Bab 374
Dia berbalik dan memanggil. 'Liam, tolong masuk sini.'
Pintunya langsung kebuka, dan Liam nyembulin kepalanya dengan ekspresi kaget. 'Nona. Bertha, apa lo udah yakinin Tuan Shane?'
Bertha gak jawab, dia nunjuk Shane terus ngomong. 'Lo pegangin dia erat-erat, jangan biarin dia gerak.'
'Bertha,' Shane manggil namanya dengan ekspresi dingin.
Liam langsung kaget di tempat, tangannya megangin pintu erat-erat, dia gak berani masuk: 'G... gue gak salah denger, kan? Lo mau maksa dia?'
Bertha narik napas dalem-dalem, sikapnya tegas: 'Lo denger bener, pegangin dia.'
Liam masuk kamar dengan ragu-ragu tapi langsung kicep sama tatapan Shane, dia takut dan diem di tempat.
'Berani lo?'
Shane natap dia tajam, giginya gemerutuk, terus ngomong: 'Jangan lupa lo anak buah siapa, siapa yang harus lo dengerin.'
'Bos, gue...'
Liam nelen ludah, dia gak pernah nyangka suatu hari harus milih kayak gini: 'Obat ini bagus buat penyakit lo, Bos, tolong dengerin Nona. Bertha.'
Shane keras kepala, dia gak mau nyerah: 'Gak mau. Gue tanya lagi, lo dengerin omongan siapa?'
'Dia harusnya dengerin gue.'
Bertha bantu Liam jawab. Dia naikin alisnya sedikit, bibir merahnya melengkung jadi senyum ngejek: 'Lo kan cowok gue, anak buah lo harus dengerin gue.'
Shane: '...'
Ini logika cewek.
Bertha ngelihat ke arah Liam: 'Jangan takut, gue di sini, dia gak bakal bisa ngapa-ngapain lo, cepetan.'
Dengan jaminannya, Liam langsung jalan ke arah Shane.
Seluruh tubuh Shane kerasa dingin, dia nendang kaki Liam.
Liam gak berani ngelak, dia teriak dan meluk kakinya. 'Nona. Bertha, dia mukul gue. Sakit nih.'
'Baru aja belajar ngadu di depan gue?' Shane marah, matanya kayak mau bunuh orang.
Liam ketakutan banget, dia buru-buru mundur dan ngumpet di belakang Bertha.
Bertha menghela napas, dia ngambil tali dan pribadi ngiket kaki Shane.
Liam langsung nyamperin dan megangin tangannya erat-erat dan dia manggil Edsel buat masuk kamar dan nyuntik Shane.
Seluruh tubuh Shane memancarkan dingin. Meski kebebasannya dibatasi, auranya yang nakutin masih bikin Edsel takut, dia gak berani deket-deket.
'Biar gue aja.'
Kata Bertha.
Edsel ngeluarin napas lega, dia nyerahin suntikan ke dia.
Shane ngangkat kepalanya buat ngelihat dia: 'Bertha, jangan paksa gue.'
Bertha nunduk buat nyium bibirnya lembut terus dia nenangin dia: 'Gue bakal lembut, gue usahain gak nyakitin lo, kali ini gue bakal hilangin komplikasi di tubuh lo dulu, lain kali, kita obatin virus di tubuh lo.'
'Bertha.'
'Lo gak mau hidup normal di masa depan? Mungkin kita bakal punya bayi yang lincah, lucu. Pas lo sembuh dari penyakit, masa depan kita bakal jadi indah banget.'
Mata mereka saling pandang.
Shane dengerin dengan serius dan dia tertarik sama mata beningnya yang kayak bintang.
Mumpung dia lagi dengerin, Bertha masukin jarum ke urat nadinya dan hati-hati nyuntik obat ke tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, obatnya mulai bereaksi.
Seluruh tubuh Shane lumpuh, kelopak matanya berat, matanya lemah, dan seluruh tubuhnya ngantuk.
'Dokter, kok bisa gitu?' Bertha noleh dan nanya.
Edsel langsung ngecek kondisi Shane: 'Dia gak apa-apa, pas nyuntik obat biru ini, dia bakal kelihatan capek. Tunggu Shane tidur, setelah bangun, dia bakal baik-baik aja.'
Bertha dan Liam ngeluarin napas lega.
Liam naruh Shane di ranjang rumah sakit dan dia sama Edsel keluar kamar.
nunggu sampe semua orang udah pergi, Bertha buka sepatunya, tiduran di kasur, dia meluk Shane biar dia bisa tidur di pelukannya.
Dia ngelus wajahnya sambil ngelihat pohon pisang di luar jendela, dia pelan-pelan ngomong: 'Shane, lo tau kapan gue suka sama lo?'
Shane capek, dia geleng-geleng kepala sedikit.
'Dari pertama kali gue ketemu lo, gue udah suka sama lo...'
Suaranya yang lembut dan halus masuk ke telinganya. Itu bikin Shane tiba-tiba ngangkat ujung bibirnya, keinget masa lalu.
Dedaunan pohon pisang di luar jendela berdesir kena angin.
Shane berusaha ngadepin semangatnya yang capek terus nanya: 'Bertha, apa lo mau batalin pertunangan dan nikah sama Bruno...'
Selesai ngomong, dia ketiduran.
Bertha masih ngelihat ke luar jendela, gak yakin apa emosi di sudut matanya: 'Lo tidur aja, pas bangun, lo bakal baik-baik aja, dan hari-hari kita di masa depan bakal makin bagus.'
Nunggu Shane tidur pulas, Bertha hati-hati naruh dia di kasur, dia selimutin dia, terus dia pelan-pelan keluar kamar, dan pergi nyari Edsel.
'Dokter, kalau laboratorium udah punya obat biru ini, berarti, berdasarkan bahan-bahan obatnya, bisa gak lo bikin obat yang mirip, atau riset penawarnya?'
Wajah Edsel serius, dia mikir sebentar, terus geleng-geleng kepala: 'Ada banyak jenis bahan di obat ini. Gak ada data di laboratorium. Gue udah selidiki, dan obat ini gak sama kayak obat di negara kita.'
Dia jeda sebentar, terus dia lanjut ngomong: 'Virus biokimia S404 bukan virus yang bisa diobatin pake penawar biasa.'
Tapi ini cuma spekulasinya. Lagipula, dia belum lihat obatnya, jadi dia gak yakin.
Bertha mikir keras.
Dia ngamatin kondisi Shane setelah pake pil biru. Beberapa saat kemudian, dia mikir buat terus berantem sama Bruno.