Bab 259
Kayak anak kucing yang nenangin temennya yang luka.
Baru aja, seberapa seremnya dia nyerang dia, dia malah lebih lembut.
"Bertha, kamu..."
Shane kaget sama kelakuannya.
Tulang selangkanya dicium sama bibirnya yang lembut. Rasanya kayak permen madu manis yang melelehkan hatinya, bikin dia gak bisa ngendaliin diri.
Dia meluk pinggangnya erat-erat dan gak mau lepas.
Gembira, puas, bahagia, dan kaget, tapi dia takut kehilangan semuanya, semua emosi yang rumit ngelilingin dia.
Saat itu, dia pengen waktu berhenti di momen ini.
Dia malah lebih egois dan berharap cinta Bertha cuma buat dia selamanya.
"Kamu suka?"
Shane nepuk-nepuk kepalanya dengan lembut, seneng banget. "Suka banget malah."
Bertha nyender di pelukannya, dia nyenderin kepalanya di bahunya, ngendus-ngendus wangi parfum yang enak di tubuhnya.
"Jadi mulai sekarang, setiap hari kamu bakal datang ke mimpi aku. Aku pengen meluk kamu, cium kamu, bahkan aku pengen tidur sama kamu..."
Dia ngomong sebentar, suaranya pelan.
Shane natap dia, anak kucingnya udah tidur lagi.
Tapi kali ini beda sama yang terakhir, dia tidur di pelukannya dan gak bangun di tengah jalan.
Shane terus-terusan dalam posisi ini selama beberapa jam, dia gak gerak, dan setelah lama, dia mulai ngerasain sakit punggung dan leher.
Dia niatnya mau ngeletakin dia di bantal, tapi begitu dia gerak dikit, cewek di pelukannya tiba-tiba mengerutkan kening gak setuju.
Gak ada cara lain.
Shane harus nahan sakit di seluruh tubuhnya, dia narik selimut buat nutupin dia.
Biar dia nyender di pangkuannya dan tidur nyenyak semalaman.
Jam enam pagi besoknya.
Shane nyenderin kepalanya di kepala Bertha dengan lembut. Dia baru aja tidur siang waktu ada suara burung nyanyi yang misterius dan menenangkan dari luar pintu.
Dia tau itu Liam, dia langsung sadar.
Natap cewek di pelukannya, tidur pules banget, dia gak bisa gak hati-hati ngeletakin dia di kasur.
Untungnya, dia masih tidur dan gak bereaksi sama sekali.
Dia bangun dengan hati-hati, ngambil rompinya, dan keluar.
Liam nunggu di luar pintu. Begitu Shane keluar, dia langsung merhatiin noda darah di kerah kemeja Shane.
"Bos, kenapa luka? Kalian berdua berantem semalem?"
Gak ada berantem, dia yang dipukulin.
Tapi Liam gak nyebutin itu, dia lupa hal penting ini.
Lukanya udah gak sakit lagi, tapi perasaan lembut waktu Bertha nyium lukanya dia masih inget jelas sekarang.
Telinganya tiba-tiba merah, dia seneng banget sama yang terjadi semalem.
Kecuali, punggungnya agak pegel...
Dia tiba-tiba inget dan dengan lembut mijit punggung dan lehernya yang capek. Wajahnya keliatan capek karena dia gak tidur nyenyak semalaman.
"Ayo, dia bakal bangun bentar lagi."
Liam liat Shane ngusap punggungnya, dia tiba-tiba ngerti dan ngomong seneng. "Kemajuan Bos bagus juga nih. Nasinya udah mateng cepet banget. Pasti semalem intens banget ya?"
Kecuali Bertha sukarela, dia sama sekali gak bakal ngelakuin apa pun buat maksa dia.
Lagipula, kemarin orang yang intens itu Bertha.
Semalem Shane dipukulin parah banget, punggungnya masih sakit.
Dia dengan dingin merhatiin Liam. 'Gue potong gaji lo sebulan karena omongan lo itu."
'Hah?"
Ekspresi sengsara Liam gak bisa lebih memelas.
Atasannya gak punya hati dan gak ada artinya, dia sengaja bikin masalah.
Dia tenggelam dalam kesedihan, membeku di tempat.
Shane nyengir, dia balik badan dan pergi. Walaupun punggungnya sakit, lehernya sakit, langkahnya masih lincah banget, semangatnya tinggi, dan dia keliatan lagi dalam suasana hati yang bagus banget.
Liam ngejar bosnya sambil mengerang. 'Bos. Salah saya. Tolong kasih saya kesempatan buat nebus kesalahan."
—
Bertha udah lama gak tidur senyenyak ini.
Dia tidur sampe jam sembilan setengah sebelum dibangunin sama telepon yang bunyi.
'Bertha, soal semalem, aku udah ajarin dia, kalau ke depannya, masalah kayak gini gak bakal terjadi lagi. Hari ini, tolong balik ke vila buat istirahat. Lusa pesta bersih-bersih kamu, kamu masih harus siapin sedikit..."
Itu telepon Tuan Tabitha.
Bertha tidur kebanyakan sampe pikirannya kabur, dia mikir terus ngomong. "Iya."
'Jadi kalau kamu selesai kerja hari ini, inget pulang cepet buat nyobain gaun, oke?"
'Iya."
Matiin telepon, dia niatnya mau tidur lagi, tapi kesadarannya pelan-pelan jadi lebih jelas.
Kemarin dia gak balik ke rumah Griselda tapi pergi ke bar buat minum.
Tapi, kenapa dia tidur di kasur?
Dia tiba-tiba duduk, miringin kepalanya, dan liat lantai di sebelahnya penuh sama pecahan porselen. Dia kaget sebentar terus langsung nelpon Tyrone dan Casey.
Setelah Shane pergi, mereka berdua berdiri di pintu nerima telepon dari Bertha, dan mereka langsung masuk.
Semalem Bertha mabuk, dia gak inget apa yang terjadi semalem. 'Siapa yang bawa aku balik ke hotel semalem?"
'Itu Tuan Shane, dia bahkan ngerawat kamu semalaman."
Bertha mengerutkan kening.
Dia langsung ngecek tubuhnya dan gak nemuin tanda-tanda pemerkosaan, dia nghela napas lega.
Untungnya, Shane gak ngapa-ngapain dia, kalau nggak, dia mungkin udah bawa pisau langsung ke rumah Miller buat ngegorok dia sampe mati.
Tapi kalau gak ada apa-apa semalem, kenapa ada pecahan porselen di seluruh lantai?
Dia gak inget punya masalah sama Shane, tapi dia inget kalau semalem dia mimpiin Derek, itu mimpi yang manis, dia cium dan meluk dia di mimpinya...
Kalau dia nanya Tyrone dan Casey, mereka pasti gak bakal tau, dia cuma harus nanya Shane buat tau apa yang terjadi.