Bab 25
Sore.
**Bertha** masih di kantor, bagi-bagi kerjaan buat artis-artis baru. **Charmaine** sambil senyum, ngetuk pintu, terus masuk, gayanya baik banget.
"Nona **Bertha**, udah denger belum kalo JK Holdings Group mau investasi gede-gedean di film?"
**Bertha** gak ngangkat kepala, fokus sama komputernya. "Terus kenapa?"
Dia senyum, naruh data di meja **Bertha**. "Aku dapet kesempatan buat diskusi sama orang pentingnya JK Holdings buat artis-artis kita, tapi mereka maunya cuma kamu yang dateng."
Baru deh **Bertha** ngangkat muka, terus ngasih tatapan dingin.
Ngeliat tatapan matanya yang dingin, kayak bisa nembus hati orang, **Charmaine** langsung panik, terus nelen ludah.
**Bertha** ketawa. "Ini kan bagus buat nambah untung, siapa aja yang mulai, ya harus jalan."
**Charmaine** buru-buru ketawa.
"Aku juga pengen banget ikut, tapi pihak JK Holdings protes sama jabatanku yang rendah, mereka maunya yang jabatannya direktur yang dateng dulu baru mau diskusi. Pendapatan sih cuma kecil, kita harus bantu artis-artis di perusahaan kita dapet kesempatan bagus, ini semua buat perusahaan, dan asal kita bisa dapet kontrak ini, siapa aja yang dateng ya diterima."
**Bertha**, masih merhatiin ekspresinya, ngomong. "**Charmaine**, ini pertama kalinya kamu ngomong sama aku sehormat ini."
**Charmaine** agak kaget, senyumnya makin lebar.
"Soalnya aku tau kamu hebat, aku gak berani macem-macem. Tapi, pertemuan sama orang pentingnya JK Holdings ini kesempatan bagus banget, gak mikir dua kali nih?"
"Pergi, ya jelas pergi."
**Bertha** monyongin bibirnya terus senyum.
“Kalo aku gak pergi, gimana aku bisa tau akal bulusnya dia?”
---
Malemnya, begitu waktunya pulang kerja, **Charmaine** dengan baik hati dan sayang ngegandeng lengan **Bertha** dan ngajak dia ke pesta pertemuan sama JK Holdings.
Sampe di ruangan mewah, tiga cowok paruh baya gemuk langsung berdiri sopan. Pas ngeliat **Bertha**, mata mereka langsung berbinar.
**Charmaine** senyum terus ngenalin dulu. "Ini direktur kita, Nona **Bertha**."
"Direktur, tiga orang ini adalah CEO Maverick, CEO Riley, dan CEO Troy dari JK Holdings."
"Semuanya CEO?"
**Bertha** ngedip polos. "Kenapa gak orang yang bertanggung jawabnya aja yang dateng langsung ke kita?"
Muka **Charmaine** langsung kaku sebentar, tapi gak lama dia senyum lagi kayak biasanya.
Dia pura-pura narik **Bertha** ke samping terus bisikin ke telinga **Bertha**. "Tiga direktur ini semuanya orang-orang hebat. Apa artis-artis perusahaan kita dapet kontrak atau enggak, tergantung sama satu kata dari mereka, pokoknya jangan sampe ngomong yang bikin mereka kecewa."
**Bertha** ngangguk tapi mukanya gak nunjukkin ekspresi apa-apa.
Setelah mereka berdua ngomong rahasia, mereka balik lagi ke tiga cowok itu.
Tiga direktur itu natap **Bertha**, mata mereka jelas nunjukkin keserakahan. **Bertha** ditatap sama mata yang menjijikkan kayak gitu, dia jadi eneg.
"Nona **Bertha** gak cuma punya muka yang cantik, tapi juga punya badan yang bagus banget."
Salah satunya buka mulut duluan buat ngomong.
"Gak berani terima pujiannya, kalian kan naga di lautan manusia." **Bertha** senyum sopan ke mereka.
**Charmaine** dengan semangat nyambut mereka buat duduk.
Dia ngangkat gelasnya, ngadep ke **Bertha**, terus ngomong. "Ini pertama kalinya kamu dateng sendiri buat nerima tamu sejak dilantik. Semoga sukses ya."
Dia nyodorin segelas anggur merah ke tangan **Bertha**.
**Bertha** megang gelas anggurnya deketin ke hidungnya terus ngirup. "Lafite Rothschild 82, anggur yang bagus."
Dia senyum terus ngeclink gelasnya sama **Charmaine**, terus minum sekaligus.
CEO Riley muji dia. "Gak nyangka Nona **Bertha** punya pengetahuan tentang anggur merah kayak gini, dan cara minum anggurnya juga nyegerin banget. Mempesona. Kalo aku nawarin kamu buat minum gelas anggur selanjutnya, kamu gak bakal nolak, kan?"
**Bertha** nanya. "Kita kan dateng kesini hari ini buat diskusi kerjasama antara dua perusahaan? Kenapa kalian gak pernah nyebutin itu?"
Tanpa ragu, mereka ngejawab dia. "Tentu aja, tapi sesuai aturan, kamu harus minum dulu baru diskusi, kamu pasti orang yang pengertian, kan?"
Tiga direktur itu ketawa bahagia dan terus-terusan nawarin dia minuman.
**Bertha** juga gak nolak mereka, dia minum satu gelas demi satu gelas.
---
Tibble Corporation, kantor ketua.
**Cadell** ngetok pintu terus masuk, dengan hormat nyerahin dia berkas tentang identitas **Bertha**.
"Bos, orang-orang kita udah teliti tiga kali. Ini dokumennya lengkap sama semua informasinya, silahkan dilihat."
**Derek** ngambil dokumennya terus ngeliat informasi di dalamnya, matanya terangkat.
Hidupnya normal, gak ada yang spesial dari kegiatannya.
Informasi yang ditulis adalah **Bertha** ada di panti asuhan, selain itu gak ada kejadian spesifik, bahkan waktu dia masuk panti asuhan juga gak ada informasi sama sekali.
Kenapa ada informasi pribadi tentang orang yang bahkan hacker terbaik aja gak bisa selidiki?
**Cadell** ngeliat ekspresi bosnya terus nanya lagi. "Mau saya suruh mereka buat selidiki lebih lanjut?"
"Gak usah."
**Derek** nutup dokumennya terus ngelemparnya ke meja. "Dia sengaja gak mau kita selidiki. Kalo dilanjutin cuma buang-buang waktu, tapi identitasnya gak sesederhana itu."
Dia jalan ke jendela di ruangannya, nyalain rokok, terus mikir.
**Cadell** ngambil iPad, buka jadwal kerja bosnya, terus nanya. "Bos, ada jadwal pesta malem ini, jadi gak?"
"Jadi."
Situasi saat ini di pesta.
Empat orang gantian nuangin anggur buat **Bertha**. Meskipun dia minum banyak, **Bertha** tetep gak nolak.
Dia minum enam gelas anggur merah.
Tapi mukanya cuma agak merah muda, dia duduk di bawah lampu, nambahin pesonanya, matanya jernih dan waspada.
**Charmaine** geleng-geleng sedih, dia udah mulai pusing.
Gak nyangka cewek ini kuat minumnya. Tiga direktur dan **Charmaine** semuanya udah mabok tapi dia gak kena efeknya sama sekali.
Semuanya udah gak bisa minum lagi.
Mereka ngeliat ke **Bertha**, ngeliat dia nuangin anggur merah buat dirinya sendiri waktu mereka udah gak kuat lagi.
Terus dia ngeliat ke mereka, mukanya nunjukkin senyum.
Mereka nyerah.