Bab 237
Di pemakaman, Nyonya Victoria nangis kejer sampe hampir pingsan. Untungnya, Rose ada di sampingnya buat bantu dan nenangin, akhirnya dia bisa tenang lagi.
Akhirnya, pemakaman selesai, dan semua orang, temen, dan keluarga pada pergi satu-satu, pada nggak enak semua.
Ada yang ngedesah kasihan, bilang Derek, cowok jagoan di dunia bisnis, meninggalnya kepagian.
Ada juga yang kasihan sama keluarga Tibble, cuma ada dua cewek, dan Tuan Devon nggak becus, takut mereka bakal susah di hari-hari ke depan.
Nungguin semua orang pergi, Rose bantuin Mama keluar dari pemakaman.
Begitu Rose ngangkat kepala, dia ngeliat Bertha berdiri di bawah pohon. Dia langsung emosi. "Ini semua gara-gara lo! Kalo bukan karena lo, dia nggak bakal mati! Ngapain lo di sini?!"
Bertha diem aja, dia nundukin kepala dan ngeliatin tanah.
Venn nggak mau adiknya diomongin orang, dia langsung pasang muka serius. "Jaga mulut! Bertha nggak tahu apa-apa, tapi abang lo yang milih sendiri."
"Dia nggak tahu?"
Rose maju selangkah, dia ngeliatin Bertha dengan mata merah karena kebanyakan nangis. "Gampang banget ngomongnya. Abang gue mati karena dia. Liat aja, nggak ada setetes air mata pun, bener-bener cewek nggak punya hati..."
"Rose."
Rose belum selesai ngomel, Nyonya Victoria nyela buat berhentiin dia.
Rose nggak percaya, dia ngeliatin Mamanya. "Ma. Dia yang bunuh abangku. Salah kalo aku ngomelin dia? Mama kan benci banget sama dia, kenapa Mama malah belain dia?"
Bertha masih nundukin kepala, nggak nyaut sepatah kata pun.
Wajah Nyonya Victoria masih basah sama air mata. Dia pelan-pelan jalan ke arah Bertha, terus nunduk dikit.
Rose kaget. "Ma, Mama ngerti nggak sih apa yang Mama lakuin? Kenapa Mama nunduk sama dia?"
Nyonya Victoria masih nggak peduli sama Rose, dia cuma ngeliatin Bertha, nadanya berat, dia ngomong. "Aku minta maaf sama kamu mewakili Rose. Karena dia sakit hati banget, jadi ngomongnya nggak sopan. Aku harap kamu bisa maafin dia."
Bertha butuh penjelasan.
Sebelumnya Nyonya Victoria selalu kasar sama dia, kenapa hari ini beda banget?
"Rose bener, kematian Derek tanggung jawabku, kenapa kamu nggak benci aku?"
Dua air mata jatuh dari pipi Nyonya Victoria, sambil senyum pahit, cepat-cepat ngapus air matanya. "Venn bener, kalo dia milih gitu, pasti karena dia sayang banget sama kamu, aku hargai keputusannya."
Kata-kata itu bikin hati Bertha kayak diremes, sakit banget, hidungnya tiba-tiba berasa pedih.
Dia ngepalin tangan biar air matanya nggak jatuh.
Nyonya Victoria ngambil surat dari tasnya, nggak ada nama penerima di amplopnya, terus ngasih ke Bertha. "Ini suratnya dia. Dia mau kamu baca sendiri. Jangan khawatir, aku belum baca sama sekali."
Tangan Bertha gemeteran, terus dia ngambil suratnya.
Nyonya Victoria nambahin. "Kamu simpen aja, tunggu sampe kamu pulang, terus baru baca."
Selesai ngomong gitu, dia sama Rose pergi dari pemakaman.
Bertha hati-hati nyimpen suratnya di tas, nungguin semua orang pulang, terus pelan-pelan jalan ke pemakaman, di depan nisan Derek.
Di batu nisannya, ada foto kecil.
Hujan turun deras, bikin foto itu kena beberapa tetes air.
Tapi Bertha masih bisa kenalin wajah ganteng seseorang yang songong dan dingin.
Itu Derek.
Waktu itu, dia nyari di rumah dan di hapenya, tapi nggak nemu foto dia. Nggak nyangka bisa ngeliatnya di batu nisan sekarang.
Dia ngelapin tetes air hujan di foto kecil itu berkali-kali, pelan-pelan dan sabar.
Ini satu-satunya cowok yang dia sayang banget. Mulai sekarang, dia nggak akan denger suaranya lagi.
Bertha berusaha nahan air matanya, dia nggak peduli sama hujan dan angin, dia cuma duduk dan ngelapin hujan dari fotonya.
Venn ngeliat dia kayak gitu, dia sedih. "Hujannya deras banget, gimana caranya kamu bersihin air hujan?"
Mata Bertha nunjukin keras kepala. "Dia takut dingin dan nggak suka kena hujan. Aku mau nyelesaiin satu hal terakhir ini buat dia."
Venn ngedesah pasrah. Dia inisiatif ngangkat payung hitam yang dia pegang dan ngasih ke dia.
Bertha ngambil, buka payungnya, terus hati-hati nutupin nisan Derek. Dia ngambil sapu tangan dan teliti ngelapin setiap tetes air di fotonya.
"Kamu masih sayang dia, kan?"
Bertha nggak jawab.
Dia pikir dia bisa kuat dan tegas ngelepasin cintanya buat dia. Dia jalan dengan tegar tanpa noleh sekali pun.
Kalo dia masih hidup, kalo setelah dia dan dia cerai, mereka nggak akan pernah ketemu lagi, atau mungkin masing-masing bakal punya hidup yang beda, lebih bahagia.
Tapi...
Takdir selalu ngerjain dia.
Cowok ini meninggal karena dia.
Tiba-tiba dia ngerasa sakit sebelumnya nggak ada artinya, hatinya mungkin udah mau meledak karena rasa bersalah.
Dia narik napas dalem-dalem, berusaha nahan emosi menyakitkan di jiwanya.
Cowok itu nggak pernah balik, apa artinya ngomong sayang atau nggak?
Dia ngomong pelan. "Ayo pergi."
Venn bantuin dia berdiri, dia megang bahu Bertha yang kurus dan mereka berdua pergi dari pemakaman.
—
Setelah Bertha dibawa balik ke vila pantai sama Venn, hal pertama yang dia lakuin adalah masuk ke kamar Derek, duduk di kursi yang biasa dia dudukin, dan ngeliatin sekeliling kamarnya.
Nginget surat yang dia mau Bertha baca sendiri, Bertha buka tasnya dan cepet-cepet nemuin surat dengan pola tercetak di atasnya.
Beberapa hari lalu dia mikir Derek nggak bakal ngucapin selamat tinggal sama dia, tapi sekarang kayaknya dia akhirnya nggak kuat.
Dia pelan-pelan buka suratnya dan baca.
Mata dia langsung ngeliat baris pertama tulisan.
"Buat Bertha Griselda kesayanganku."
Tangan Bertha gemeteran, dia nggak percaya waktu ngeliat nama lengkapnya di bagian atas surat.
Dia... udah tahu identitas aslinya?
Dia udah tahu, jadi kenapa beberapa hari lalu waktu dia nyebutin abang ketiganya buat bikin dia kesel, dia malah pura-pura cemburu?
Apa dia sengaja ngerjain dia?