Bab 50.
Sementara itu, Laurel baru aja bangun. Tidurnya gak enak. Penuh sama mimpi buruk gimana Bos Lucas nangkap dia tiap kali dia nyoba kabur. Dia ngelempar bantalnya, meringis pas hampir ngejambak rambutnya.
"Aduh!" dia teriak. Cokelat batangan yang dia makan tadi malam nyasar ke kepalanya. Kok bisa, Laurel gak tau. Dia pikir dia tidur kayak malaikat semalaman, bukan kayak orang lain yang buka kaki pas tidur.
Yang sama sekali gak bener. Laurel punya cara tidur yang buruk. Semua orang di keluarganya ngeluh tentang itu dan mereka gak pernah tidur di ranjang yang sama dengannya. Parah banget.
Dia mengangkat bantal dengan tangan kanannya dan masuk ke kamar mandi. Dia pengen tau gimana cokelat itu bisa nyasar ke rambutnya dan dia lihat. Dari cermin kamar mandi, dia bisa liat rambutnya nyangkut di dahinya, gara-gara cara tidurnya, rambutnya nyangkut terus melar sampai ke belakang kepalanya, tempat bantalnya berada.
"Gak mungkin banget," Yah, Laurel udah sering ngomong gitu akhir-akhir ini. Udah jadi kebiasaan yang dia gak liat bakal berenti dalam waktu dekat, karena hal-hal aneh terus terjadi di rumah Bos Lucas.
Mendesah frustrasi, dia dengan lembut ngelepas rambutnya. Kalo gak gitu, rambutnya bakal nyangkut di bantal seharian dan Bos Lucas bakal tau bukan cuma kebiasaan buruknya tapi juga soal dia nyolong. Mau gak mau, Laurel gak percaya dia tau apa yang dia lakuin. Kalo beneran tau, kenapa dia gak ngehentiin atau hukum dia atau gimana gitu?!
Dia tau Bos Lucas gak suka pembangkangan. Dia orang yang patuh aturan dan Laurel gak peduli. Dia cuma peduli sama perutnya.
Dia menggerutu pahit sambil berusaha sekuat tenaga buat ngilangin sisa-sisa cokelat yang udah kering dari rambutnya. Dia keluar setelah beberapa menit yang menyakitkan narik-narik rambutnya, keliatan menang cuma buat senyumnya langsung pudar pas dia liat kamarnya.
Laurel benci ngebersihin dan nyuci baju. Siapapun yang liat dia sekarang bakal mikir dia khawatir tentang hal penting. Mereka gak bakal tau dia khawatir gimana caranya ngebersihin kamar.
Gak lama lagi, semut dan serangga menjijikkan lainnya bakal memenuhi kamar. Laurel bergidik jijik. Dia dengan enggan ngambil sprei cokelat. Dia bertanya-tanya apa Lucas punya mesin cuci atau ngelakuinnya cara kuno kayak kakaknya.
Kakaknya! Laurel tersentak, ngejatuhin spreinya. Dia sama sekali lupa tentang Antonia pas khawatir gimana caranya kabur, Matteo dan Ace. Orang pertama yang harus dia khawatirin adalah kakaknya. Sekarang, mana hapenya?
Laurel ninggalin kamarnya yang kotor. Dia perlu ngomong sama Antonia. Kalo dia kenal baik kakaknya, dia ngerti kalo kakaknya tipe yang khawatir sama dia. Mereka udah berbulan-bulan gak ngobrol tapi begitu mereka ngobrol, Antonia gak pernah berenti ngatur-ngatur dia. Dia harusnya khawatir sih... pikir Laurel sambil ngebuka pintu.
Dia lari turun tangga cuma buat ketemu sama pemandangan yang dia harap, demi apapun, gak pernah dia liat. Mereka ada di sana, seorang pria dan wanita, lagi ciuman di sofa ruang tamu. Mereka dengan rakus ngerobek baju mereka cuma buat nyediain ruang buat diri mereka sendiri.
Laurel teriak kaget. Sesaat dia pikir itu Lucas.
Pasangan itu berhenti buat natap gangguan kasar mereka dengan bosan.
Laurel gemetar karena tatapan intens mereka. Pria itu punya ekspresi geli di wajahnya sementara wanita itu ngeliatin dia dengan penasaran. Mereka berdua pake pakaian warna-warni dan gak mungkin kelewatan, karena rumah Lucas dicat putih dan abu-abu.
Kontrasnya... Laurel gak tau mau ngomong apa. Siapa pasangan aneh yang gak punya malu ini? Mereka bahkan gak keliatan malu karena nyoba nutupin bagian tubuh mereka yang terbuka. Mereka berdua natap dia kayak dia gila dan Laurel mulai bertanya-tanya siapa yang gila di sini.
"Tau gak, awalnya aku pikir dia bakal berpakaian sempurna," wanita itu berbisik ke pria tampan di sampingnya. Dia punya semacam aksen aneh. Entah gimana dia kedengeran Yunani dan Italia. Kombinasi terburuk dan sama sekali gak seksi.
Laurel gak pernah berharap seseorang berenti senyum. Dia punya ekspresi geli permanen di wajahnya dan apa yang lucu?!
Dan itu bukan bisikan! Laurel bisa denger dengan jelas.
"Aku bilang padamu sayang, aku gak tau apa yang dia pikirkan dengan membawa dia ke sini," pria itu bergumam pelan. Jelas bahwa 'dia' yang mereka sebutkan adalah Lucas.
"Aku bisa taruhan dua ciuman kalo dia suka dia ada di sini," wanita itu berbisik menggoda.
Laurel pengen muntah. Dua ciuman?! Gimana dengan yang udah kamu dapetin tadi?! Dia mutusin dia udah cukup. Semua orang yang dia temuin di rumah ini gila. Orang yang agak normal cuma Luciana dan gadis muda itu gak sepenuhnya normal. Gimana dia bisa nemuin saudaranya di malam hari dan nerima tamparan yang keras tanpa berkedip atau meneteskan air mata?
Mengejutkan karena Laurel tau dia bakal nangis kejer kalo dia yang kena. Dia gak akan pernah ada di posisi itu sih. Laurel mengangkat bahu. Pikirannya gak nyaranin mungkin Luciana pasti udah ngelakuin sesuatu yang menyinggung Lucas.
Bisa jadi.
"Oke, dengerin sini kalian burung cinta. Aku gak peduli sama taruhan sampah yang kalian punya atau bakal punya. Yang aku peduliin adalah kalian berdua bawa 'aksi' kalian ke kamar tidur."
"Dan kenapa kita harus gitu? Kamu yang ngisi satu-satunya kamar tamu di rumah."