Bab 227
Dia dengan enggan menyeringai pahit pada Bertha. 'Iya, gue baru aja kepeleset, tapi untungnya gue cepet bereaksi dan nangkep tangan bos, jadi gue nggak jatuh.'
Cuma masalah kecil, Bertha nggak peduli, dan dia buru-buru ninggalin tempat konstruksi yang terbengkalai itu.
Derek nyuruh Liam nyetir mobilnya dan dia duduk di mobil bareng Bertha terus mereka balik ke vila.
Di jalan, dia duduk tegak, setelannya rapi, punggungnya nggak nyentuh jok mobil.
Bertha nyadar itu, tapi dia inget luka di punggungnya jadi dia nggak mikir terlalu jauh dan cuma nanya. 'Gimana kabar Bruno hari ini? Apa lo bisa nanyain sesuatu ke dia?'
Tenggorokan Derek bergerak, dia butuh dua detik buat ngomong. 'Nggak, tapi jangan khawatir, besok gue bakal bikin dia ngomong yang sebenarnya.'
'Oke.'
Selama perjalanan, mereka berdua nggak ngomong apa-apa lagi.
Nggak lama mereka nyampe di vila pantai, dan mereka berdua masuk ke ruang tamu.
Bertha pelan-pelan ganti sepatunya.
Derek ganti sepatunya, megang pegangan, dan naik tangga.
Dia baru naik dua langkah pas dia berhenti, balik badan, dan bilang. 'Bertha, apa lo laper hari ini? Gue... agak ngantuk, gue pengen tidur sekitar setengah jam terus bangun buat masak.'
Dalam hatinya, Bertha ngerasa dia aneh, tapi dia nggak nolak. 'Gue juga nggak laper, nanti aja kita makan.'
'Kalo gitu gue balik ke kamar dulu ya.'
Bertha nggak nyaut, matanya ngikutin sosoknya yang ngilang di balik tikungan lantai dua.
Dia nggak tau kenapa, tapi dia punya perasaan aneh. Dia selalu ngerasa kalo ekspresi wajahnya waktu di jalan pulang itu kayak dia lagi berusaha nahan sakit.
Apa luka di punggungnya makin parah?
Dia naik ke lantai dua, Derek nggak ngunci pintunya.
Agak ngebuka pintu, dia ngeliat orang di kasur itu tiduran tenang di selimut, dia lagi tidur.
Tapi, Bertha nyadar dan ngeliat dia tiduran tengkurap, bahkan jaket setelannya juga nggak dilepas.
Dia ngebuka pintu lebar-lebar, nyamperin ranjangnya, dan duduk. Dia ngulurin tangan dan nyentuh dahinya.
Ngerasa tangannya yang kecil dan dingin nyentuh dahinya, bulu mata Derek bergetar. 'Gue nggak demam, gue ngantuk, gue bakal baik-baik aja kalo gue tidur sebentar.'
Dahinya agak panas, tapi dia nggak demam.
Mungkin juga dia kebanyakan mikir.
'Oke, kalo gitu lo istirahat aja.'
Bertha narik tangannya lagi. Dia mau berdiri dan pergi pas tiba-tiba ada kekuatan yang kuat narik dia erat-erat.
Nunggu dia bereaksi, dia nyadar orang itu meluk pinggangnya, dan naruh kepalanya di dadanya, setengah badannya tiduran di pangkuannya.
Awalnya, dia kaget, nggak nyangka dia berani banget kali ini.
'Lepasin.'
Nggak cuma Derek nggak ngelepasin dia, tapi tangan yang megang pinggangnya malah makin erat.
'Biarin gue meluk lo sebentar, cuma sebentar.'
Bertha bengong selama dua detik. Dia tiba-tiba inget kalo malem sebelumnya dia bilang bakal bener-bener putusin hubungan sama dia. Wajahnya langsung dingin.
Dia ngulurin tangannya, dorong lengan Derek dengan kuat.
'Lepasin gue. Apa lo lupa identitas lo? Di vila ini, gue pemiliknya, lo pembantunya.'
Derek nggak punya banyak tenaga. Ngeliat tangannya mau didorong sama Bertha, dia memohon pelan. 'Jangan... biarin gue meluk lo sebentar, sekali aja…'
'Cuma sekali lagi.' Tapi, dia nggak ngomong kata-kata itu.
Bahkan kalo dia bisa bertahan hidup tiga hari lagi di penyergapan di hutan di pinggiran timur kota, dia tetep harus balik ke kota S buat nyelesaiin konflik di keluarganya. Tetep aja, nggak ada kesempatan buat ketemu Bertha lagi.
Dia pengen inget wangi tubuhnya dan lengannya yang lembut selama waktu terakhir ini.
Bertha keras kepala, dia tetep narik tangan Derek. 'Lepasin gue, gue harus balik ke kantor.'
'Jangan, gue mohon…'
Suaranya lembut banget, nadanya penuh kesakitan.
Bertha langsung kaget. Apa dia lagi mohon ke dia?
Baru-baru ini dia nyerah dan pura-pura kasihan sama dirinya sendiri, tapi dia tau kalo di dalemnya dia tetep arogan banget.
Ini pertama kalinya dia mohon ke dia.
Bertha nggak ngomong apa-apa lagi, seluruh tubuhnya kaku buat Derek meluk.
Kamarnya sepi, nggak ada suara.
Kayaknya waktu lagi berhenti.
Tapi alis Derek makin berkerut.
Setiap hembusan napas bikin seluruh badannya sakit.
Karena dia nggak pake obat, perasaan sakit ini terus meningkat, makin lama makin sakit.
Tapi, nyium wangi di tubuh Bertha itu manis banget sampe dia nggak mau pergi.
Tubuh bagian atasnya tiduran di pangkuan Bertha. Bertha ngerasa banget napasnya makin berat.
Status ini nggak bener.
'Udah hari kelima sejak luka di punggung lo. Seharusnya lo nggak sesakit dulu. Kenapa lo kesel?'
Derek nggak ngomong apa-apa.
Bertha curiga, dia meraih kerah belakang kemejanya, tapi Derek megang pergelangan tangannya.
'Gue baik-baik aja. Lagian, gue udah pake obat. Kalo lo buka perbannya, gue harus pake obat lagi.'
Lo bener, tapi...
'Tapi kenapa lo keliatan sakit banget? Apa lo luka lagi waktu lo keluar hari ini?'
Jawabannya adalah keheningan yang panjang.
Bertha dengan marah ngacak-ngacak rambut pendeknya dan dengan lembut ngomel ke dia. 'Siapa yang ngajarin lo buat nggak nyaut ke majikan lo? Apa anggota departemen penyelidikan rahasia mukul lo lagi? Lo berdiri, dan buka baju lo biar gue liat.'
Harus buka baju lagi?
Derek ragu-ragu, dia baru aja mau jawab pas Tommy ngetok pintu.
'Nona, pengawal rumah Felix udah dateng.'
'Kenapa pengawal rumah Felix dateng ke gue?'
Apa rumah Felix tau tentang hilangnya Bruno dari tempat dia?
Tommy bilang. 'Nona rumah Felix yang bikin masalah, tapi pengawal rumah Felix nggak bisa nemuin Tuan Bruno, mereka cuma tau Nona, jadi mereka berharap Nona bisa dateng bantu mereka, apa Nona mau dateng?'
Bertha nggak nyaut.