Bab 48
Mikirin ini, Laura jadi nggak tenang. Dia buru-buru ganti baju, pake topeng, langsung keluar pintu, dan langsung naik mobil buat pergi ke sana.
---
Derek keluar dari kamar mandi, sebelumnya matanya udah ngelihat video "Cinta"-nya Bertha.
Dia rada BT. Kalo dia tahu orang yang paling capek akhirnya dia sendiri, dia nggak bakal bantuin dia kali ini.
Dia tiduran di kasur, nutup mata, terus buka lagi dan ngelihat muka Bertha, apalagi matanya yang bulat besar berkilauan, polos sekaligus keras kepala, sekali lihat, bakal keinget terus.
Juga... rada familiar.
Kayak inget sesuatu, Derek mutusin buat nelpon Bertha.
Dia pengen nanya sesuatu yang jelas ke dia.
Ditelpon pertama kali, tapi nggak ada yang ngangkat.
Ditelpon kedua kali, ponselnya ngasih sinyal kalau panggilan nggak bisa dilakukan.
Emangnya dia nggak mau ketemu dia?
Derek melempar ponselnya dengan frustasi dan langsung tidur.
Laura nyampe di rumah kecil yang udah nggak kepake di luar kota.
Faye udah nungguin dia di depan pintu dari tadi.
Laura mendekat buat ngelihat luka di muka dan badan Faye. Dia langsung kaget dan takut.
"Kenapa? Kenapa lo luka kayak gini?"
Faye nunduk, nggak kelihatan ekspresi di matanya. "Di jalan, ceweknya protes keras. Akhirnya, ada kecelakaan kecil. Gue nggak sengaja kebanyakan ngasih obat, dia..."
"Gue masuk dan lihat."
Faye nghentiin dia. "Lo ke sini sendirian malam ini, apa Miss. Karlina tahu?"
Muka Laura langsung jadi gelap, nggak seneng banget.
Setiap hari, Karlina selalu bersikap sombong. Susah banget buat Karlina datang ke kota S.
Laura dan Karlina cuma rekan bisnis, mereka nggak deket, jadi apapun yang terjadi, dia harus lapor ke Karlina.
Semakin dipikirin, semakin marah dia. Laura melotot ke Faye dan bilang. "Lo orang suruhan Karlina buat kerja buat gue. Dia udah nggak di Kota X lagi. Lo cuma perlu dengerin perintah gue, ngerti?"
Faye nunduk lebih dalam lagi. "Ngerti kok."
"Misi lo udah selesai sekarang, pergi sana."
"Iya."
Faye selesai ngomong tapi masih berdiri.
Di luar rumah kecil yang nggak kepake, cuma ada cahaya yang kedip-kedip dari terang ke gelap. Nggak mungkin lihat jelas ekspresi apa yang ada di muka berdarah itu.
Laura ngelihat Faye belum pergi juga, dan dia BT banget. "Lo nggak ngerti apa yang gue bilang?"
"Oke deh." Sebelum pergi, Faye ngeluarin ponsel dari kantong jaketnya dan ngasih ke Laura. "Ini ponsel cewek itu. Ada orang nelpon dia tadi. Gue takut ganggu rencana lo jadi gue matiin suaranya."
"Gue tahu." Laura dengan sombong ngambil ponsel itu.
Nunggu Faye pergi, Laura nyalain ponsel Bertha dan langsung ngelihat panggilan tak terjawab di layarnya.
Cuma dengan ngelihat itu, Laura udah marah.
Walaupun dia nggak nyebut nama peneleponnya, dia tahu banget siapa itu.
Udah malam, Derek yang inisiatif nelpon Bertha.
Kalo dia, setiap kali dia inisiatif nyari dia, setelah ketemu lagi, Derek nggak pernah merhatiin dia.
Dasarnya apa?
Jelas-jelas dia tunangannya, dan cewek itu orang ketiga yang ganggu hubungan mereka.
Derek dan Bertha udah cerai, buat apa dia nelpon dia?
Semakin Laura mikir, semakin marah dia. Dia nggak bisa nyembunyiin mata benci dan jahatnya.
Dia dengan marah ngangkat ponsel Bertha tinggi-tinggi, pengen langsung ngehancurinnya.
Tapi dia tiba-tiba berhenti. Pikiran bagus muncul di benaknya.
Dia pake ponsel Bertha dan ngirim SMS ke Derek.
Setelah itu, Laura dengan agresif ngelempar ponsel Bertha ke lantai. Seolah marahnya belum reda, dia pake hak tinggi buat nginjek ponsel itu, sampe layar ponselnya pecah, baru dia berhenti.
Saat ini, dia ngelihat ke arah ruangan yang nggak kepake, malam ini dia bertekad nggak bakal biarin Bertha punya kesempatan buat kabur.
Mikriin gitu, dia langsung nge dorong pintunya. Ruangan di dalemnya gelap banget, nggak ada cahaya sama sekali.
Ada apa nih? Apa Faye nggak ninggalin lampu minyak?
Laura curiga dan maju dua langkah, debu di ruangan itu bikin dia batuk beberapa kali.
Gelap banget, dia nggak bisa lihat apa-apa.
Tiba-tiba, Laura ngerasa panik, dia mau keluar nyari Faye, nyuruh dia bawa lampu minyak.
Tiba-tiba pintunya ketutup.
Nyadari ada yang salah, Laura langsung lari ke sumber cahaya dan ngetok pintu. "Siapa? Siapa di luar? Faye? Lo kan, Faye? Buka pintu buat gue."
Nggak ada gerakan di luar pintu.
Sepi banget sampe bikin orang takut.
Laura narik napas, berusaha buat tenang, dia balik badan, ngandelin perasaan buat meraba-raba, dan teriak di saat yang sama. "Bertha? Bertha, lo di sini?"
Nggak peduli seberapa keras dia teriak, yang dia terima cuma keheningan.
Nyadari kalau dia sendirian di ruangan kecil ini, Laura langsung kehilangan semua pertahanan.
Apa Bertha lagi main curang?
Tapi Faye kan suruhan Karlina, gimana bisa dia bantuin Bertha nyelakain Laura?
Mungkinkah Karlina udah kerja sama dengan Bertha?
"Nggak mungkin. Nggak bisa kayak gitu..."
Laura ngerasa bingung banget di hatinya. Tangannya megangin kepalanya. Dia jongkok ketakutan, meringkuk dan gemetar.
Kegelapan tanpa akhir memenuhi dia dengan ketakutan dan putus asa.
Tiba-tiba ada langkah kaki di luar ruangan.
Laura langsung punya harapan, dia berdiri dan dengan panik ngetok pintu. "Siapapun di luar, keluarin gue. Cepetan buka pintunya."
Suara pintu dibuka.
Sosok tinggi masuk, terus orang kedua, orang ketiga...
Mereka semua cowok yang dia suruh buat ngurus Bertha.
Laura mau bersandar di sumber cahaya buat lari keluar pintu, tapi langsung dia ditahan sama salah satu cowok kuat itu.
"Lo salah orang. Bukan gue. Gue bukan Bertha."
Balasan dia adalah tamparan keras.