Bab 162
Malam itu, di pesta amal.
Pestanya diadain di Zannier, hotel paling mewah di kota X.
Hotelnnya berkilauan dan megah, para tamu semua pengusaha sukses dan keturunan keluarga kaya di kota X.
Karena ini pesta amal, Bertha milih gaun hitam yang dijahit bunga kuning, rambutnya disisir ke satu sisi, dan dia kelihatan dewasa banget, cantik, dan seksi.
Sejak acara audisi itu, semua orang tahu dia bosnya Angle, dan mereka udah gak meremehkan dia lagi.
Begitu dia dan Kirjani muncul, mereka langsung jadi pusat perhatian di tempat itu. Ditambah lagi Kirjani yang lagi nge-hits di dunia hiburan, mereka berdua langsung jadi topik pembicaraan semua orang.
Bertha emang selalu kalem, tapi begitu dia muncul, suasana langsung pecah.
Ngelihat dia gak seneng, Kirjani senyum.
"Gimana lagi, Bertha kan cantik banget. Sesuai dugaan, aku ajak kamu ke pesta, gak pernah sekalipun aku kecewa."
Bertha ngeliatin dia dan ngomong pelan. "Berani banget kamu ngeledek aku, kayaknya luka kamu udah sembuh."
Wajah Kirjani langsung berubah, dan dia meluk lengan Bertha. "Nggak, aku masih sakit. Siang tadi, aku syuting adegan laga. Sakitnya minta ampun, pengen mati rasanya."
Bertha senyum, dan dia nepuk kepala Kirjani pelan.
Pemandangan mereka berdua yang lagi bercanda itu diliat Derek dari jauh.
Mata Derek dingin, pemandangan itu tiba-tiba bikin dia ngerasa sakit di dada, kayak hatinya juga ikut kesedot.
Tapi dia tahu dia gak punya hak buat cemburu.
Cuma dia beneran gak enak.
Gak enak banget.
Zillah berdiri di sampingnya, dia ngerasain tekanan rendah di tubuh Derek, apalagi pas dia ngeliat urat-urat biru di tangannya yang mengepal.
"Sepupu, gimana kalau kita nyapa Nona Bertha dan Tuan Muda Kirjani?"
Derek gak ngomong apa-apa.
Dia gak setuju, juga gak nolak.
Zillah mutusin sendiri, dia jalan ke arah Bertha.
Bertha dan Kirjani lagi ngobrol seru, tiba-tiba mereka dipotong sama suara yang sama sekali gak lembut.
"Lama gak ketemu, Nona Bertha, kamu makin cantik aja, bahkan make-up tebal gak bisa nutupin aura rubah di diri kamu."
Kirjani langsung marah. "Kakak Bertha ku jelas cantik, dia seratus kali lipat lebih baik dari kamu. Lagian, hari ini dia dandan gitu dibilang tebal, lah muka kamu yang setebel tembok itu gimana?"
"Lagian, gak semua orang bisa jadi rubah, kamu mah bisanya jadi babi hutan."
"Kamu..."
Zillah marah, tangannya mengepal.
Dia kan gak segendut dan sejelek itu.
Tapi kata-kata itu bukan dari Bertha, tapi dari Kirjani. Zillah gak mau cari masalah sama keluarga Arnold, jadi dia harus nelen amarahnya.
Bertha gak peduli sama omongan mereka, dia nyadar Derek ngikutin Zillah.
Cuma dalam sekejap, aura di tubuhnya langsung berubah.
Dia jadi dingin dan tenang.
Ada sedikit amarah di matanya, kayak tanda badai mau datang.
Emang dia gak tahu ya, kalau Zillah pernah nyelakain dia dulu?
Apalagi, dia benci banget sama Zillah.
Jadi dia gak ngerjain kerjaan rumah, malah ke sini buat ikut pesta amal sama Zillah?
Derek berdiri di hadapannya, hampir dalam sekejap, dia ngerasain amarah di tubuh Bertha, dan dia nelen ludah.
Dia udah gak marah lagi pas ngeliat adegan mesra dia dan Kirjani tadi.
Karena Bertha lagi marah.
Nanti malam, dia pasti dimarahin.
Zillah ngerasa mereka berdua saling pandang, dia senyum dan ngejelasin. "Sepupu ku kangen sama kamu, tapi kamu malah sama cowok lain. Karena pengen ketemu kamu, dia cuma bisa datang sama aku. Nona Bertha, kamu gak seharusnya cemburu."
Bertha senyum sinis sebagai balasan. "Nona Zillah, kamu ngelawak ya, dia gak penting buat aku, aku gak ada yang perlu dicemburuin."
Kata-kata itu bikin hati Derek kebakar.
Wajahnya tiba-tiba pucat.
Setelah nenangin perasaan gak enak di dadanya, Derek maju selangkah dan narik pergelangan tangan Bertha.
"Bertha, kontrak kerja kita belum selesai, aku masih orang kamu. Walaupun aku gak salah apa-apa hari ini, pas pulang nanti, aku serahin semuanya ke kamu, oke? Aku biarin kamu hukum aku sekeras mungkin, aku terima semuanya..."
Matanya ngeliatin Bertha dengan hangat, dia ngebalik tangannya, jari-jarinya ngegambar lingkaran di telapak tangannya.
Rangkaian aksi yang lancar ini bikin Kirjani yang di samping kaget.
Kok Derek bisa ngomong kata-kata gak tahu malu di depan umum?
Zillah juga tercengang.
Apa cowok lemah ini masih pemimpin Tibble Corporation?
Apa dia udah kena pelet Bertha?
Setelah itu, Derek masih ngegambar lingkaran di telapak tangan Bertha seolah-olah di tempat sepi.
Bertha kelihatan acuh tak acuh, lagian, dia ngomong kata-kata ini, dan pada akhirnya, orang yang malu bukan dia.
Tapi gerakan Derek ngegambar lingkaran bikin telapak tangannya gatel.
Dia mau narik tangannya, tiba-tiba dia ngerasa ada yang aneh sama gerakan tangannya.
Bukan cuma ngegambar lingkaran, tapi dia juga...nulis kata-kata.
Bertha konsentrasi ngerasain sejenak.
Sayangnya, dia gak ngerti apa yang ditulis Derek, dan dia gak ngerti apa maksudnya.
Kirjani batuk pelan dua kali. "Kak Bertha, aku udah mulai bosen sama suasana ini, gimana kalau kita ke sana minum wine, oke?"
"Oke."
Bertha narik tangannya dan ngikutin Kirjani.
Dia gak pernah ngeliatin cowok itu. Derek nundukin kepalanya, sedikit kesal.
Dia gak ngerti apa maksudnya. Pas pulang nanti, dia pasti gak bakal dilepasin dengan mudah.
Zillah berdiri tepat di sampingnya, dia merhatiin Derek dalam diam beberapa saat.
"Sepupu, kamu udah berubah banget dari dulu. Aku inget dulu dia yang ngejar-ngejar kamu, tapi aku gak nyangka setelah cerai, kamu malah rela berlutut di kakinya. Aku denger terakhir kali kamu disiksa sama dia dan akhirnya masuk rumah sakit, apa kamu masih bisa nyerah gitu aja?"
Ekspresi Derek tiba-tiba jadi dingin, matanya perlahan menggelap dan jadi dingin.
"Ini urusan aku."
Zillah tertawa. "Iya, aku gak seharusnya nanya terlalu banyak, tapi aku cuma penasaran. Kamu suka Laura, dia dipenjara sama Bertha tapi kamu gak bereaksi sama sekali."
Dia ngomong, tangannya pelan ditaruh di bahu Derek. "Kalau bisa, aku rela bantu kamu kabur dari cengkeraman Bertha, sepupu..."
Sebelum dia selesai ngomong, pergelangan tangannya udah dicengkeram Derek.