Bab 207
Bertha menjelaskan dengan dingin. "Obat yang dulu gue suntikin ke lo itu persiapan 023. Ini penawarnya 023. Nggak sakit kok. Setelah disuntik, kesehatan lo bakal cepet balik normal."
"Kenapa?"
Derek menggigit bibir putihnya, nahan banget rasa sesak napas, dia narik napas dalem-dalem dan nanya. 'Bukankah lo bilang... berdasarkan kontrak sampai kontraknya berakhir? Apa lo masih mau jelasin batasan sama gue?"
Hati Derek sakit kayak ditusuk pisau, rasa sesek di dadanya bikin dia hampir nggak bisa napas.
Lagian, dia harus ngelakuin sesuatu buat dapetin hati dia.
Bertha berbalik, dia ngambil kursi di sebelahnya dan duduk serius ngehadap dia.
'Gue nggak ngasih lo penawar karena pengen maksa kesepakatan, cuma karena gue lihat lo terus-terusan kesakitan akhir-akhir ini karena obat 023 bakal bikin sakitnya nambah. Kali ini lo nyelametin gue, dan gue bantuin lo ngurangin rasa sakit lo, kayak lo udah lunas semua utang lo."
Derek natap dia dengan tenang, dia nggak ngomong apa-apa.
Bertha lanjut ngejelasin. 'Soal kontrak yang dinegosiasiin terakhir kali, gue masih punya rekaman komitmen lo, gue nggak bakal bahas lagi."
Bertha bilang gitu, berarti dia udah nggak waspada sama dia lagi?
Apa ini berarti semua yang dia lakuin akhir-akhir ini udah bikin dia selangkah lebih deket sama dia?
'Lo nggak takut, setelah ngasih gue penawar, kalau di masa depan lo nggak bisa ngelawan gue, gue bakal nindas dan nyakitin lo?"
Bibir merah Bertha senyum mempesona.
Dia balik nanya. 'Emang lo bakal gitu?"
Bibir tipis Derek sedikit melengkung, dan dia jawab dengan tegas. 'Gue nggak bakal gitu."
Tiba-tiba Bertha menyipitkan mata, dan mulutnya bergerak-gerak. 'Jadi lo nggak takut kalau yang gue kasih ke lo bukan penawar, tapi obat penyiksa buat nyiksa lo?"
'Lo nggak bakal gitu."
Bahkan kalau dia begitu kejam, selama itu permintaannya, dia nggak bakal ragu dan nyuntik ke tubuhnya.
'Bener, gue nggak bakal gitu, ini penawar asli, sekarang ada di tangan lo, suntik aja," kata Bertha cuek.
Sekarang?
Derek ngelihat kotak di tangannya.
Dia hampir nyampe batas kekuatannya, seluruh tubuhnya udah kehilangan semua kekuatan.
Dengan kecerdasan Bertha, kalau dia nyuntik obatnya sekarang, pasti dia bakal sadar ada yang salah sama tubuhnya.
Dia nggak suka berutang budi sama orang lain. Kalau dia tahu kalau itu bukan asam sulfat di bar tapi virus biokimia S404, apa dia bakal ngerasa bersalah?
Tapi, bagaimanapun, itu bukan cinta...
Dia nggak ngomong, atau gerak.
"Kenapa? Takut ya?"
Derek geleng-geleng kepala, dia ngomong dengan suara pelan. 'Waktu itu gue disuntik, kali ini... bisa bantu gue nggak?"
Dia nyerahin kotak hitam itu dan ngomong agak canggung.
Bertha nggak jawab, dia cuma natap matanya dalam-dalam.
Derek nambahin lagi. "Cuma kali ini aja."
Bertha ngambilnya, dia lihat dia nggak ada niatan buat buka baju, tapi bersandar, bersandar di kursi.
"Lo ngapain? Lo harus buka baju dan kasih lengan lo ke gue."
Derek noleh, nunjukin lehernya yang sepucat kertas, *phallus*-nya yang seksi naik turun. 'Tolong suntik deket pembuluh darah di leher gue."
Bertha ngelirik dia, dan tanpa ragu, dia langsung nusuk lehernya, ngikutin keinginannya, nggak ada kekuatan di tangannya.
Nyuntik obat deket pembuluh darah leher itu sakit banget.
Tapi Derek cuma mengerutkan kening sedikit, dia nggak nunjukin ekspresi apa pun.
Suntikannya sepanjang jari kelingking, dan cuma butuh sepuluh detik buat Bertha buat nyelesaiin suntikannya.
Bertha ngebuang jarum suntik ke tempat sampah waktu dia berbalik dan nemuin Derek duduk diem, ngelihat langit pas matahari terbenam.
Seluruh tubuhnya penuh sama perasaan males dan nggak bertenaga.
Bertha selalu ngerasa ada yang salah sama dia, dia mau nanya tapi Derek ngomong duluan. 'Bertha, kalau gue mati, lo bakal inget gue nggak?"
Suaranya ringan dan lirih, bahkan agak cuek.
"Gue nggak bakal."
Bertha naikin alisnya, dia ngomong sarkas. 'Kalau lo mati, gue bakal cepet lupa keberadaan lo dan lanjutin hidup gue. Tapi gue denger bencana bakal berlangsung seribu tahun. Cowok manja kayak lo mungkin nggak bakal mati sekarang."
Derek ketawa, ada sedikit kasih sayang di suaranya. 'Lo... cewek yang kejam."
Yang lebih lucu lagi, berulang kali dia suka kejahatan dia, suka kekejaman dia, suka segalanya tentang dia.
Dia kejebak di dalamnya dan nggak bisa keluar.
Bertha juga nggak nyangkal itu. 'Gue nggak pernah bilang gue baik."
Derek cuma senyum, senyum lembut di bibirnya sangat pucat, dan bulu mata panjangnya yang melengkung bergetar, lemah.
Mata gelapnya sekarang ngelihat ke langit. Dia ngelihat langit, yang tiba-tiba jadi suram dan gelap saat ini.
Derek kayak orang sakit yang mau mati.
Semakin Bertha merhatiin dia, semakin aneh yang dia rasain.
Kondisinya parah banget.
Cuma asam sulfat, nggak bakal nyakitin tubuhnya secara internal, apalagi dia udah ngasih dia penawar 023.
'Dokter nggak nemuin masalah apa pun sama tubuh lo kemarin? Ayo, kita ke rumah sakit terbaik di kota buat periksa lagi."
Bertha mau nyamperin dan narik Derek pas Archie ngetok pintu dan masuk.
'Nyonya, telepon Anda belum menerima panggilan apa pun. Tuan Bruno sudah datang. Mobilnya sekarang parkir di depan gerbang vila. Dia bilang dia mau ngajak Anda makan malam malam ini."
Bertha ragu sejenak lalu mutusin buat bawa Derek ke rumah sakit dulu, dia terus ngomong. 'Ayo, kita periksa dulu."
Derek berhenti. 'Gue nggak apa-apa, gue cuma perlu istirahat dua hari. Lo harus makan sama dia, jangan bikin dia nunggu."
Bertha mengerutkan kening nggak percaya.