Bab 155
Derek berlutut di samping kaki Bertha, nadanya agak menjilat dan menyedihkan. 'Bertha, gue salah, gue nggak bermaksud bohongin lo.'
Dulu, waktu dia pake nada kayak gini, meski Bertha tau dia cuma akting, dia tetep nggak bakal bongkar.
Hari ini, ngeliat dia kayak gitu, dia cuma ngerasa jijik, amarah di hatinya hampir membakar semua akal sehat.
Dia mencoba mengendalikan emosinya, suaranya bertanya dingin. 'Lo manfaatin cedera buat bohongin gue, cuma karena lo pengen bawa dia pergi?'
Derek kaget.
Bener aja, dia tau kalau dia udah bawa Noa pergi.
'Lo udah tau?'
Derek juga nggak ada niat buat nyembunyiin. 'Maaf, gue cuma ngerasa dia nggak pantes buat lo.'
Derek dengan gampangnya ngaku.
Dia ngaku kalau selama ini dia bohongin dia.
'Maksud lo dia nggak pantes buat gue?' Bertha mengepalkan tinjunya, mengendalikan amarah di hatinya, dan berkata sambil tersenyum dingin. 'Derek, lo lucu banget, maksud lo dia nggak pantas gue ajarin? Jadi lo pengen bawa dia ke tempat yang jauh, tempat yang nggak bakal gue liat?'
Derek ngerasa ada yang aneh dari kata-katanya.
Tapi dia nggak tau di mana letak keanehannya, karena emang itu yang dia maksud.
Bertha ngeliatin dia. Dia kesel dan nggak ngomong. Dia mengendalikan amarahnya dan bertanya. 'Di mana orang itu?'
Derek tetep nggak ngomong sepatah kata pun.
Dia nyerahin urusan ini ke Liam buat bawa Noa ke kapal, nggak tau kapal itu pergi ke negara mana.
Dia menggeleng jujur.
Dia mikir dia ngomong yang bener, tapi Bertha nggak mikir gitu.
Diam adalah bentuk protes yang tak terucap.
Bertha sekali lagi sabar, dia ngeliat sekeliling ke laki-laki yang berlutut di samping kakinya. 'Derek, lo ngerti gue ini siapa, kan? Gue nggak peduli lo nyembunyiin apa. Nggak peduli seberapa sombongnya lo di luar, di vila ini, lo cuma pembantu gue, lo harus dengerin gue. Kalo peliharaan nggak nurut, dia harus dihukum, apalagi lo manusia, gimana menurut lo?'
Dia mengangkat dagunya, matanya sedingin ngeliatin peliharaan yang nggak nurut.
'Gue tanya lagi, di mana orang itu?'
Derek ngangkat kepalanya, menghadapnya.
Ngeliat matanya yang dingin, tiba-tiba dia ngerasa nggak nyaman banget.
Maksudnya dia bakal hukum dia, gara-gara Noa?
Jadi, dia emang suka sama Noa?
Derek ngerasa hatinya sakit banget.
'Gue nggak tau.' Matanya merah, ngeliatin dia dengan intens. 'Lo suka banget sama dia, gara-gara urusan dia, lo pengen hukum gue? Gue cuma ngejar dia pergi. Gue juga nggak nyakitin dia.'
Setelah Bertha denger ini, dia senyum.
Ini pertama kalinya dia ketemu orang yang keras kepala kayak gini, dia bahkan pura-pura di depannya.
'Derek, lo suka sama dia. Gimana bisa lo sekejam itu nyakitin dia? Di depan gue, lo akting lama banget, nggak enek apa?'
Akting apaan?
Derek bingung sama kata-katanya.
Gimana bisa dia suka sama Noa? Apa dia gila?
'Gue cuma suka cewek. Apalagi cewek yang ada di depan gue sekarang, gue suka sama lo. Selama ini, semua yang gue lakuin tulus, nggak lo liat?'
Dia berlutut dan ngeliatin Bertha, tapi waktu dia teriak kalimat ini, auranya garang banget, nggak lemah sama sekali.
Bertha kagum sama kemampuannya ngomong ngaco.
Dia udah nggak sabar lagi buat terus dengerin dia ngomong ngaco, dia berdiri dan pergi ke jendela.
Di luar jendela, hujan masih deras, suara hujan yang ngehantam atap dan lempengan batu sangat keras.
Kerasnya sama kayak laki-laki yang ngomong di dalam ruangan.
Dia menyipitkan matanya, marah. 'Hujan malam ini indah banget. Kalo lo nggak mau ngomong, berlutut di taman bunga, nikmatin hujannya, tunggu sampe lo ngomong yang bener, baru masuk.'
'Apa?'
Nafas Derek berhenti, dia berlutut di taman bunga, yang berarti semua pengawal bakal ngeliat dia.
Apa dia nginjek-injek harga dirinya gara-gara Noa?
Bertha ngeliat dengan bodohnya saat titik-titik hujan di luar jendela terbagi menjadi garis panjang dan sempit. 'Nyonya Victoria nuduh gue nyuri perhiasannya, lo inget nggak? Walaupun Rose udah bayar semua utangnya, dia cuma berlutut kurang dari setengah jam, beda waktunya jauh banget, jadi lo harus berlutut yang cukup.'
Ngomongin ini, Derek selalu ngerasa bersalah di hatinya.
'Oke.'
Dia berdiri. 'Tapi gue berlutut karena gue berutang sama lo. Keluarga Tibble berutang sama lo, jadi gue bayar, bukan karena gue salah. Bahkan kalo waktu bisa balik lagi, gue tetep bakal bawa dia.'
Kata-kata ini bikin amarah Bertha mencapai batasnya.
Dia marah. 'Pergi sana.'
Derek berdiri tegak, dia mutusin buat keluar.
Bertha tetep berdiri di jendela, ngeliat ke luar.
Derek jalan ke posisi di depan jendelanya di taman. Dia berlutut di atas batu biru tanpa ragu, wajahnya nggak sombong lagi.
Hujan deras bercampur angin dingin bikin seluruh tubuhnya basah. Setiap kali hujan jatuh di bahu dan kepalanya, dia ngerasa sakit seolah ada yang mukul dia pake cambuk rotan.
Dia mencoba ngangkat kepalanya, ngeliatin ke jendela lantai tiga, bulu mata panjangnya yang melengkung tertutup tetesan air, bikin penglihatannya agak kabur.
Jendela tempat Bertha berdiri menyala, dia berdiri tepat di samping jendela.
Karena ada cahaya dari belakang, Derek nggak bisa liat ekspresinya dengan jelas, tapi dia ngerasa kayak dia ngeliatin dia, tapi matanya dingin, tanpa sedikit pun kehangatan, bahkan lebih dingin dari hujan pertama musim ini.
Dia udah nerima hukumannya, jadi apa ini bakal terjadi lagi di masa depan?
Apa mereka masih bisa balik ke waktu yang damai kayak tadi malam?
Derek berlutut dengan lesu, pikirannya melayang.
Lututnya sakit banget, dia mulai ngerasain lututnya kaku, Derek tanpa sadar merosotkan bahunya, punggungnya rileks jadi dua bagian.
Lempengan batu biru itu nggak rata, nusuk lututnya kayak ribuan jarum menusuk kakinya.
Dia tiba-tiba inget waktu Bertha dari keluarga Tibble juga berlutut kayak gini.
Apa dia ngerasa nggak berdaya dan sakit kayak gini sebelumnya?
Begitu dia mikir kayak gini, dia nggak ngerasa nggak nyaman lagi di hatinya.
Ini adalah jalan di keluarga Tibble yang biasa dia lalui, sekarang, dia balikin semuanya ke dia.