Bab 341
Lagian, ada orang luar di sini. Bertha gak bilang kalau Shane nyembunyiin sesuatu darinya. Sebelum itu, dia juga berniat bohongin dia.
Dia ngeliatin Shane, senyumnya lembut banget. 'Hal kecil kayak gini gak perlu dibikin emosi, deh. Shane, gimana menurutmu?'
Shane ngangguk, jujur banget.
Bertha narik pandangannya, dia ngeliatin rokok di meja. 'Tapi nanti, jangan simpan rokok lagi, gak bagus. Liam, semua rokok di laci, jual aja murah ke orang.'
'Murah?'
Mata Liam melebar, itu semua rokok impor kualitas bagus, mahal banget.
Ini darahnya, hatinya, kalau dijual murah, rugi, dong. Sakit hatinya.
Shane ngelirik dia. 'Lo dengerin aja kata Bertha, malam ini, lo bawa semua rokok ini, gue gak mau lihat lagi.'
Wajah Liam kelihatan sedih.
'Siap, Tuan.'
Liam lagi ngurusin rokok di ruang keluarga waktu Bertha berdiri dan gandeng tangan Shane. 'Ayo, kita naik ke atas.'
Nadanya tenang banget, tapi jantung Shane masih deg-degan.
Udah banyak dijelasin, tapi... apa dia masih harus balik ke kamarnya dan kena pukul?
Perasaannya campur aduk, jadi dia biarin Bertha narik dia balik ke kamar utama.
'Duduk.'
Shane nurut, duduk, jantungnya gugup banget.
Dia gak yakin Bertha masih marah atau gak, tapi dia tahu kalau dia benci dipukul.
Kalau dia gak takut Bertha marah, dia udah pengen ngebuang penggaris di laci sama papan cuci di lemari ke sungai dari dulu.
Waktu Shane mikir, dia lihat Bertha jalan ke nakas. Dia naruh tangannya di laci pertama di lemari, siap buat buka.
Dia tahu banget apa yang ada di dalem.
Belum sempat Bertha buka lacinya sepenuhnya, dia ngerasain sakit di hatinya, mengerutkan keningnya keras, dan ngomong pelan. 'Bertha, gue... gak enak badan…'
Bertha langsung lari buat ngecek dia. 'Jantungmu gak enak? Dada lo sakit lagi? Kok bisa begini? Padahal udah minum obat seminggu, penyakitmu gak bakal gampang kambuh.'
Napanya lemah, bulu matanya turun, wajahnya ganteng pucat, seluruh badannya lemas, dia kehilangan semua kekuatannya dan nyender di lengan Bertha.
Bertha khawatir banget. 'Lo gak bisa kayak gini. Gue ambil obat khusus buat ngontrol angina lo yang kambuh.'
'Gak usah.'
Dia mau berdiri waktu ada yang megang pergelangan tangannya.
Dia lembut banget, tanpa sedikitpun rasa lemas atau gemetar karena sakit kayak tadi.
Seolah sadar kalau dia udah berlebihan, Shane pelan-pelan ngelepasin, dia naruh kepalanya di lengan Bertha dan ngomong pelan. 'Maksud gue, kalau lo megang gue kayak gini, gue merasa lebih baik…'
Bertha berhenti ngomong.
Dia nunduk, narik matanya yang dingin, dia diem aja ngeliatin kepala Shane, dia ngerti di hatinya.
Hari ini, bukan cuma dia bohongin dan nyembunyiin dari dia, tapi sekarang dia juga akting.
Awalnya, dia gak peduli. Dia ambil salep pereda bengkak dari laci dan ngolesin lututnya sendiri.
Dia tenang nepuk punggungnya, hati-hati nenangin dia.
Setelah beberapa menit dibujuk, dia ngomong. 'Masih gak enak badan?'
Kelemahan di wajah Shane gak berkurang, tapi dia sengaja kelihatan kuat dan ngangguk.
'Gue baik-baik aja kalau lo di sini.'
Bertha diam-diam kagum sama pura-puranya yang memelas dan ngebantu dia buat tiduran di kasur. Dia ngebantu dia naruh bantal di bawah kepalanya dan nutupin dia pakai selimut.
'Lo telat setengah jam. Belum minum obat juga malam ini. Tunggu sebentar, gue mau ambil obat buat lo.'
'Oke.'
Kurang dari dua menit, Bertha naruh air hangat dan kotak obat di meja samping tempat tidur. Pertama, dia nutup pintu, ngunci, dan terus duduk di kasur.
Shane ngeliatin obatnya dengan rasa sakit di matanya. 'Malam ini, bisa gak lo suapin gue obat?'
Ekspresi Bertha tenang, dia ngasih dia gelas air dan nanya. 'Menurutmu, penampilanmu malam ini gimana? Pantas dapat hadiah?'
Dia langsung nunduk sedih, dia tahu kalau dia salah.
Kalau malam ini, dia beruntung gak kena pukul, dia bakal berterima kasih sama Bertha, dia gak bakal berani minta hadiah sama Bertha.
Setelah balikin tatapan gak mau di matanya, dia ambil gelas air yang dikasih Bertha, dengan sekali teguk, dia masukin selusin pil ke mulutnya dan langsung minum, tapi karena dia minum airnya cepet banget, dia keselek, dia batuk.
Bertha cepet-cepet ngebantu dia ngusap punggungnya, ngebentak dia dengan suara pelan. 'Bego, lo harusnya minum pelan-pelan. Kalau lo minum semua obat sekaligus, apa lo gak ngerasa pahit di mulut?'
Dia ngeluarin sebungkus permen dari sakunya yang udah dibeli khusus buat dia hari itu.
Setelah ngerobek bungkus gunting, dia ngambil satu pil dan naruh sisanya di nakas samping tempat tidur.
Jari-jarinya yang putih pelan-pelan buka kertas permen dan nyumpel ke mulut Shane. 'Ke depannya, lo gak boleh nyakitin tubuh lo kayak gini lagi. Kalau lo ngerasa obatnya pahit, makan aja sepotong permen. Kalau lo mau pakai rokok buat nenangin diri, itu gak efektif dan bakal nyakitin tubuh lo. Lo gak bisa mikir kayak gitu lagi, oke?'
'Gue tahu.'
Shane megang permen di mulutnya, suaranya agak gak jelas.
Dia hati-hati nikmatin rasa gulanya, manis banget, punya aroma susu, dan itu bikin dia merasa manis.
Khususnya, permen ini dibeli langsung sama Bertha, dia masukin ke mulutnya, dan seluruh hatinya merasa manis.
Waktu makan permen, dia ngebuka tangannya ke arah Bertha, pengen dipeluk sama dia.