Bab 161.
Lucas nonton dengan geli. "Kayaknya lo lagi nguping deh..."
Trisha kaget. "Kok lo tau sih?"
Lucas senyum. "Denger ya, sebelum gue dateng ke sini, gue udah cek sekelilingnya. Anak buah gue udah tau lo ada di sekitar sini, makanya gue suruh salah satu dari mereka buat ngejaga pintu. Dia ngeliat lo dateng, terus dia ngasih tau yang ini." Lucas nunjuk cowok yang berdiri di sampingnya dengan seringai jahat di wajahnya. "Dan yang ini ngasih tau gue. Itu sebelum orang tolol ini milih buat teriak nama lo kayak orang gila."
"Gak mungkin." Rocco ngomel.
Setengah jam yang lalu, Lucas masih berusaha buat dapetin info dari Rocco pas pengawal pribadinya ngasih kode yang dia tunggu-tunggu. Artinya ada orang berbahaya di gedung ini. Cuma satu yang gak mereka siapin, yaitu Rocco teriak sekenceng-kencengnya sampai semua orang harus nyelamatin dia.
Sekarang keadaan berbalik, dan wah, dia masuknya dramatis banget.
"Gue tau lo nyuruh dia buat nemenin Antonia dan sama kayak yang dia lakuin, dia ngejauhin lo." kata Lucas sambil senyum mengejek.
"Lo siapa?" tanya Trisha. Dia mikir gimana cowok ini bisa tau segalanya. Dia mikir kayaknya dia pernah liat cowok ini... ah! Itu di lab penelitian. Dia cowok ganteng yang dikelilingi pengawal. Pasti dia bos di sini. Trisha celingak-celinguk penasaran.
"Panggil gue Bos Lucas." Lucas cuma mengangkat bahu, menghadap Rocco yang masih bingung. "Er... cewek yang lo sewa buat ngejaga lo punya dendam sama lo. Dia jadi suka sama nyonya yang dia suruh jaga. Dia jadi tau ketakutan dan kelemahan nyonya itu. Terus dia sadar kalau kelemahan nyonya itu adalah lo. Dia dateng buat ngobrol seru sama lo."
"Apa, apa yang lo omongin?" Rocco gagap sementara Trisha melangkah mantap ke arahnya. "Lo harusnya nyelametin gue, bukan ngelakuin apa yang dia suruh!"
Trisha berhenti. "Gue kenal lambang itu." Dia nunjuk lambang di atas saku dada Lucas. "Lo Bos dari Segala Bos. Lo Bos dari Segala Bos, Lucas Dante, anak dari mendiang Lorenzo Dante dan Isabella Dante." Dia menyeringai penuh kemenangan.
Lucas tertawa terbahak-bahak. Dia menepuk bahu anak buahnya keras-keras. Sakit sih, tapi mereka gak berkutik. "Tuh kan? Gue udah suka sama dia. Kayaknya lo rajin baca berita deh."
"Lo beneran tau segalanya gitu?" tanya Trisha dengan nada mengejek. Jelas dia hormat sama cowok ini, tapi itu gak bakal bikin dia berhenti bersikap gak sopan.
Anak buah Lucas mau menegur dia, tapi Lucas mengangkat tangan kanannya buat minta diam. "Gue gak bakal ganggu lo karena lo udah lindungin Antonia. Gue denger dia hampir diracun."
"Lo ada hubungan sama Antonia? Siapa dia buat lo?" tanya Trisha berani.
"Calon ipar gue. Udah deh, cukup basa-basinya. Gue punya tawaran bisnis buat lo."
Trisha ngangguk. "Gue dengerin."
Saat itulah Rocco tau dia gak bakal lolos hidup-hidup dari sini. Harusnya dia gak bawa cewek yang udah lindungin anaknya. Lihat gimana semuanya jadi bumerang buat dia...
Rocco ambruk sebelum mereka selesai mutusin apa yang bakal mereka lakuin ke dia.
Dia meninggal tanpa bener-bener bayar dosa-dosanya. Dia meninggal karena patah hati.
....
"Kenapa sih, ngomong baik-baik gak pernah berhasil sama penjahat?" Salah satu cowok itu nanya sambil mereka menyeret mayat Rocco keluar dari gudang. Mereka coba buat resusitasi dia, tapi Lucas udah nyatain dia meninggal setelah serangkaian pengecekan denyut nadinya. Secara teknis sih mereka gak ngapa-ngapain dia. Dia milih buat mati sendiri.
"Gue rasa karena mereka gak tau apa itu arti pengertian." jawab cowok kedua.
Saat mereka lagi diskusi soal kematian Rocco, pikiran Lucas melayang ke Laurel. Dia berbalik ngeliat cewek yang jalan di sampingnya. Sesuatu bilang ke dia kalau dia bisa percaya sama dia kalau dia mau. "Kerja buat gue." Itu bukan permintaan, tapi perintah.
Trisha bukan tipe orang yang mau ngalah dalam pertempuran dominasi. "Gak."
Lucas mengangkat alis. "Gue gak nanya."
"..." Trisha menggantungkan kalimatnya. Terus dia nyerah. "Lo mau gue ngapain?"
"Gue mau lo lindungin seseorang yang deket sama gue."
"Gue bakal lakuin itu dari bayang-bayang. Gue gak mau keliatan." Trisha menggelengkan kepala.
Lucas mengangkat bahu. "Kalau itu yang lo mau, siapa gue buat nolak?" Cowok-cowok itu tiba-tiba berhenti. "Urus ini. Kremasi mayatnya dan bawa abunya ke...." Dia berharap dia bakal nyelesaiinnya karena dia ngaku tau banyak tentang dia.
Trisha memutar bola matanya ke langit-langit. Dia masih kaget kalau mereka masih nempel sama dia. "Ke New York." Dia berbalik, menyeret mayat itu dengan satu tangan.
"Dia kuat, gue akuin." Kata pengawal kedua dengan tatapan mata yang berbinar. Yang pertama menangkap tatapannya dengan ekspresi geli.
"Gue gak bakal kesana kalau jadi lo." Kata yang pertama. "Tapi dia pinter..." dia nambahin dengan nada kagum. Dia juga ngeliatin dia menyeret mayat kayak gak ada apa-apanya. "Sebenernya seberapa kuat sih dia?" Dia lanjut.
Lucas menaruh tangannya di leher mereka berdua, meremasnya cukup keras buat bikin mereka sadar. Ini gangguan, dan ini kenapa dia gak pernah bawa siapa pun dalam perjalanan kayak gini, kecuali Cecil, Silas atau Luis, bahkan Sebastian. Mereka tau tugasnya, lakuinnya tanpa ragu. Ngobrol santai itu gangguan.
"Kalian berdua siapin barang-barang gue. Kita balik. Misi gue selesai di sini." kata Lucas, melepaskan cengkeramannya di leher mereka.
"Aduh.." Mereka berdua bilang serempak.
Lucas berbalik ke arah mereka. "Siapa nama kalian?"
"James." Jawab yang kedua.
"Terrence." Jawab yang pertama. "Tapi Bos, apa kita dateng jauh-jauh ke Korea cuma buat gak dapet apa-apa? Cuma buat nakut-nakutin orang tua?"