Bab 113.
Itu adalah salah satu dari momen-momen lucas suka banget denger namanya disebut dari mulut dia.
"Gue kasih kesempatan buat lo pergi dari sini."
"Lo bilang lo bakal kasih gue kesempatan suatu hari nanti-"
"Oke, lo mau pergi aja?"
Laurel gigit bibir bawahnya. Dia bisa coba-coba nasib dan lihat apa tawarannya beneran. Gak ada salahnya nyoba lagi, kan? "Gue mau."
Tentu aja dia nolak dengan keras sambil geleng kepala. Laurel nyerah, pundaknya merosot. "Lo bilang ini semua salah paham dan gue gak seharusnya ada di sana. Karena gue udah mau jadi permanen, lo bisa coba gue."
Lucas narik napas dan buang napas. Dia gak tau kenapa dia susah banget jelasin ke dia. Karena dia emang gak pernah harus jelasin diri sendiri sebelumnya. Ini bakal jadi yang pertama; dia bahkan gak bisa natap mata dia.
"Apa ini yang gue rasain? Malu-malu kucing?" Laurel ngeledek tanpa ampun. "Lo harus belajar buat gak semua bos-bosan sama gue."
Lucas berdeham buat ngilangin semua rasa malunya. "Kita punya aturan di bisnis ini. Kita bunuh pengkhianat. Kita gak kasih ampun."
Laurel meringis. "Jadi lo bilang lo bunuh dia karena dia pengkhianat? Gimana dengan cowok yang gue temuin diikat dan dibekap juga?"
"Hampir sama aja." lucas mengangkat bahu, berusaha inget siapa yang dia omongin. Karena ada banyak banget yang kayak gitu, dia gak bisa inget persis siapa yang dia omongin. "Kayak yang gue bilang, lo ada di tempat yang salah di waktu yang tepat."
"Gimana caranya?"
"Luis gak ada niat buat nyakitin lo. Gue minta dia nyamar buat cari tau apa yang direncanain bos lo. Dia jadi temen lo di tengah jalan dan lo jadi terlibat dalam semua omong kosong ini." Lucas jelasin.
Kata-kata yang keluar dari mulutnya yang bikin Laurel terpesona. Kenapa dia gak sering ngomong kayak sekarang?
"Lo keren banget.." Laurel bilang sambil melamun dan tiba-tiba aja.
Lucas kaget. "Lo punya bakat gak ngerasain sakit atau gimana? Kenapa hal-hal yang gue omongin atau lakuin gak pernah bikin lo kaget?"
Laurel menggigil inget hari dia diculik. Ketakutan dan semuanya. "Dulu sih iya, kaget."
Lucas ketawa kecil. "Ya, pengennya gue dokumentasi hari itu." Dia suka banget cara dia bereaksi terhadap semua yang dia omongin hari itu. Mereka berdua orang asing tapi liat sekarang, duduk berdampingan, saling natap mata. Lucas senyum waktu dia liat telinga merahnya. Dia jelek banget nyembunyiinnya.
"Kematian seorang pengkhianat gak ganggu gue. Tapi sebelum lo ambil nyawa lagi, coba pertimbangin cara lain. Selalu ada cara buat hukum mereka dan kalo lo ajarin gue cara lo, gue bisa ajarin lo cara gue." Laurel nawarin.
"Lo mau ngapain?" Suaranya makin pelan waktu Laurel maju.
"Gue mau tau semua tentang mafia. Gak ada lagi rahasia."
"Gue gak bakal kasih tau apa-apa kalo lo gak minta."
"Berarti lo gak percaya gue sebanyak gue percaya lo sekarang."
Lucas seneng banget denger itu. "Lo bilang lo percaya gue sekarang?"
Dia mengangkat bahu, meluk dirinya sendiri. "Kita liat aja nanti."
Itu artinya iya. Lucas sadar waktu dia maju buat nangkep bibir dia. Tujuan kencan mereka hancur dan sesuatu yang baru muncul.
Mereka gak ngaku saling cinta. Tapi satu hal yang pasti. Lucas dan Laurel gak bisa pisah sehari pun.
…
Antonia ngelempar gelas dari meja, puas waktu dia denger suara pecahnya yang familiar. Dia gak peduli orang-orang liatin.
Sanders ngangkat kepalanya waktu denger suara tiba-tiba itu. "Apa?" dia bergumam gak jelas.
"Ayo kita keluar dari sini." Antonia ngumumain sambil liat ke sekelilingnya. Siapa yang mau meracuni dia di malam kekecewaannya? Mereka pasti berhasil kalo Trisha gak ada di sini. Dia masih natap dia curiga. "Begitu kita keluar dari sini, gue mau lo kasih tau siapa yang nyuruh lo."
Trisha ngangguk patuh. "Tapi pertama, kita harus anter dia pulang,. Dia udah mabok dan kasihan banget kalo ninggalin dia di sini atau bawa dia balik ke kantor."
Antonia menghela napas, gak suka cara cewek ini ngatur dia. Sopan santunnya kayak perintah buat dia terima karena gak ada pilihan lain.
Mereka baru aja selesai sama sanders yang mabok berat yang goyang karena dia gak bisa berdiri tegak.
Dua cewek pake baju malam lari keluar dari gerbang hostel buat ngambil dia. Antonia gak protes waktu dia kasih temennya ke cewek-cewek itu.
Jelas banget mereka gak suka dia karena mereka bahkan gak mau natap matanya atau nyapa dia kayak biasanya. Lucu gimana gosip menyebar atas nama dia.
"Akhirnya." Antonia menghela napas waktu dia liatin cewek-cewek itu menghilang di lorong.
"Ayo jalan, gak aman. Kita bisa ke rumah lo."
Gak mungkin Antonia biarin orang asing tau di mana dia tinggal. "Kita ngobrol di mobil." Dia jawab dengan nada akhir. Itu gak nyisain ruang buat pembangkangan.
Gak ada omongan sampe Antonia parkir dengan aman di bawah pohon.
"Gue butuh detail dan gak ada yang ketinggalan." Dia nuntut.
"Beberapa orang gak mau lo dapet informasi penting tentang para tahanan dan demi keamanan lo, gue ditugasin buat jaga lo aman. Kalo ada tempat yang lo rasa mau istirahat, gue bisa rekomendasiin Amerika Serikat buat lo."
"Bokap gue yang nyuruh lo? Karena dia suka banget ngerencanain hal-hal baru sekarang dan nanti cuma buat bikin gue kesel." Antonia ngomel.
"Bokap lo terlibat dalam beberapa urusan kotor dan dia butuh lo aman."