Bab 189
Bruno bilang. "Bertha, ini urusan cowok."
Bertha mendengus dingin, nyilangin tangan terus nyender di sofa. Mukanya dingin, sombong, nadanya juga kejam.
"Kalian berdua nggak peduli sama nyawa, ya udah, gue nggak bakal ngelarang. Coba aja, biar gue liat siapa yang kalah."
Anak buah Bruno pada bengong.
'Emang lo nggak mau nyuruh mereka buat nggak gitu?'
Ekspresi Bertha datar, kayak lagi nonton drama.
Bruno ngeliatin anak buahnya. "Keluar, pokoknya mau denger atau liat apa, jangan masuk."
"Siap, Bos."
Begitu beberapa anak buah Bruno keluar, pintunya ketutup, suasana di ruangan langsung tegang.
Bruno natap Derek, bibirnya manyun. "Kita udah tanda tangan surat perjanjian hidup dan mati. Siapa yang selesai pasang duluan, boleh nembak lawannya. Nggak boleh berubah pikiran. Setuju taruhan?"
Derek senyum tipis.
"Setuju."
Bertha ngeremes telapak tangannya, napasnya agak pelan.
Bruno malah lebih kejam dari Derek, kalau dia menang, dia bakal nembak.
Tapi kalau Derek berani taruhan, berarti dia udah siap.
Pistol sama senjata tajam kan emang dikontrol ketat, meskipun kaya, banyak yang nggak bisa punya. Tapi Derek bilang dia udah sering make.
Bertha penasaran, seberapa jago sih Derek soal ginian, seberapa cepet tangannya.
Pas lagi mikir gitu, dua cowok di meja pada duduk tegak, aura pembunuhan langsung nyebar.
Mulai dari Bruno.
Pertandingan dimulai.
Dua cowok itu langsung gercep, gerakannya rapi banget, lincah, hampir kayak ngikutin satu sama lain, entah lagi masang atau bongkar.
Bertha nggak ngerti cara masang gituan, jadi dia cuma bisa bengong.
Tapi matanya terus ngeliatin Derek.
Dia santai banget, katanya sih baru nyoba beberapa kali, tapi gerakannya udah kayak terekam di otak.
Keahliannya nggak kalah sama Bruno. Kalau dia nggak punya pengalaman bertahun-tahun sama pistol, nggak mungkin bisa jago gitu.
Bertha merhatiin Derek, ekspresinya makin serius.
Bruno sadar betul, perhatian Bertha cuma ke orang lain, sama sekali nggak peduli sama dia.
Pas lagi masang bagian terakhir, tangannya sengaja berhenti setengah detik.
Dalam setengah detik itu, Derek udah selesai masang. Dia langsung angkat pistol, diarahkan ke alis Derek, matanya penuh amarah.
Tangannya yang udah keriput pengen narik pelatuknya.
Bertha sadar, dia langsung teriak. "Derek, jangan!"
Derek kaget, mata gelapnya bergetar tapi tetep diem.
"Cepetan turunin pistolnya, ini perintah."
Bruno di sisi lain, matanya penuh provokasi.
Derek gigit bibir bawahnya, denger perintah itu, hatinya bergetar, seluruh tubuhnya sakit kayak ketusuk jarum.
Setelah berjuang dua detik, akhirnya dia nurunin pistolnya, wajahnya murung dan pucat.
Bruno ketawa senang. "Selamat, kamu menang dalam permainan ini, tapi sekaligus kehilangan dia. Udah kubilang, kamu itu cuma peliharaan, harus nurut sama majikan, jadi, silakan mundur."
Derek nundukin kelopak matanya, mata gelapnya kosong tak bernyawa, tangan dan kakinya dingin.
Bruno ngeliatin Bertha lagi, dia bilang senang. "Aku tau meskipun kamu bilang nggak nerima aku, dalam hati kamu, kamu masih peduli banget sama aku. Ayo kita bersama dari sekarang, jangan bikin masalah lagi, oke?"
Bertha ngelirik Derek, terus ngeliatin bagian terakhir yang belum dipasang Bruno di pistol itu.
Dia langsung ngerti kalau Bruno pake trik kecil barusan.
Bertha ngeliatin Bruno, terus bilang dingin. "Kamu salah, aku cuma nggak mau liat darah. Kalau kamu selesai masang pistol duluan, aku juga bakal ngelarang kamu buat nembak dia."
Ekspresi Bruno langsung kaku.
Bertha lanjut ngomong. "Kalau antara kamu sama dia, aku harus milih satu orang, aku pilih Derek."
Kontrak kerjanya bakal abis satu tahun lagi, dia nggak akan ada hubungan apa pun sama Derek, ini jaminannya, ada rekamannya juga di hapenya.
Tapi Bruno beda.
Kalau dia nggak bener-bener ngebuang rasa posesif dan nafsu kuatnya ke Bertha, cuma bakal bikin masalah lagi nanti.
"Bertha, aku tau kamu masih marah sama aku…"
Bertha motong omongannya, terus bilang. "Udah lama banget kejadiannya. Aku udah nggak marah sama kamu. Lagian, kamu sama aku nggak cocok."
Bertha ngeliatin Derek, senyum menggoda, jari lentiknya ngelambai ke arahnya. "Sini, duduk di pangkuan gue."
Dua cowok itu kaget barengan.
Di bawah serangan mata indah itu, Derek berdiri dan jalan ke arah Bertha.
Bertha narik dia ke pangkuannya, jadi dia duduk di pangkuannya.
Tinggi badannya lebih pendek dari dua cowok itu, tapi dia punya aura tajam yang nggak kalah sama mereka.
Matanya sedikit naik kayak lagi nikmatin cowok ganteng itu.
Badan Derek kaku, pikirannya kosong, jantungnya berdebar, sama sekali nggak ngerti apa yang mau dilakuin Bertha.
Kenapa dia malah nyuruh dia duduk di pangkuannya?
Bertha ketemu tatapan curiga Derek, dia usap rambut pendeknya dengan lembut, dia senyum, alisnya naik, pas ngomong, suaranya lembut dan mempesona banget.
"Peluk gue."
Jari-jari Derek kaku, dia ragu-ragu dua detik terus meluk pinggang Bertha.
Begitu deket, Bertha nyender ke telinga Derek. Dia ngomong pelan, suaranya cuma bisa didenger mereka berdua. "Ikutan main drama sama gue, ya."
Derek mengerutkan dahi, diem, kepalanya nempel di bahu Bertha.
Kalau diliat dari sisi Bruno, Derek ngebelakangin dia, kayak burung kecil yang lagi nempel di pangkuannya.
Pemandangan ini nggak enak banget, mata Bruno menyipit, susah banget ngomong. "Bertha, apa kamu mau mancing emosi aku?"
Bertha mengangkat bahunya malas. "Bruno, kamu suka cewek yang bisa dimanja di pelukan kamu, aku juga suka gitu. Kenapa aku harus jadi cewek lemah? Aku juga suka ngerawat cowok biar dia manjain aku. Kita emang ditakdirkan nggak bisa bersama."
"Lagian, aku inget kamu kan punya penyakit bersih. Waktu itu aku taruh jaket kamu di pot bunga, tapi kamu nggak pake kemeja itu lagi. Kamu nggak suka aku naro kemeja kamu di pot bunga atau hal-hal yang aku sentuh, tapi kamu harus tau kalau aku nggak pernah jadi milik kamu, aku milik diri aku sendiri, jadi aku bakal lakuin apa yang aku mau."