Bab 2
Bertha bangun siang berikutnya. Windy lagi duduk di kursi, asyik ngerjain komputernya. Pas Windy lihat Bertha udah bangun, dia langsung nutup komputernya terus ditaruh di meja.
Windy duduk di pinggir ranjang terus bilang, "Demam, kaki sama lutut luka. Semua gara-gara orang-orang dari keluarga Tibble, kan?"
Bertha megangin dahinya, nyoba inget-inget kejadian kemarin.
"Bertha, apa sih bagusnya Derek? Kenapa lo cinta banget sama dia padahal lo luka gini? Gue udah telepon dia, bilang lo di rumah sakit. Gue suruh dia ke sini, tapi dia nggak jawab, malah matiin telepon gue." Windy kesel banget kalau mikirin Derek, tuh cowok emang biadab.
Bertha masih diem aja. Dia duduk aja di kasur, nangis terus. Dia nangis bukan karena dipukulin atau luka, tapi karena orang yang dia sebut suaminya itu jahat banget. Denger omongan Windy, dia malah makin kejer nangisnya.
"Gue udah bilang, kan. Derek tuh nggak seindah yang lo bayangin," kata Windy.
Tapi Bertha nggak dengerin Windy, malah tetep mutusin buat nikah sama Derek, nerima sifat dinginnya dia.
Dia salah. Dia nggak bisa bikin hati Derek anget. Di hatinya Derek, cuma ada Laura. Bertha kayak boneka di keluarga Tibble, cuma dijadiin bahan cemoohan dan omelan. Laura selalu bilang dia bodoh. Iya. Dia emang orang paling bodoh di dunia karena cinta sama orang yang nggak cinta dia.
"Bertha, maaf ya. Seharusnya gue nggak ngomong gitu." Windy ngasih Bertha tisu, nyoba nenangin dia. "Mungkin Derek lagi sibuk jadi dia..."
Bertha motong, "Dia nggak bakal datang. Dia nggak akan pernah datang lagi." Dia ngapus air matanya pake tisu.
"Maksudnya?" Windy cemberut.
"Kita akan cerai."
Windy kaget, terus dia nenangin Bertha. "Oke, nggak usah bahas ini. Lo udah boleh pulang dari rumah sakit, nanti kita jalan-jalan yuk. Gue ajak temen-temen yang lain juga. Udah lama kita nggak jalan bareng."
Bertha cuma senyum tipis terus bangun dari kasur dan jalan ke jendela.
Windy ngeliatin punggung Bertha yang langsing. Dia geleng-geleng kepala sambil nghela napas.
Dia nggak ngerti kenapa Bertha begitu teguh buat nikah sama Derek. Apa karena Bertha cinta banget sama dia?
---
Bertha pulang dari rumah sakit dan sementara tinggal di rumah Windy. Waktu Bertha lagi mandi, Windy masak. Pas dia keluar dari kamar mandi, dia ngeliat Windy lagi nata makanan di meja.
Bertha masuk ke ruang makan.
Windy narik kursi buat Bertha, maksa dia buat duduk. "Ini semua makanan kesukaan lo. Makan banyak ya. Lo kelihatan kurus banget."
"Makasih ya, Windy. Baik banget deh lo." Bertha senyum. 'Nanti abis makan, gue mau siapin surat cerai.' Dia nyoba ngomong dengan nada ceria.
"Gue bantuin deh," kata Windy.
Bertha senyum sumringah dan ngangguk.
Windy ngambil makanan dan ditaruh di mangkuk Bertha, nyuruh dia makan lebih banyak. "Beneran mau cerai?" Dia takut Bertha cuma ngomong doang.
"Serius kok. Gue udah mutusin." Bertha nelen makanannya dan ngomong dengan tenang.
Ngeliat ekspresi serius di wajah Bertha, Windy tau kalau keputusan Bertha emang beneran. Dia bilang dengan senang, "Seneng deh akhirnya lo nyerah juga sama si brengsek itu."
Tapi, senyum di wajah Windy langsung bekujur. "Tunggu. Lo nggak mau ambil apa-apa dari keluarga itu?"
Windy ngerasa nggak adil sama Bertha. Dia udah cukup nahan malu selama tiga tahun terakhir. Sekarang, dia pergi tanpa bawa apa-apa. Nggak adil banget.
"Lo mikir gue kekurangan uang?" tanya Bertha cuek.
"Ya nggak sih," Windy ngedumel nggak seneng. 'Tapi gue tetep ngerasa lo udah menderita terlalu banyak."
Bertha adalah satu-satunya anak dari keluarga Griselda di Kota Y, keluarga kaya tapi nggak suka pamer. Makanya, nggak ada yang tau identitas asli Bertha. Dia ketemu Derek nggak sengaja dan jatuh cinta sama dia. Dia nekat nikah sama Derek meskipun ayah nggak setuju.
Windy tau kalau Bertha nggak peduli sama harta keluarga Tibble. Dia cuma mau cinta, tapi cinta itu malah bikin dia menderita. Windy kasihan sama Bertha.
Hape Bertha bunyi, ngasih tau ada pesan baru. Dia buka buat baca, alisnya berkerut.
"Ada apa? Siapa yang nge-chat?" tanya Windy.
"Derek. Dia bilang mau ketemu dan ngomong sama gue."
"Jangan-jangan dia nggak mau cerai?"
"Nggak. Dia benci gue. Dia bakal setuju kok. Cuma gue nggak tau dia mau ngomong apa."" Bertha ngangkat bahu.
"Gue takut abis ketemu dia, lo jadi lemah dan berubah pikiran." Windy nghela napas.
"Nggak. Gue nggak akan ragu," Bertha tegas, nadanya mantap.
---
Nggak lama kemudian, dua cewek itu udah duduk di mobil. Windy nyetir mobilnya Bertha ke kantor Derek. Dia ngelirik temennya, khawatir Bertha nggak jadi cerai karena bakal luluh seiring waktu.
Windy berhentiin mobil di depan gedung Tibble Corporation tiga puluh menit kemudian.
Windy ngelepas sabuk pengamannya. Dia keluar dari mobil bareng Bertha. Terus dia bantuin Bertha benerin rambutnya dan ngingetin, "Apapun yang dia bilang, lo nggak boleh luluh ya. Jangan biarin dia kasihan sama lo."
Bertha senyum dan ngangguk. Tahun-tahun hidup sama keluarga Tibble adalah tahun-tahun paling menyakitkan dalam hidup Bertha. Cintanya sama Derek udah lama hancur, sekarang cuma tersisa kepahitan dan kesedihan. Dia nggak akan biarin Derek terus-terusan nyakitin dia.
Bertha ngangkat dagunya tinggi-tinggi dan jalan dengan anggun ke dalam gedung. Ada tatapan malu-malu dari staf yang ngeliatin dia, tapi dia nggak peduli.
Sejak dia nikah sama Derek, dia udah jadi aib di mata semua orang. Mereka manggil dia matre.
Bertha masuk ke lift dan ngetik nomor lantai Derek.
Derek kaget waktu Bertha nyaranin cerai. Dia dari awal ngebet banget pengen nikah sama Derek. Tapi kenapa sekarang... Apa dia mau nyerah dari kehidupan mewahnya di rumahnya?
Derek selalu mikir kalau Bertha beruntung banget jadi menantu keluarga Tibble karena keluarganya adalah keluarga miliarder dari Kota X.
Dia penasaran apa lagi yang bakal Bertha lakuin.
Bertha keluar dari lift, wajahnya dingin, terus pergi ke kantor Derek. Dia terus sopan ngetok pintu dan langsung buka tanpa nunggu orang di dalem nyahut.
"Lo mau ngomong apa sama gue?" tanya Bertha blak-blakan, natap Derek tanpa berkedip.
Cara dia natap Bertha tetep dingin dan nggak ada emosi. "Kenapa lo mau cerai? Bukannya lo cinta banget sama gue? Siapa yang pengen nikah sama gue dulu?"
Bertha natap dia dingin. Dia jauh lebih kecil dari cowok ini, tapi saat ini, auranya bener-bener sama dengan Derek.
"Itu kan dulu. Sekarang, gue cuma mau cerai sama lo. Ini juga yang lo mau, kan? Nggak ada yang bisa ngehalangin lo buat sama Laura lagi. Emang lo selalu cinta sama dia?"
Derek ngelengkungin bibirnya dan natap Bertha bingung.
Apa dia bakal nyerah semudah itu?
Ngeliat matanya serius, nggak kayak lagi bohong, dia mendengus, nadanya dingin. 'Gue harap lo nggak nyesel nantinya."
Bertha senyum dingin, hatinya nggak pernah seteguh sekarang.
'Satu-satunya yang gue sesali adalah nikah sama lo."
Naro surat cerai di meja, dia dengan angkuh berbalik badan dan pergi tanpa ragu.
Derek natap punggung Bertha lama banget.
Dulu, waktu cewek ini ngeliat dia, dia selalu lembut dan manis, sok manis, tapi hari ini sikapnya keras banget.
Dia ngeliat surat cerai yang udah ditanda tanganin Bertha. Dia pergi tanpa bawa apa-apa. Dia ngambil pulpen dan tanda tangan.