Bab 273
Bertha selesai ngurus Anselm, dia nyuruh Liam buat beresin semuanya, terus dia langsung balik ke rumah sakit.
Terus, pas dia keluar dari lift, dia langsung lihat seorang cowok meringkuk di lorong depan pintu kamar rumah sakit.
Sosok yang lemah, menyedihkan, dan tak berdaya itu rasanya kayak jarum menusuk hatinya, sakit banget.
Dia kayak langsung lari ke sana, meluk dia, nada marahnya lembut dan hangat. 'Kenapa kamu di luar? Kamu baru operasi, gak boleh kedinginan.'
Shane meluk pinggang rampingnya erat-erat. Rasa bahagia kayak ilang terus muncul lagi, bikin hidungnya perih dan matanya yang gelap penuh air mata.
'Aku tahu... kamu bakal datang...'
Hati Bertha makin sakit.
Awalnya, dia gak tega ninggalin dia sendirian nahan siksaan di ruang operasi. Mumpung ada waktu luang, dia bantuin dia ngurus Anselm buat ngilangin emosinya, tapi gak nyangka dia bangun sebelum dia balik.
'Maaf, ini salahku tapi aku gak pergi. Oke, jangan berdiri di sini lagi, nanti masuk angin. Masuk aja, kita lanjut ngobrol.'
Shane meluk pinggangnya, dengan lembut nyenderin dagunya di bahu dia, gak mau lepas.
Bertha pengen nyingkirin tangannya dari pinggangnya, tapi mikir badannya lagi sakit, dia takut nyakitin dia, gak tega buat bertindak, jadi agak bingung.
'Aku bilang aku gak bakal pergi. Kamu gak dengerin aku, kan? Jadi, aku pergi aja?'
Dia pengen ngeledek dia dikit, tapi Shane mikir dia bakal pergi. Wajahnya langsung pucat. Dia langsung berhenti meluk dia. Dia berlutut dan pengen berlutut.
Bertha lihat gerakannya dengan jelas, dia langsung nyangga dia, sakit banget sampai dia gak bisa napas.
Satu kalimat dari dia bisa bikin dia takut sampai pengen berlutut dan minta maaf. Apa mungkin sikap dia ke dia dulu seburuk itu? Sampai bikin dia gak aman kayak gini.
Shane itu yang megang Miller Corporation, gimana bisa dia bikin dirinya serendah ini?
Sebelum dia ke rumah sakit, Shane udah menderita sendirian lebih dari setengah jam, dia menderita sampai mental dan fisiknya kelelahan, dan dia sangat kurang percaya diri.
Lihat dia sekarang, dia pengen ngeluarin hatinya buat buktiin ke dia.
Bertha berusaha nahan air matanya, dia menghela napas pasrah, niruin nada membujuknya dari tadi, dan bilang. 'Aku gak marah, dan aku gak bakal kemana-mana. Nurut balik ke kasur dan tiduran. Aku bakal dengerin penjelasan kamu pelan-pelan, oke?'
Dia bantuin Shane ke ranjang rumah sakit dan nutupin dia pake selimut.
Tapi dia baru selesai operasi, badannya lemah, dia berdiri di lorong lebih dari setengah jam, dan seluruh badannya dingin banget.
Bertha bantuin dia nyalain penghangat ruangan, dia duduk di samping tempat tidurnya.
Dia menuangin dia segelas air panas dan nyerahin ke tangannya, bilang. 'Ada beberapa hal pas operasi kamu yang Liam jelasin banget ke aku. Aku gak perlu kamu jelasin lagi, tapi aku punya beberapa pertanyaan dan butuh kamu jawab.'
Shane ngangguk.
'Kenapa kamu jadi Derek? Kalo kamu Shane, berarti siapa Derek?'
Shane megang tangan kecilnya, ngerasain telapak tangannya yang hangat, terus dia ngomong. 'Aku sama Derek gak ada hubungan darah. Derek itu anak Nyonya Victoria. Sama kayak aku, dari kecil, Derek dibawa ke Biro Investigasi Nasional sama ayahnya. Sayangnya, Derek meninggal kena bom. Ayahnya sedih banget. Karena dia gak mau istrinya sedih, dia nyuruh aku pura-pura jadi Derek karena aku seumuran sama Derek. Gak ada yang tahu identitas asli aku di kota X. Mulai saat itu aku jadi Derek, aku bantuin dia berbakti ke ayah dan ibunya, bantuin dia pulihin Tibble Corporation.'
'Jadi gitu.' Bertha nundukin matanya. 'Jadi enam bulan lalu, guci kamu palsu? Badan kamu dibakar sama Archie, itu juga palsu?'
'Abunya asli, itu punya Derek, kalo soal badan, waktu itu Liam nemuin cowok yang badannya mirip aku karena apinya udah ngehancurinnya, Archie yakin gak ada yang bakal nemuin.'
Suaranya serak dan lembut, dan pas matanya ngeliat ke Bertha, ada cahaya pucat di matanya.
'Bertha, bukan berarti aku sengaja bohongin kamu. Kalo aku balik ke kota S dan ngejalanin rumah Miller, terus... aku beneran gak bisa balik lagi, tapi kamu tahu, pas aku tahu kamu itu cewek terkenal, harga rumah Griselda, aku seneng banget.'
Bertha gak ngomong apa-apa, dia cuma natap dia diem.
Ditatin sama dia dengan wajah tanpa ekspresi, Shane bingung. 'Pas resepsi malam itu, aku sengaja gak ngakuin kamu, aku bohong sama kamu, aku salah. Kalo kamu masih marah, kamu terus hukum aku, aku terima, oke?'
'Gak mungkin.'
Shane gak nyangka dia nolak sekeras itu, dia ngerasain sakit di hatinya.
Bulu matanya yang panjang dan lentik pelan-pelan turun, dia gak bisa nyembunyiin kesedihan di matanya.
Pas dia gak merhatiin, Bertha nunduk, dia pelan-pelan nyium matanya, keningnya, wajahnya, dan akhirnya bibirnya yang tipis dan dingin.
'Idiot, aku udah gak marah lagi.'
'Beneran?'
Mata Shane yang hitam pekat sekali lagi berbinar. 'Jadi kamu belum batalin pertunangan, kan? Kamu udah maafin aku?'
'Mau?'
Bertha nyium bibirnya lagi, pake tindakannya ke dia buat nunjukkin sikapnya.
Mereka berdua nutup mata, mereka ngerasain napas masing-masing, napas mereka makin lama makin cepet.
Pas lagi ciuman, Shane aktif menghindarinya. Dia nolak buat lanjut ciuman yang dalam.
'Kamu kenapa? Kamu gak suka?'
Bertha gak bangun, tapi dia ngejauhin dia.
'Bukan gitu maksud aku...'
Napas Shane lama-lama jadi gak karuan, telinganya agak memerah, matanya yang gelap penuh khawatir, dan dia noleh ke samping.
Bertha lihat penampilannya, dia nebak pikirannya. 'Kamu mau aku?'