Bab 102
Orang itu ngeliatin temen-temennya yang berdiri di belakang lagi, terus lanjut ngomong.
"Kayaknya kalian juga siap-siap keluar gunung, atau kita barengan aja? Jadi kita bisa lebih banyak orang yang jagain kita?"
Dibanding antusiasnya orang ini, Derek keliatan dingin banget.
Dia ngelirik tujuh atau delapan cowok di belakang orang yang pake kemeja kotak-kotak itu.
Instingnya langsung bilang buat waspada sama orang asing yang tiba-tiba muncul ini.
Geng mereka bilang lagi jalan-jalan terus kehilangan koper, tapi noda di baju mereka masih baru banget, beda sama yang udah nggak dicuci atau ganti baju selama beberapa hari, kayak sengaja dikotorin.
Meskipun keliatan capek, mata mereka bersinar, nggak kayak orang yang kelaperan berhari-hari.
Dia naikin alisnya, ekspresinya serius.
Geng orang ini nggak biasa.
Temen-temen Derek berdiri di sampingnya, mereka langsung sadar sama ekspresinya dan mulai siap-siap.
Derek nyengir dan ngejawab. "Nggak perlu temenan, kita nggak sejalan."
Dia mau pergi.
"Emang mau pada kemana? Kan enak temenan sama orang lain."
Orang yang pake kemeja kotak-kotak itu masih semangat kayak tadi, dia maju selangkah dan mau nepuk bahu Derek.
Tapi sebelum dia bisa nyentuh, tangan Derek udah dipegang erat.
Suasana di kedua sisi tiba-tiba jadi nggak enak.
Derek megangin dia erat-erat pake satu tangan, tangan Derek yang lain masuk ke kantongnya.
Orang itu hati-hati megangin erat, tapi gagang pisaunya keliatan.
Derek nyindir, matanya dingin. "Pisau baru gini, gue rasa bukan cuma buat jalan-jalan, siapa yang nyuruh lo ke sini?"
Dia ngeliat orang itu udah ketahuan, orang itu nggak pura-pura lagi, mukanya jahat.
"Kalo lo udah tau, jangan mikir bisa balik hidup-hidup."
Selesai ngomong, dia ngeluarin pisau dan nusuk Derek.
Derek buru-buru menghindar, dan mereka berdua langsung berantem.
Yang lain ngeliat ini juga langsung nyerbu.
Dua kelompok orang berantem di sana, suasananya kacau banget.
—
Nyonya Victoria pulang, dan setelah susah payah nenangin diri, dia pergi ke kantor dan nelpon Zillah.
Zillah baru aja sampe di depan pintu kantor presiden waktu secangkir kopi tiba-tiba jatuh di deket kakinya.
Dia denger tentang Tibble Corporation yang gagal dalam kompetisi penawaran, jadi dia senyum dan jalan di belakang Nyonya Victoria, dia bantuin mijetin pelipisnya.
"Nggak usah marah, nggak bagus buat kesehatan."
Nyonya Victoria pusing, dia nutup mata, nikmatin pijetan Zillah, dan dia balik moodnya.
Zillah lanjut ngomong. "Saya udah nyelidiki real estate Novaland. Awalnya itu perusahaan kecil yang mau bangkrut, tapi beberapa hari lalu saya nggak tau kenapa pulih lagi. Kali ini mereka menang tanah di kota Y, dalangnya nggak sesederhana itu."
Nyonya Victoria buka matanya dan megang tangannya sayang.
"Kalo gitu saya minta kamu buat nyelidiki masalah ini. Tolong selidiki pemilik di balik perusahaan real estate ini dan, kalo bisa, tawarkan gaji yang lebih tinggi buat gabung di grup Tibble, asalkan mereka nyerahin tanah di kota Y."
Zillah mengerutkan dahi. "Tapi mereka pemilik perusahaan, gimana bisa mereka setuju buat kerja di Grup Tibble?"
Nyonya Victoria diem.
"Kalo nggak ada untungnya buat Grup Tibble, usir aja seluruh perusahaan itu dari kota X."
"Iya nyonya, tapi…" Zillah tiba-tiba berhenti, ekspresinya rumit.
"Ada apa?"
"Sekarang posisi saya di Grup Tibble terlalu rendah, banyak orang nggak percaya dan dengerin saya, kalo begini terus, saya nggak bisa bantu banyak."
Nyonya Victoria dengan murah hati melambaikan tangannya dan berkata. "Departemen mana yang mau kamu kerjain, saya setuju."
Zillah seneng. "Makasih."
Keluar dari kantor presiden, Zillah langsung pergi ke departemen yang bersangkutan buat nyerahin kerjaan.
Kali ini dia mau departemen sumber daya manusia dan departemen keuangan.
Setiap kali dia tau batasan, dia nggak minta banyak jadi dia nggak bakal ngapa-ngapain yang bikin Nyonya Victoria curiga.
Tapi departemen sumber daya manusia sangat nyaman buat dia buat kirim orang-orangnya di belakang, dan departemen keuangan adalah nadi dari seluruh perusahaan.
Dengan keduanya di tangan, cuma masalah waktu sebelum Tibble Corporation jadi mainan di tangannya.
Nunggu dia punya Tibble Group juga berarti dia punya banyak kekuatan dan pengaruh.
Orang pertama yang perlu dia urus adalah Bertha, jalang itu bikin dia jadi bahan tertawaan di upacara pembukaan rumah Greer.
Mikir gitu, Zillah seneng banget.
Tapi dia nggak seneng dan bangga, dia masih harus ngerjain tugas yang udah diatur Nyonya Victoria.
Jadi dia mutusin buat diam-diam ngatur mata-mata di perusahaan real estate Novaland buat ngecek situasi di sana.
—
Bertha lagi duduk dan ngurus kerjaan di kantor Angle waktu dia tiba-tiba dapet telpon dari Allison.
"Ada apa?"
Suara Allison serius. "Bos, ada berita dari Grup Tibble."
"Ngomong."
"Nyonya Victoria udah nugasin lima departemen termasuk sumber daya manusia dan keuangan ke Zillah."
Bertha ketawa dan geleng-geleng kepala.
Bahkan departemen keuangan yang Nyonya Victoria juga berani kasih orang luar buat ngatur, betapa gegabahnya Nyonya Victoria?
Kayaknya bentar lagi, Grup Tibble bakal bangkrut di tangan Nyonya Victoria, semuanya punya Zillah.
Ini bikin dia seneng. Dia bilang ke Allison di ujung telepon.
"Suruh orang buat mantau Zillah. Kalo dia ngambil tindakan apa pun, kabarin gue langsung. Selain itu, kalo Grup Tibble diem-diem jual pasar saham di belakang dia, beli semua, nggak peduli harganya."
"Siap."
Setelah Allison dapet tugasnya, dia buru-buru pergi buat ngatur.
Satu jam kemudian, Bertha dapet telpon lagi.
"Lo bener. Emang, Zillah langsung bertindak. Di antara orang yang daftar buat real estate Novaland, ada orang dengan latar belakang yang mencurigakan banget."