Bab 22.
'Negosiasi yang bagus, kayak bayi beneran.' Sebastian, si rambut merah, meniru suara bayi Ace. Kedengarannya kayak tangisan tikus mati di telinga Lucas, dan dia tergoda buat ngusir orang itu dari ruang tamunya.
Ace memutar bola matanya karena bosan saat orang-orang itu cekikikan. Dia gak tersinggung, malah merasa lega. Rasanya kayak sesuatu yang belum pernah dia rasain atau liat sebelumnya; ikatan antara orang-orang itu dan semua yang ada di antaranya.
'Sebastian!' Lucas mengaum marah, dan seketika, senyum di wajah mereka hilang. Waktu main udah selesai.
'Gimana kalo dia biarin dirinya ketangkep? Dia bisa terlibat dalam hal ini. Kamu harus hati-hati, Bos.' Suara marah dan cemas memenuhi ruangan. Beberapa dari mereka punya keluarga. Mereka punya istri dan anak yang harus diberi makan. Mereka gak mau bos mereka percaya sama anak itu begitu aja.
'Diam!' Suara Lucas bergema di sekitar ruangan. Itu adalah ruangan yang dia dan Silas pilih buat rapat darurat mereka. Ruangan pertama yang mereka pilih ada di gudang. Berkat kerja keras Luis dan krunya, sekarang mereka tahu kenapa pengirimannya kurang. Tempat kedua yang mereka pilih ada di klub. Seharusnya bukan tempat permanen mereka, tapi Luis bikin kesalahan dan Laurel kena hukuman.
Akhirnya, Kasino Lucas jadi pilihan terakhir. Lucas udah nerima. Dibangun di ujung terjauh kompleks, punya jendela tinggi, dan kedap suara. Sempurna buat rapat mereka.
Lucas udah nyuruh buat meredupkan lampu di ruangan. Cukup buat liat wajah semua orang, tapi dari kejauhan kamu gak bakal kenal siapa aja. Itu rencana yang bagus dan bikin gak suka semua penyusup. Dia atau dia bakal langsung ketahuan dalam beberapa detik.
Anak itu udah ngajuin permintaannya. Giliran Lucas. 'Ini yang kamu tawarin ke dia?'
Ace tersentak di kursinya. Pertanyaan yang ditanyain orang yang bikin dia gak nyaman ini bikin gak enak. Dia menyipitkan matanya ke lambang warna-warni yang dipasang sebagai pin di sisi kanan jas mahal itu. Ace menggigit bibir bawahnya dalam-dalam sambil berusaha mengingat di mana dia pernah liat lambang kayak gitu. Terus matanya melebar karena mengenali. Dia bikin keputusan.
Ini adalah bos yang diperintah buat menguping. Dia adalah bos dari semua bos. Ace tahu siapa yang harus dia takuti lebih. Gak ada orang lain yang lebih dingin dari satu-satunya Lucas Dante. Dia adalah salah satu orang terkaya di distrik itu dan ada rumor dia adalah gembong narkoba mafia.
Terakhir kali dia pergi menjalankan misi buat menguping grup ini, dia pernah liat rambut merah. Gak mungkin kelewatan, dan dia pernah liat anak laki-laki kayak dia. Mungkin beberapa tahun lebih tua atau lebih muda. Mereka semua berdiri di depan pria berjas abu-abu.
Ace udah berusaha sekuat tenaga buat liat wajahnya, tapi dia gak bisa. Dia cuma bisa liat punggung pria itu. Posturnya bagus dan auranya memerintah.
Terus dia liat lambangnya. Warnanya begitu indah dan mencolok di antara yang lain.
Ini bosnya. Pria yang pernah dia liat. Dia diingetin jangan sampai ketangkep atau dia bakal dibunuh bosnya. Sang Bos gak pernah mentolerir pengkhianat.
Ace mikir itu semua cuma rumor dan gak kepikiran buat ngerasa serius sama peringatan itu.
Pas dia liat pria asing di lift, dia jadi takut. Dia mikir tetangganya; Laurel, disandera dan dia udah nunjukin apartemennya. Yah, dia salah mikir.
Begitu dia buka pintu yang mengarah ke jalanan, dia nemuin anak laki-laki itu. Yang pernah dia liat beberapa hari lalu. Dia ternyata kuat dan lagi buru-buru. Sepertinya dia punya urusan lain.
Dia inget banget gimana dia dipindahin di antara tubuh yang berkeringat, dibekap, dan dilempar ke bagasi mobil. Pengalaman yang Ace gak mau alamin lagi.
Sekarang, dia lagi natap mata predator. Dia bisa ngerti kenapa dia jadi orang nomor satu. Matanya memancarkan sedikit nakal. Tubuhnya santai. Posturnya aneh, tapi itu bilang ke Ace bahwa pria itu siap buat bernegosiasi dan dia ada di ujung penerima.
Dia lagi di kursi panas.
Bahu Ace merosot karena kalah. 'Gue udah coba nego sama dia. Dia ngasih gue apa yang dia pikir pantas gue dapet. Kayak yang bisa lo liat, dia gak nawarin gue perlindungan.'
Lucas mengangguk. 'Gue tahu tentang ibumu yang sakit. Kita udah mempertimbangkan tagihan rumah sakitnya. Kamu di bawah perawatan kita sekarang, selama kamu setuju buat ngelakuin apa pun yang kita minta.'
'Gimana gue tahu lo gak mau nge-prank gue?' tantang Ace. Dia hampir lupa sama siapa dia ngomong, tapi kamu gak bisa ngilangin kebiasaan dari jalanan.
'Kamu gak pernah tahu. Lagian, ibumu udah nerima perawatan kan? Apa kamu mikir itu kerjaan bosmu?'
Ace gak mikir gitu. Yang dia tahu, dia jenguk ibunya siang tadi dan nemuin ibunya lagi dirawat. Dia bahkan gak diizinin buat ketemu ibunya karena pakaiannya kotor! Ace menghela napas. Dia lagi mau ngucapin makasih ke bosnya pas dia ketangkep.
Seharusnya dia tahu bosnya gak begitu murah hati. 'Gue gak mikir gitu.' Dia mengangkat bahu. 'Makasih, deh.'
Sebastian udah pengen banget nampar ke-kurang-ajar-an anak itu. Jelas banget buat dia kalo anak itu makin nyaman. Salahin aja bosnya. Mana bos yang keras yang dia kenal? Dia ada di sana, tapi Sebastian bisa liat sedikit rasa nyaman.
Cuma ada satu orang yang bisa bikin dia balik jadi dirinya yang dulu.
Silas.