Bab 221
Dia melepas jaket jasnya dan meletakkannya di bahu Bertha, membungkusnya erat di sekeliling bahu kecilnya. "Udah malem, di luar dingin banget. Masuk mobil, tunggu aku. Aku segera ke sana."
Bertha gak nolak, dia ngangguk dan balik ke mobil.
Setelah dia pergi, Derek manggil Liam, ekspresinya balik ke dingin.
'Lo harus pake semua cara buat paksa Bruno ngakuin semuanya dalam dua hari. Metodenya dan prosesnya gak penting, bahkan kalo dia jadi cacat, gak apa-apa. Dari kepolisian, gue yang jelasin, gue cuma butuh hasilnya."
'Siap, bos."
Derek ngeliat ke arah kamar kecil lagi, matanya makin gelap. 'Kalo ini selesai, kasih dia hadiah sebotol asam sulfat."
Liam bilang. 'Asam sulfat terlalu enak buat dia? Yang dia lempar ke badan lo itu virus biokimia S404."
"Apa? Lo berencana pake S404? Totalnya cuma ada sepuluh botol, mahal banget, dia gak pantas. Gue bakal hubungin polisi buat copot dia dari jabatan kepala, tetep idupin dia, masukin penjara, dan siksa dia pelan-pelan."
Liam mikir dan ngangguk. 'Siap, bos."
'Oke, tempat ini gue serahin ke lo, gue pergi sekarang."
Pas Liam mau jawab, yang ada cuma angin di tempat Derek berdiri tadi, dia udah pergi.
Emang cinta bikin kita jadi bego.
Bertha duduk di mobil dan mikirin apa yang dibilang Bruno.
Matanya ngeliat seseorang lari ke arahnya. Dia buka pintu mobil dan masuk, telapak tangannya ngusap-ngusap pelan di bawah lengannya.
Bertha nyadar gerakan kecil itu, ngeliat dia cuma pake kemeja sutra tipis, dia inget rompi yang dia kasih buat dipake.
'Kedinginan?"
Derek geleng kepala. "Gak kedinginan."
"Terus kenapa lari cepet banget?"
'Karena gue gak mau bikin lo nunggu terlalu lama."
Bertha diem sebentar, apa dia ngomong manis buat bohongin dia?
Pas dia masuk mobil tadi, dia bisa ngerasain udara dingin di badannya, bibirnya rada beku, putih, tapi dia tetep bilang gak kedinginan.
Dia lepas jaketnya dari bahu dan ngelemparnya ke dia. 'Nih, gue gerah."
Musim dingin mau dateng, dan beda suhu siang dan malam rada gede.
Bertha nyuruh Archie buat nyalain perapian.
Mereka cepet balik ke vila pantai.
Dia ganti sendal dan naik ke atas, ngomong tanpa noleh. 'Lo ke kamar gue bareng gue."
Derek gak nunda, dia ikut naik ke lantai tiga bareng dia.
Balik ke kamar, Bertha pertama nyalain pemanas, terus dia duduk di kasur, ngasih perintah. 'Tolong lepasin baju lo."
'Hah?"
Telinga Derek langsung merah.
Dia mau… ngapain?
Suasana di kamar jadi tegang.
Ngeliat Derek gak gerak.
Alis Bertha sedikit bergerak, dan mukanya jadi gelap. 'Cepetan, gue mau liat luka di punggung lo."
Derek langsung murung.
Dia mau liat lukanya, dia mikir kejauhan.
Tunggu…
Dia mau liat lukanya.
Kenapa dia tiba-tiba curiga sama lukanya? Apa yang dibilang Bruno ke dia?
'Luka gue gak papa, gue udah olesin obat, dan hampir sembuh."
Bertha dengan dingin natap dia. 'Tolong lepasin baju lo."
Derek tetep gak gerak. 'Gue udah pake perban, bahkan kalo gue lepas kemeja, lo gak bakal bisa liat."
'Nanti, gue bakal olesin obat buat lo."
Suaranya mantap banget.
Derek gak ngomong apa-apa, dia gak gerak, dia lagi mikir cara biar dia gak jadi.
Bertha kayak baca pikirannya.
'Jangan bohongin gue malem ini, lo harus lepasin baju lo."
'Bertha, kenapa sih lo peduli sama luka gue, gue ngerasa anget banget di hati, tapi udah malem, lo harus istirahat."
Bertha gigit gigi. Dia nahan semangatnya buat maksa dia buka baju.
Dia bilang dengan sabar. 'Dulu, lo bilang selama itu perintah gue, lo bakal ikutin tanpa syarat. Apa lo bohong?"
Derek gak bisa berkata-kata.
Dia ngulurin tangan buat buka kancing rompinya, ujung jarinya yang ramping dengan lembut melilit tiap kancing, pelan-pelan ngebukanya.
Bertha juga gak ngeburu-buru dia, dia nunggu dengan tenang.
Derek lepas jaketnya, dengan lembut naruhnya di meja riasnya.
Dia ragu-ragu beberapa detik sebelum lanjut lepas kemejanya.
Dia buka dua kancing di dadanya dan nanya dengan suara pelan. 'Apa gue harus… lepas celana juga?"
Bertha gigit gigi. 'Gue mau liat luka di punggung lo. Kenapa lo malah lepas celana?"
'Tadi lo bilang gue harus lepas semua baju…" Dia nunduk dan ngomong pelan.
Tapi karena kamar sepi banget, Bertha bisa denger tiap kata.
'Derek. Kalo lo ngomong satu kata lagi yang gak penting, gue bakal kabulin keinginan lo, bahkan celana dalem lo gak bakal aman, lo harus lari lima puluh putaran keliling vila tanpa busana."
Dia jahat banget.
Kalo dia lari tanpa busana, harga dirinya mau ditaruh di mana?
Bertha ngeliat dia takut, dia nyeringai dan senyum licik. 'Atau gue suruh gengnya Tommy buat iket lo pake tali dan gantung lo di dahan pohon di luar taman bunga satu malem. Mau yang mana?"
Tentu aja, dia gak mau.
Derek neken bibirnya yang tipis erat-erat, tenggorokannya bergerak sedikit, dan dia gak bisa ngomong sepatah kata pun, dia diem-diem lepas kemejanya.
Dia mau buka kancing terakhir kemejanya.
Dia masih gak puas, pas dia buka mulut buat cari alasan, tapi dapet tatapan tajam Bertha kayak pisau.
Dia gak mau keluar dan lari keliling vila juga gak mau badannya digantung di dahan pohon. Dia juga gak mau lepas baju biar dia bisa liat luka di punggungnya.