mereka gara-gara keegoisannya.
Walaupun kalau mereka ketemu, mereka selalu saling sapa dengan anggukan. Itu gak cukup. Sekarang dia diculik. Ini salah satu alasan kenapa dia gak mau Laurel punya hubungan sama bosnya. Karena alasan ini! Sekarang dia dalam bahaya gara-gara dia.
Lucas udah nyadar jarak yang dibuat Luis sejak Laurel berhenti ngobrol sama dia. Dia gak peduli, tapi dia bisa lihat kalau anak itu punya semacam dendam sama dia.
"Dengar, gue tahu lo gak senang sama gue dan lo pikir gue nyakitin Laurel tapi menurut gue demi dia, lo harusnya biarin ini berlalu," Lucas pernah bilang ke dia suatu hari ketika dia kepergok lagi natap dengan mata jahat.
Silas nampar belakang kepala anak itu. "Lo ngapain lagi kali ini?"
"Gue gak ngapa-ngapain. Gue cuma kangen sahabat gue dan dia ada di tengah-tengah kita yang mau balik jadi sahabat."
"Luis, lo udah buang kesempatan buat minta maaf ke Laurel. Lo udah lihat dia berkali-kali. Gimana gue bisa menghalangi kalian berdua bersahabat?" Lucas melipat tangan di dadanya dengan heran.
Luis gak punya jawaban untuk itu. Dia cemberut dengan keras kepala. "Dia gak mau ngomong sama gue."
"Itu karena lo belum nyoba. Sana ngomong sama dia dan kalau dia nolak lo, lo bisa balik ke gue dan kita obrolin biar dia mikir," Lucas menepuk punggung Luis.
Itu sebelum Luis sakit. Dia berencana ngobrol sama Laurel dan sekarang, dia diculik, dia gak tahu apa dia bisa ngumpulin keberanian yang sama yang dia kumpulin untuk ngobrol sama dia.
Sebagian dari Luis tahu itu bukan salah Lucas karena dia udah berusaha sebaik mungkin buat ngelindungin dia. Tapi usahanya gak cukup, meskipun, dia gak akan pernah bilang itu dengan keras dan sampai Laurel aman, dia gak akan mau natap mata Lucas. Sampai dia bawa pulang sahabatnya dengan selamat.
Di mana persaudaraan itu adalah rumahnya.
"Gue bilang lo harus ngomong!" Lucas membentak.
Luis berkedip dan menggelengkan kepalanya saat dia balik ke dunia nyata. Dia gak tahu kesabaran Lucas udah menipis. "Bos, Laurel udah dibawa."
Kalau Lucas marah, dia gak nunjukinnya. Malah, Luis gak bisa baca ekspresinya saat ini. Dia gak tahu apa bosnya khawatir, marah, nyengir... dia gak tahu apa-apa dan ini bikin dia takut. Matanya sedingin biasanya yang udah biasa dia lihat dan Luis gak suka sama sekali.
"Bo-bos?" Luis tergagap ketakutan.
"Lo dipecat," kata Lucas dengan nada gelap, berbalik ke jendela. Dia bisa lihat bangunan itu dengan semua kemegahannya dari sudut ini. Itu indah tapi Lucas gak melihatnya.
Dia merasa gak berguna.
Luis kabur keluar dari ruang tamu. Dia belum pernah berhadapan dengan tatapan seperti itu sebelumnya. Itu adalah salah satu dari ketiadaan hidup. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menekan nomor Silas. "Gue rasa bos udah balik kayak dulu," Ada jeda. "Laurel diculik oleh orang tak dikenal," Jeda lain. "Oke," Ponsel berbunyi untuk menandakan panggilan selesai dan Luis meletakkan kembali ponselnya.
Dia ingat ketika dia baru datang, Bos yang dia temui punya mata dingin. Dia bahkan gak ketawa ketika ada lelucon tapi segera Laurel datang, dia bebas dan meskipun dia gak langsung berubah dalam semalam, tiga bulan cukup untuk membuatnya menjadi bos terbaik yang bisa diminta siapa pun.
Luis ketakutan oleh tatapan yang dia lihat. Kalau Lucas balik ke dirinya yang biasa, itu berarti siapa pun yang menculik Laurel gak akan hidup untuk melihat hari berikutnya.
Kalau dan ketika dia tahu di mana dia berada.
Luis masih mondar-mandir di luar pintu depan ketika dia melihat Silas masuk dengan kecepatan tinggi. Dia terkejut melihat Anya, berjalan keluar bersamanya. Perutnya yang buncit semakin kelihatan dan dia kelihatan gemuk. Dia mengikuti suaminya saat mereka berdua berhenti di depan Luis.
Luis mengangguk ke pertanyaan mereka yang tak terucapkan.
"Sialan!" Silas berteriak marah. Dia juga udah mulai menghargai kehadiran Laurel dalam hidup mereka. Walaupun dia gak suka dia di awal. Dia udah sadar bahwa Laurel cuma bikin Lucas lebih kuat dan gak lemah. Semua orang lihat itu. Itu jelas bahkan bagi orang buta.
"Bukankah Cecelio seharusnya sama dia?" Silas bertanya.
Luis meringis setelah mendengar nama lengkap Cecil. Itu menunjukkan betapa marahnya orang itu.
"Nggak. Ada Trisha, ingat?"
Silas mengumpat. Dia lupa istrinya yang hamil ada di sana.