Bab 121
Begitu keluar dari Tibble Corporation, dia langsung nyengir lebar dan nggak lagi cemberut.
Sekarang, di kantor.
Bertha masuk ke dalam, terus ngadepin Derek, dan lihat kalau sudut bibirnya rada bengkak, terus dia bisa lihat ada bekas tangan di pipi kirinya.
Wajah gantengnya kena tamparannya Tuan Devon kayak gitu.
Cepat atau lambat, dia bakal pecat rubah tua itu.
"Sakit nggak?"
Dia angkat dagunya, ngecek luka Derek.
Derek nggak nunjukkin ekspresi apa pun, bahkan nggak jawab, santai banget kayak yang dipukulin bukan dia.
Lihat sikapnya yang cuek, Bertha langsung sewot, terus dia cubit pipi kiri Derek.
Derek cemberut dan ngejauh buat ngehindar dari tangannya.
'Akhirnya, mukanya berubah, kukira dia nggak ngerasain sakit.'
Bertha kesel. 'Kayaknya lo tau sakit. Kenapa pas Tuan Devon mukul lo nggak ngelak? Jangan bilang lo nggak sempet bereaksi, ya?'
Tanpa perlindungan dia, dengan kondisi fisiknya sekarang, seberapa kuat sih dia bisa bertahan?
Derek manyunin bibirnya, terus dia nanya lagi. 'Lo di mana pas ayah gue meninggal?'
Bertha natap dia dan nemuin kalau pupil matanya item pekat kayak lubang yang dalem.
'Dia percaya Tuan Devon, jadi lo curiga gue bunuh ayahnya?'
Dia nggak bohong. 'Gue ada di depannya, orang terakhir yang dia lihat sebelum dia meninggal itu gue.'
'Dia bilang apa sama lo?'
Bertha diem sebentar.
Sebelum meninggal, ayah Derek nggak cuma nyuruh dia lindungin Tibble Corporation.
Waktu Bertha nikah sama Derek, ayah Derek seneng banget. Dia juga satu-satunya yang tau identitas asli Bertha. Soalnya dia temenan sama ayah Bertha.
Ayah Derek cerita ke Bertha tentang Derek, kalau dia ganteng dan berbakat. Dia kagum banget sama Derek dan mutusin buat ke Kota X buat nemuin Derek. Dia jatuh cinta sama Derek dari pertama kali ketemu.
Sayangnya, Derek lagi bucin-bucinnya sama Laura waktu itu. Bertha harus ngalah. Setelah dia putus sama Laura, dia tetep di sisi Derek, nyemangatin dia pas lagi sedih-sedihnya.
Karena desakan ayah Derek, Derek terpaksa nikahin Bertha.
Ayah Derek bilang. 'Anak baik, walaupun Derek sombong, dia ngehargain banget rasa terima kasih. Kalau lo bikin dia sadar sama kebaikan lo, dia bakal mulai suka sama lo, dia bakal rela ngelakuin apa aja buat lo. Janji sama gue, jaga dia baik-baik, dan jangan pernah cerai, oke?'
Tapi, dia ingkar janji karena dia nggak bisa bikin hati Derek yang sedingin es itu luluh.
Makanya, lindungin Tibble Corporation adalah janji terakhirnya sama ayah Derek.
Derek lihat dia bengong, terus dia nyipitin matanya dan nanya. 'Dia ngomong apa sih sama lo?'
Bertha duduk lagi di kursinya, matanya balik lagi jadi cuek.
"Nggak bisa dijawab."
Nada bicaranya rada santai.
Kemarahan tiba-tiba muncul di mata Derek.
Dia lanjut. "Kenapa? Lo juga mikir gue bunuh dia?"
Derek diem, mukanya serius. 'Nggak, lo nggak akan.'
'Kayaknya dia nggak ketipu.'
'Dia juga nggak bodoh.'
Kemarahannya agak mereda.
Dia ngangkat kepala dan lihat sisi kiri wajah Derek bengkak nggak karuan, ngerusak wajah gantengnya yang biasanya.
Walaupun sifatnya nyebelin, wajahnya masih lumayan, nggak enak kalau dirusak.
Dia ambil obat dari laci di bawah meja teh dan nyodorin ke Derek. 'Mending lo olesin obatnya. Ada es di kulkas di pojok sana, kompres wajah lo pake es.'
"Oke."
Derek nggak nolak.
Dia ambil es, jalan ke sofa, dan ngompres lukanya.
Bertha pergi ke mejanya, mulai ngerjain kerjaan hari ini.
Bodyguard dan Allison keluar dan nutup pintu.
Sekarang, cuma ada suara ketikan keyboard di kantor, barengan sama suara Derek yang lagi kompres wajahnya, suasananya rada aneh.
Nggak ada yang buka mulut duluan.
Suasana ini berlangsung setengah jam sampai Allison ngetuk pintu lagi dan masuk.
'Nona Bertha, Tuan Noa datang.'
'Noa ngapain ke Tibble Corporation?'
Bertha mikir, terus ngomong. 'Suruh dia masuk.'
Derek yang lagi duduk di sofa tiba-tiba cemberut.
'Siapa Noa? Cowok yang baru dia temuin itu?'
Noa dorong pintu dan masuk pas Derek berdiri.
Walaupun jauh, mereka berdua tetep ngerasain kehadiran satu sama lain dari pertama kali ketemu.
Musuh ketemu musuh, api nyembur dari segala arah.
Derek bilang. 'Ternyata lo anak mudanya Vontroe. Maaf.'
Waktu Noa lihat Derek, kemarahan langsung meledak.
Dia awalnya ke sini mau ngasih saran ke Bertha buat tanda tangan perjanjian sama Derek, tapi dia nggak nyangka kalau Bertha bakal bawa Derek ke kantor.
Muka Noa jadi masam, terus dia nyamperin Derek, ngomong pelan. 'Bertha udah cerai sama lo. Dia tanda tangan perjanjian setahun buat bantu lo bayar utang. Jangan ada niat macem-macem sama dia.'
Walaupun ekspresinya tetep sopan, nadanya ngandung ancaman.
Waktu Derek denger soal perjanjian, dia rada kaget.
'Dia juga tau soal ini, kayaknya hubungan dia sama Bertha nggak normal.'
'Dasarnya lo apa ngasih peringatan ke gue?'
Noa bilang. 'Dia jomblo sekarang, gue lagi pdkt sama dia. Gue yakin, nggak lama lagi dia bakal nerima gue, makanya gue pake identitas gue sebagai cowoknya buat ngasih tau lo.'
'Jadi, sekarang dia masih belum nerima? Tapi apa lo udah mikir buat ngaku-ngaku?'
Noa cemberut. 'Setidaknya gue punya kesempatan, sedangkan lo nggak akan pernah.'
'…'
Bertha geleng-geleng kepala.
Dua cowok di depannya lagi adu mulut, mata mereka nyala-nyala, dan kantornya berubah jadi medan perang.
'Kenapa sih dua cowok ini semangat banget? Padahal gue udah capek banget sama mereka.' Bertha mikir dalam hati.
Derek bilang. 'Walaupun lo nggak mau ngakuin, lo nggak bisa nyangkal kalau gue ini mantan suaminya. Setidaknya gue pernah deket sama dia.'
Dia nekenin kata-kata terakhir seolah matanya punya maksud tertentu.
Noa marah. 'Tapi lo cuma kenal dia tiga tahun, seberapa banyak sih lo ngertiin dia? Gue gede bareng dia dari kecil, gue lebih ngerti dia daripada lo.'
Derek cemberut makin dalem.
"Oke."