Bab 327
Suaranya sengaja dibesarkan, dia ngerjain dia terus.
"Wah, kesehatan Bos lagi nggak bagus, lo nggak bisa melawan, bisanya cuma nindas gue, gimana dong? Apa lo nggak punya harga diri dikit gitu?"
Shane kesel banget, sebagai cowok, agresivitas fisiknya bikin dia nggak mau kalah.
Tapi sekarang dia cuma bisa milih buat tunduk sama "kekuatan gelap".
Dalem hati, dia berjuang, tapi di luar, dia nunjukin tampang yang nggak mau nyerah. Dia mendengus dingin dan buang muka.
Shane nggak ngelawan, tapi dia juga nggak punya cara buat ngadepin dia.
Hatinya penuh kebencian, tapi dia cuma bisa ngambek.
Bertha ngelihat dia masih nggak mau ngaku salah, dia pegang dagu Shane yang dingin dan keras, maksa dia buat ngelihat ke arahnya.
"Kayaknya hukuman tadi belum cukup, Shane, mau lihat darah nggak?"
Begitu dia selesai ngomong, Bertha ngunci bibir Shane rapat-rapat, dan dia langsung nunduk lagi. Dia pura-pura mau gigit bibir Shane, yang udah merah dan bengkak.
"Jangan…"
Gigi Bertha ngegigit bibir tipisnya, tapi denger dia mengerang pelan, dia tetep nggak bisa bertindak.
Akhirnya, dia pelan-pelan ngebantu dia cium rasa sakit di bibirnya.
Napas yang bergantian.
Gigi dan bibir mereka saling terkait.
Ciuman yang panjang dan berlama-lama selesai, Bertha ngontrol napasnya yang cepat, dan dia megang wajahnya lagi.
Dia ngelihat dia dengan serius.
"Shane, dengerin. Gue cuma bakal bilang sekali."
"Gue bukan cewek murahan. Kalo cuma karena dosa, gue punya banyak cara buat nebusnya ke lo, tanpa harus pake hati dan hidup gue buat nebusnya."
"Lagian, gue nggak kasihan sama lo, gue peduli sama lo. Sesulit apapun jalan di depan, gue mau ada di samping lo, ngerasain sebagian penderitaan lo, berdiri di sisi lo."
"Gue bakal nyari cara buat ngerawat lo! Gue nggak bakal biarin lo mati, gue nggak selemah yang lo kira, gue nggak bakal gampang runtuh."
"Kali ini, percaya sama gue. Jalan hidup kita ke depan nggak cuma di tahun-tahun pendek ini, kita bakal terus maju buat waktu yang lama, dan kita bakal punya masa depan yang bagus. Itu masa depan yang gue ciptain buat lo."
Bertha ngomong dengan jelas, nggak pernah sebelumnya dia seserius ini.
Shane dan Bertha saling pandang, hatinya berdebar nggak terkendali.
Terutama kalimat "masa depan yang gue ciptain buat lo".
Bikin dia juga mulai serakah, bermimpi, dan berharap.
Di masa depan, dia bakal punya hari-hari di mana dia punya dia di sampingnya, dia punya dia buat dicintai dan dimanja.
Bertha kayak obatnya, ngebebasin semua kepengecutan, kebencian, dan penderitaannya.
Lapisan kabut perlahan muncul di mata Shane, matanya sedikit merah, dan bulu mata panjangnya basah karena uap.
"Bertha…" Punya dia adalah keberuntungan yang udah dia lakuin di kehidupan sebelumnya.
Shane meluk pinggang Bertha, dia nyembunyiin kepalanya di pangkuannya, ngerasain kehangatan tubuhnya.
Tangan Bertha nepuk-nepuk punggungnya, dan tangan satunya ngelus rambut pendeknya, nenangin dia.
Sinar matahari sore lewat jendela kaca, menerangi siluet mereka berdua, nutupin dua tubuh yang saling meluk dengan lapisan cahaya keemasan yang hangat.
Tahun-tahun yang damai.
Keharmonisan singkat itu terputus oleh erangan pelan Shane.
Bertha denger itu, dan dia juga nyadar otot-otot di punggungnya tegang, dan lengannya yang meluk dia juga sedikit gemetar.
Kondisinya nggak normal.
"Lo kenapa?"
Bertha langsung ngelepas tangan Shane, dia nyentuh dahinya.
Shane nggak demam, tapi wajahnya tiba-tiba jadi putih, nggak ada darah sama sekali, dan bulu matanya basah karena uap dan sedikit bergetar.
"Gue nggak apa-apa…"
Cowok itu buka mulutnya, suaranya lemah, nggak bertenaga.
Dia lagi berusaha buat nahan lagi.
Bertha ngerti banget Shane. Dulu, meskipun dia selalu suka pura-pura sengsara buat narik simpati, setiap kali dia sakit, dia nggak mau ngomong apa-apa buat ngehindarin bikin dia khawatir.
Semakin dia kayak gitu, semakin sakit hati Bertha.
Dia nyadar tangannya ada di depan dadanya. "Serangan jantung lo kambuh lagi? Obatnya mana? Lo bawa nggak?"
Shane kesakitan banget sampe dahinya banjir keringat dingin, dia geleng-geleng kepala.
Bertha langsung lari keluar dari ruang rapat, dia ngelihat ke arah Liam nggak jauh dari situ. "Obat peredanya mana?"
"Mungkin di kantor."
"Lo ambil sana. Cepetan."
"Siap."
Liam ketakutan sama ekspresi mendesak Bertha, dia nyadar sesuatu, dan dia langsung lari ke atas.
Bertha baru aja mau balik buat jagain Shane, pas tiba-tiba ada suara di belakangnya, dan Shane jatuh dari kursi kantornya ke lantai.
Dadanya makin sakit, dia meringkuk dan tiduran di lantai, seluruh tubuhnya nggak terkendali dan gemetar, dan urat biru muncul di lehernya.
"Shane."
Bertha lari, jongkok di lantai, dan meluk dia hati-hati, dia ngebantu dia ngelus dadanya, dia mau nyoba buat ngebantu dia ngilangin rasa sakitnya.
Liam cepet-cepet bawa obatnya. Setelah minum obatnya, kondisi Shane nggak jauh lebih baik.
Butuh waktu buat ngurangin gejalanya. Wajah tampan Shane lemah dan pucat. Seluruh tubuhnya nggak punya tenaga. Dia bersandar erat di pelukan Bertha. Dia harus berusaha buat bertahan sampe obatnya bereaksi.
Ngelihat dia seserius itu sakitnya, hati Bertha kayak ditusuk keras, bahkan organ dalamnya sakit.
Ini juga pertama kalinya Liam ngelihat Shane kena serangan jantung. Dia berdiri di samping, mondar-mandir, pengennya dia bisa nanggung rasa sakit Shane.