Bab 196
Di bar Warna.
Lampu-lampu di lantai dansa itu ajaib, memukau, berwarna-warni, biru, merah, ungu, dan kuning.
**Bertha** dengan anggun menyandarkan punggungnya ke pilar, dia melihat **Calista** yang menari dengan heboh bersama yang lain di lantai dansa.
Dia nggak suka tempat yang berisik.
Jadi dia cuma mau berdiri di samping dan ngeliatin orang, dia selalu tepuk tangan buat nyemangatin **Calista** biar menari dengan cantiknya.
Sesekali **Bertha** melirik kerumunan orang yang bergerak bolak-balik di lantai dansa.
**Bruno** lagi nyandar di pagar lantai dua. Karena posisi **Bertha** agak jauh, ditambah lagi lampu-lampu yang kelap-kelip di bar, dia nggak bisa lihat wajahnya. Dia cuma lihat dia ngeliatin lantai dansa kayak dia sekarang.
Dia nggak lihat lagi, tiba-tiba **Archie** diam-diam jalan di depannya.
Ekspresinya serius banget, dan dia berbisik di telinga **Bertha**. "Ada yang nggak beres sama suasana di bar hari ini, hati-hati, ya."
**Bertha** bilang "Um" pelan, ekspresinya masih tenang. "Waktu aku masuk ke ruang VIP tadi, kamu lihat orang yang mirip banget sama yang kamu deskripsiin?"
"Iya." **Archie** ngangguk jujur.
"Itu dia?"
**Archie** mikir sebentar terus dia geleng-geleng kepala. "Walaupun aku nggak yakin sepenuhnya, suasana di bar ini aneh malam ini. Pemiliknya cuma ngasih tahu aku, kamu harus lebih hati-hati."
Begitu **Archie** selesai ngomong, tiba-tiba aja cowok tinggi dan ganteng muncul dan nyamperin **Bertha**.
**Bertha** melirik dia, penampilannya oke, kayak cowok-cowok yang pintar dan lembut, jadi dia bilang. "Wazzup?"
Cowok itu agak malu-malu. Kayaknya dia udah ngumpulin semua keberaniannya dan nunjuk ke sekelompok anak muda yang lagi duduk di kursi lain, matanya memohon.
"Halo, aku kalah main jadi aku harus nepatin janji sama temenku buat kenalan sama kamu. Asal kamu minum segelas anggur ini, bisa bantu aku nggak?"
**Bertha** dan **Archie** saling pandang tapi nggak ada yang jawab, mata mereka ada senyumnya.
Cowok itu nggak lihat **Bertha** buka mulut buat nanggepin dia. Dia malu banget, tapi dia masih sabar banget. Dia bahkan inisiatif nuangin segelas anggur dan ngasih ke **Bertha**.
"Cewek, oke?"
**Bertha** nggak gerak, juga nggak nerima tawaran itu.
Lagipula, **Archie** juga ngingetin dia. "Nona, jangan minum alkohol yang ditawarin orang asing."
Cowok itu malu, dia nunduk dan bilang. "Aku merhatiin kamu dari kerumunan tadi. Kecantikanmu nggak kayak cewek-cewek lain. Pasti kamu nggak bakal nolak tawaranku, kan?"
**Archie** masih kayak burung kecil yang ngoceh di sampingnya. "Nggak, nggak diterima, Nyonya."
Di bawah serangan yang nggak jelas dari dua cowok itu, **Bertha** akhirnya ngangkat alisnya, senyum manis, dan ngejawab. "Oke."
Cowok itu lihat dia setuju, dan dia ngasih dia segelas anggur.
**Bertha** mau nerima segelas anggur itu.
Tangannya baru aja nyentuh gelas anggur itu tiba-tiba tangan panjang dan lentik seseorang ngehentiin gelas anggur cowok itu.
**Bertha** noleh dan ngelihat wajah dingin itu ngeliatin cowok yang nawarin dia minuman, matanya penuh amarah.
"Kamu nggak pantes beliin dia minuman."
Kenapa **Derek** ada di sini?
Matanya ngelihat ke belakang **Derek**.
Nggak cuma dia ada di sini, tapi **Liam**, **Tommy**, **Donald**, **Tyrone**, dan **Casey** juga ada.
Dia secara naluri ngangkat kepalanya buat ngelihat ke balkon lantai dua. **Bruno** masih berdiri di sana. Karena ada backlight, dia nggak bisa lihat ekspresinya, tapi dia bisa kenal matanya, dia mau ke sini.
Cowok itu dimarahin **Derek**, dia ngelihat **Bertha** dengan polos. "Cewek, aku nggak ada niat jahat, cuma segelas anggur, aku nggak tahu kenapa cowok ini ngehina aku kayak gitu."
"Kamu bener, cuma segelas anggur."
**Bertha** ngelengkungin bibirnya jadi senyum, ujung jarinya yang lentik megang gelas anggur merah di tangan **Derek**.
**Derek** nggak ngasih dia gelas anggur itu, mata hitamnya ngasih tatapan suram, dan ekspresinya nggak enak dilihat.
Mata cantiknya ngelihat dia dengan ekspresi lembut dan halus, dia ngebujuk. "Baik-baik, lepasin. Lain kali kamu beliin aku minuman, aku juga minum, kok."
Dengan satu kalimat ini aja, **Derek** langsung tenang.
**Bertha** ngambil gelas anggur itu dan mendekatkannya ke hidungnya buat nyium, ujung bibirnya pelan-pelan mendekati bibir gelas, dan dia ngangkat gelasnya seolah-olah mau minum.
Cowok itu ngelihat gerakannya, dan ada ekspresi semangat di matanya.
Tapi pas anggur itu mau nyentuh bibirnya, **Bertha** tiba-tiba ngehentiin gerakannya.
Dia ngelihat cowok itu dengan mata sarkas. "Kamu berharap aku minum, kan?"
Cowok itu kaget, matanya penuh harapan, dan dia ngangguk.
Satu detik kemudian, mata **Bertha** yang tersenyum tiba-tiba jadi dingin, dan dia langsung ngelempar gelas anggur itu ke wajah orang itu. "Di gelas anggur ini, kamu tahu persis apa yang kamu masukin. Rasanya juga enak, silakan cicipi pelan-pelan."
Awalnya dia nggak merhatiin, tapi kebetulan, cowok ini bilang dia datang dari kamar sebelah, kelompok **Derek** muncul, mereka ngehalangin dia tapi nggak ada reaksi, apalagi ekspresinya terlalu perhatian.
Cowok itu kena cipratan anggur merah di seluruh wajahnya dan bilang dengan agak marah. "Nggak papa kalau kamu nggak minum, kenapa kamu ngomongin yang jelek tentang aku? Mengecewakan."
Dia ngelap wajahnya, nundukin kepala, dan ngambil saputangan dari sakunya.
**Derek** merhatiin dia dengan seksama, nemuin bahwa pas orang ini nundukin kepala, wajahnya nunjukin tatapan tajam, ekspresi yang bahaya banget.
Cowok itu manfaatin kurangnya perhatian **Bertha**. Dia ngambil botol kaca kecil dari sakunya dan ngelemparnya ke arah wajah **Bertha**.
"Hati-hati."