Bab 223
Seluruh tubuh Bertha dingin, dia lipat sabuknya jadi dua, dan matanya bahaya, dia angkat sabuknya tinggi-tinggi, pura-pura mau pukul punggung Derek yang luka.
Tapi matanya berhenti di luka seukuran tangan di punggungnya.
Daging dan darah merah terang, luka yang jelek, gampang banget narik perhatian orang.
Lagipula, luka ini gara-gara dia lindungin dia, kalo nggak, bagian yang luka bisa jadi wajahnya.
Mikirin ini, hati Bertha rumit banget. Pergelangan tangannya kayak dikendaliin kekuatan misterius. Dia nggak tega mukul dia.
Dia diam-diam menghela napas, seluruh tubuhnya tiba-tiba kayak kehilangan semua tenaga.
Karena dia sadar, dia mulai nyakitin dia.
Perasaan ini bikin dia nggak nyaman banget.
Tiga tahun di keluarga Tibble kayak hidup di neraka, dia nggak pernah ngerasain sedikit pun kehangatan. Setelah cerai, selama ini, dia ngerasain perubahan dan perasaan Derek. Kalo dia bilang dia nggak tersentuh, dia bohong.
Tapi.
Itu jalan lama, dia nggak bakalan balik lagi.
Terus-terusan kehilangan dia dan pikirannya, pada akhirnya, orang yang terluka tetep dia.
Dia gemetaran dan genggam erat sabuknya seolah udah buat keputusan besar.
Suara terdengar.
Bertha nggak nyerang luka di punggungnya. Di sebelah luka itu ada benjolan merah seukuran dua ujung jari di kulitnya yang berkilau, warna madu.
Derek nggak gerak, mulutnya nggak ngucapin sepatah kata pun, dan dia nggak mengerutkan kening.
Kecuali ototnya, seluruh tubuhnya tanpa sadar tegang, sisanya kayak nggak ngerasain sakit.
Bertha lihat lagi tanda merah yang dia buat, tanpa sadar lihat luka di tengah punggungnya, luka daging yang nyampur kayak luka bakar di matanya.
Tiba-tiba hatinya kacau, dia nggak bisa berantem untuk kedua kalinya.
'Lo pake baju, terus keluar.'
Dia angkat kakinya dan tendang bahu Derek keras-keras, terus lempar balik sabuknya ke dia. 'Pergi sana, gue capek.'
Dengan itu, dia memunggungi Derek dan meringkuk di selimut.
Tendangannya tiba-tiba banget, Derek nggak bisa siap-siap, dia agak goyah.
Dia pelan-pelan pake sabuknya, berdiri, dan pergi ke meja rias, ngambil kemeja dan rompinya.
Karena perbannya udah dibuka, kalo dia langsung pake kemejanya, itu bakal bikin baju kotor, jadi dia cuma bisa megang kemeja di tangannya.
Sambil miringin kepalanya, dia lihat Bertha tiduran miring dengan punggung menghadap dia. Dia belum ganti baju jadi dia cuma pura-pura tidur.
'Bertha, lo masih pake mantel. Kalo lo tidur kayak gitu, nggak nyaman.'
Bertha bilang dengan marah. 'Gue suka, pergi sana, cepetan.'
Derek tetep nggak gerak, dia berdiri di ujung kasurnya, matanya masih tertuju ke tubuhnya.
Bertha ngerasa dia marah, dan duduk, wajah kecilnya penuh amarah, dia ambil bantal dan lempar ke Derek.
'Keluar.'
Derek ngambil bantalnya buat dia dan naruh di meja rias.
Dia ambil bantal lain dan lempar ke dia.
Derek nggak menghindar, dia ambil, senyum lembut di wajahnya.
Bertha beneran marah, dia lempar semua benda di meja rias kayak kotak tisu, perhiasan, buku,... ke Derek.
Alhasil, Derek ngambilnya gampang banget, terus dia bantu dia naruh di meja rias.
Dia masih mempertahankan senyum lembut di wajahnya.
Tapi di mata Bertha, senyum itu kayak ngejek dia.
Dia ngamuk, tangannya ngubek-ngubek di meja samping tempat tidur sebentar, tapi nggak ada apa-apa, dia nunduk buat lihat, kecuali lampu meja, semua perabotan udah dibuang sama dia.
Jadi dia dengan bersalah meraih lampu meja, yang masih dicolok. Dia nggak matiin lampunya dulu tapi pake tenaga buat cabut kabelnya.
Derek lihat gerakannya dan cepet-cepet angkat tangannya tanda menyerah. 'Nggak, gue salah, gue bakal langsung pergi.'
Bertha tatap dia tajam, sampe dia nutup pintu, keluar, dan menghilang dari pandangannya, baru dia balikin lampu meja ke tempatnya.
Lihat benda-benda yang ditaruh di meja seberang, dia diem-diem duduk di kasur, ambil bantal, dan naruh di kasur, dia ambil beberapa napas dalam-dalam buat stabilin suasana hatinya, dan terus dia masuk kamar mandi dan cuci muka.
Besok paginya.
Waktu sarapan, Bertha nggak ngomong sama Derek. Nggak peduli dia ngomong apa, dia nggak peduli.
Setelah diam-diam selesai sarapan, dia pergi ke kantor buat kerja.
Karena dia udah ngasih Bruno ke Derek, dia cuma harus nunggu hasilnya.
Sampe di kantor, dia telepon kakak laki-laki tertuanya, Fawn.
Dia kasih tau Fawn nama obat yang disebut Derek semalam.
Yang dibilang Fawn sama kayak yang dibilang Derek.
Dia hubungi geng Naga Hitam, dia bilang ke mereka buat cari foto kerusakan kulit yang disebabkan S404 yang kuat.
Sepuluh menit kemudian, Naga Hitam ngirim gambar ke hapenya.
Dia lihat baik-baik foto itu, persis kayak luka di punggung Derek.
Jadi waktu itu, apa yang dia bilang bener?
Tapi kalo itu nggak nyakitin nyawa Derek, kenapa Bruno bilang dia bakal bantu dia urus Derek?
Bertha selalu ngerasa ada yang kurang, tapi nggak tau apa itu.
Dia telepon Tommy. 'Selama ini, tolong diem-diem pantau Derek, laporan semua tindakannya setelah dia keluar. Lo nggak boleh biarin dia tau tentang lo dan coba dengerin semua yang dia omongin ke anak buahnya.'
Walaupun Tommy nggak tau apa maksud dia, dia tetep ngangguk tanda setuju.
—
Setelah Bertha keluar, Derek cuci piring, bersihin rumah, dan pergi ke pinggiran kota buat selesain masalah Bruno.
Liam lihat bosnya, dia pelan-pelan lari di depan Derek, senyum menjilat.
'Bos, selamat pagi.'
Derek lirik dia. 'Ada apa?'
Liam geleng kepala. 'Dia nggak ngomong apa-apa. Soalnya, dia nyelinap ke mana-mana buat selidikin diam-diam. Dia keras kepala banget.'
Derek lirik sekeliling ruangan kecil, ekspresinya dingin.
'Besok paling lambat, lo harus cari cara buat bikin dia cerita semuanya.'
'Siap.'