Bab 289
Seseorang mulai duluan, dan nggak lama yang lain pada ngikut.
"Maaf, *Director*, gue masih ada kerjaan..."
"Jangan marah, *Director*, gue ada urusan di kantor..."
*Bertha* nggak nunjukkin ekspresi apa pun, cuma ngangguk setuju.
*Nyonya Jennifer* ngeliatin mereka pergi satu per satu, nyilangin tangan dan senyum, bangga banget.
Tapi, pas perusahaan keenam mau maju dan minta maaf ke *Bertha*, suara deru mobil mewah dari seri SSC Tuatara menggema dari arah air mancur.
Semua mata langsung ngarah ke satu-satunya mobil sport Silber edisi terbatas warna hitam, yang konon harganya delapan puluh juta dolar. Tapi, meskipun punya duit, lo nggak bisa beli mobil ini gitu aja. Harus punya duit dan kekuasaan.
Pas semua orang masih pada kagum sama penampilan mobil ini, pintu mobilnya pelan-pelan kebuka.
Kaki panjang si cowok perlahan keluar dari mobil, gayanya mewah, sikapnya dingin, dan di wajahnya ada topeng abu-abu perak yang bikin dia makin misterius.
"Kayaknya cowok ini *Mr. Shane* deh?"
"Dia *Shane*? Dia bisa dateng ke acara kecil kayak gini, berarti dia cinta banget sama tunangannya."
"Gue jadi iri, cuy."
Ada banyak cewek yang diajak sama presiden. Dari *Shane* keluar mobil, mata mereka langsung mandangin dia, iri banget.
Beberapa perusahaan yang tadi bilang mau cabut tapi belum keluar gedung, pas ngeliat *Shane* muncul, hati mereka langsung hancur berkeping-keping.
Mereka semua ngeliatin *Nyonya Jennifer* dengan tatapan marah.
Dan *Nyonya Jennifer* juga kaget, dia nggak bisa ngomong apa-apa.
Di tengah sorak-sorai, *Shane* jalan lurus ke *Bertha*.
*Bertha* bingung ngeliatin cowok yang jalan ke arahnya. Selain kaget, dia juga agak kesel.
Dia udah bilang jangan keluar, harusnya diem di vila buat istirahat.
Hm, cowok ini bener-bener nggak dengerin dia.
*Shane* narik semua perhatian dan jalan di depan *Bertha*. Obrolan rame langsung berhenti seketika.
Suasana hening.
Dia pegang tangan kiri *Bertha* dan nyium punggung tangannya, dia ngomong dengan suara pelan dan lembut. 'Maaf, aku telat."
*Bertha* cemberut, dia naikin alis ke arahnya. 'Iya, nanti pas aku balik, aku hukum kamu."
Mata gelap *Shane* kayak senyum: 'Bertha, kamu mau dua hari dua malam? Aku bakal nurutin kamu."
Semua cewek di tempat itu teriak.
Mereka berdua udah pamer kemesraan di depan umum, apa yang mereka omongin itu 'begituan' apa bukan sih?
Bisa-bisanya mereka dengerin konten kotor kayak gini?
*Bertha* nggak nyangka dia berani ngegodain dia secara terbuka di depan banyak orang.
Dia masih senyum ke arahnya, tapi sebenernya, dia lagi nahan emosi.
*Shane* dateng tepat waktu, pas dia dateng, upacara potong pita baru mulai.
Gara-gara kemunculannya, dia dan *Bertha* pegang kain merah barengan pas upacara, masing-masing pegang gunting dan motongnya.
Suasana seru di tempat itu juga makin meningkat.
*Nyonya Jennifer* udah kena tampar dua kali dalam sehari, apalagi yang kedua dia sengaja ngomong keras-keras. Sekarang dia cuma pengen nyari lubang di tanah buat ngumpet.
Pas nggak ada yang merhatiin dia, dia pergi dengan sedih.
Upacara potong pita selesai dengan sukses, semua tamu keliling gedung *Angle* barengan.
*Bertha* nggak mau sosialisasi lagi, karena *Shane* nawarin buat investasi, dia kasih tanggung jawab sosialisasi ke dia, dan dia lari ke pojok yang sepi buat duduk bareng *Isobel*.
*Isobel* ngeliatin *Shane*, yang lagi keasyikan di tengah kerumunan. 'Gimana pun, dia kan investor kamu? Kenapa kamu males-malesan dan biarin dia nanggung beban sendirian?"
Mata *Bertha* juga ngarah ke *Shane*. "Kalau cowok nggak bener, harusnya dibiarin kerja keras."
"Dia nggak bener?" *Isobel* nutup mulutnya dan ketawa. "Dia kelihatan nurut banget."
"Dia pura-pura."
*Bertha* nggak banyak ngomong, dia nuangin segelas sampanye dan nyeruputnya.
Nggak cuma suka pura-pura, tapi juga bohong terus-terusan.
Tapi, dia nggak mau cerita soal hal-hal ini ke *Isobel*.
*Isobel* nggak ragu. 'Berarti kamu udah bener. Kalau cowok kamu nggak nurut, kamu harus ngajarin dia. Soal ini, gue lumayan puas."
*Bertha* bilang sambil senyum. 'Kakak gue kan galak, di depan kakak iparnya, dia kayak anak domba yang nurut?"
*Isobel* batuk dua kali, dia nahan malunya, dan dia ngangguk agak malu.
*Bertha* cekikikan.
Ya Tuhan, dia nggak bisa bayangin gimana kakak iparnya ngajarin kakak tertuanya.
"Kakak ipar, ada komentar nggak? Ceritain dong."
*Isobel* diem-diem ngeliatin *Shane* yang masih sosialisasi. 'Tapi jangan bilang gue yang ngomong ya."
*Bertha* ngangguk cepat.
*Isobel* ngerapat ke telinganya dan berbisik. "Kalau dia ngelakuin kesalahan di masa depan, kamu harus bikin dia belajar buat berlutut di atas keyboard, sikat gigi, durian, dll. Kamu harus didik dia baik-baik, pokoknya kayak gini deh..."
*Bertha* mengerutkan dahi. 'Nggak kejam banget nih?"
Cuma berlutut di lantai keramik aja udah sakit banget, dia nggak bisa bayangin gimana rasanya berlutut di atas durian...
'Kalau cewek nggak kejam, statusnya nggak bakal bagus."
*Bertha* ngangguk diem-diem, dia ngerasa itu masuk akal banget, dan dia mulai ngitung-itung dalam hati.
*Isobel* ngeliat dia kayaknya dengerin banget, dan dia nggak bisa nggak ngerasa agak bersalah.
Dia udah diskusiin kata-kata ini sama *Fawn*, dia sengaja bilang ke *Bertha*.
Buat mencegah *Shane* nindas adiknya yang mungil di masa depan, pasangan ini mutusin buat biarin *Bertha* belajar buat nyerang duluan.
Nggak peduli apa yang terjadi sama *Shane*, dia cuma bisa minta maaf.
Begitu mereka selesai ngomong, *Shane* di kerumunan kayaknya ngerasain ada yang manggil.
Setelah sosialisasi, dia jalan ke sisi ini dan duduk di kursi di samping *Bertha* dengan santainya.
Setelah berdiri dan sosialisasi begitu lama, *Bertha* masih khawatir sama cederanya. "Kamu capek?"
"Nggak apa-apa," *Shane* bilang kalem.
*Isobel* juga ngerasa mukanya nggak jelek. 'Kayaknya adik gue udah ngerawat kamu dengan baik beberapa hari ini, kamu cepet banget sembuhnya. Jadi, kapan kamu rencana pulang?"
"Aku..."