Bab 158
Singa, yang dulunya penuh semangat dan sombong, sepertinya benar-benar sudah dijinakkan sama dia.
Tapi kenapa dia nggak bahagia di hatinya?
Setelah dihitung-hitung, utangnya sampai sekarang kayaknya udah hampir lunas.
Bertha balik fokus, dorong pintu, dan masuk.
Pas Derek ngelihat dia datang, dia langsung nurunin celananya, nutupin dirinya pakai selimut, terus nyandar di kepala ranjang nungguin dia.
Dia duduk di kursi di samping ranjangnya, dia pegang mangkuk bubur, pakai sendok buat ngaduk, terus ditiup-tiup pelan biar nggak terlalu panas, gerakannya anggun dan lembut banget.
Derek ngelihat dia dengan mata berbinar, jantungnya berdebar-debar.
Dia jilatin bibirnya yang tipis dan pucat, matanya penuh harap, dan dia nurut aja nungguin dia nyuapin.
Bertha nyadar dia lagi ngelihatin, dia masih diem-diem niup bubur di mangkuk, nggak ada ekspresi apa-apa di matanya.
Ngerasa suhu bubur di mangkuknya udah nggak terlalu panas, dia kasih mangkuk sama sendoknya ke dia.
Derek kaget sebentar, tapi dia nggak ngulurin tangan buat ngambil mangkuk buburnya.
'Makan sendiri aja, gue nggak bakal nyuapin lo.' Nada bicara Bertha dingin.
Hati Derek sakit, dia tiba-tiba ngerasa kehilangan dan kesal.
Dia nggak jawab, ngelihat dia dengan mata merah. 'Gue sakit, gue nggak bisa makan sendiri.'
Bertha langsung bongkar kebohongannya. 'Lo luka di lutut, bukan di tangan, kenapa nggak bisa makan?'
Derek nggak suka banget.
'Tapi gue demam, gue pusing banget.'
Ekspresi Bertha dingin. 'Lo ngomongnya jelas banget, kayaknya otak lo belum rusak, jadi jangan makan lagi.'
Dia mau bangun dan ngambil buburnya.
Derek cepet-cepet ngambil mangkuk dari tangannya. Walaupun dia nggak nyuapin, setidaknya dia yang masak buburnya sendiri. Kalo dia nggak makan, itu bakal bikin dia sedih.
Tapi begitu dia masukin sesendok bubur ke mulutnya, dia hampir aja nyemburinnya di tempat.
'Kenapa… agak gosong ya?'
Bertha agak malu.
Apa dia bilang gitu karena dia lagi mikirin Laura, jadi lupa ngecilin apinya?
'Kalo gitu jangan makan lagi, nanti lo bisa masak sendiri.' Dia ngulurin tangan buat ngambil lagi mangkuk buburnya.
Derek nyender ke samping, nggak ngebiarin dia ngambil mangkuk buburnya, kayak lagi ngejaga makanannya.
Terus, di bawah tatapan Bertha yang nggak lepas, dia masukin semua bubur di mangkuknya ke perutnya.
Karena buburnya gosong, rasanya nggak enak, jadi Derek berusaha nahan diri biar nggak muntah. Dia nunjukkin mangkuk bubur yang udah dia makan ke dia.
Bertha tau itu nggak enak, pas dia ngelihat dia kayak gitu, ujung bibirnya naik sendiri tanpa sadar.
Tapi sekarang dia udah selesai makan, dia lanjut ke langkah berikutnya.
Dia ngeluarin selembar kertas yang udah diprint Tommy dan ngasihnya ke dia dengan ekspresi tenang.
'Lo baca dan tanda tangan.'
Derek kebingungan ngambilnya.
Setelah baca kata-kata di atas, dia marah.
'Lo mau mutusin kontrak kerja sama gue?'
'Bener.'
Nadanya tenang banget.
Ngelihat reaksinya yang meledak-ledak, Bertha lanjut ngomong. 'Gue udah hitung, sekarang utang lo udah hampir lunas, gue batalin perjanjiannya, bukannya lo seneng banget? Nanti lo bisa lanjut jadi anak majikannya keluarga Tibble.'
Meskipun dia bilang gitu, lunasin utang yang dia punya ke dia selalu jadi tujuannya.
Tapi…
'Lo pernah bilang, setelah utangnya lunas, lo nggak akan pernah balik lagi ke gue seumur hidup, kita bakal jadi orang asing, beneran gitu?'
Mata Bertha serius banget. 'Bener.'
'Kalo gitu gue nggak tanda tangan. Lo bilang waktunya satu tahun sampai tiga tahun. Sekarang baru setengah bulanan. Gue juga belum lunas.'
Dia mengerutkan kening, pipinya menggembung, dan dia balikin kertas pembatalan perjanjian itu ke dia.
Bertha nggak nerima, wajahnya jadi dingin lagi. 'Derek, jangan cari masalah, tanda tangan nama lo.'
Derek kesel banget sama kekerasannya. Dia maju ke arahnya. Dia pegang pergelangan tangannya yang kecil dan ramping dan ngomong tanpa usaha.
'Gue udah ambil Noa, pura-pura cedera buat nipu lo, apa lo masih marah sama gue? Bertha, lain kali gue bener-bener nggak bakal nipu lo lagi, apalagi lo juga udah hukum gue tadi malam, gue nggak ngapa-ngapain Laura. Kita semua salah, jangan marah…'
Bertha dorong tangannya menjauh dengan serius. 'Gue nggak marah, gue cuma ngerasa udah waktunya buat ngelepas lo, mulai sekarang lo sama gue hidup tenang sendiri-sendiri, terus lo sama gue sama-sama baik.'
Apa yang dia lakuin nggak bisa bikin emosi dia keluar sedikit pun?
Apa ini berarti dia nggak peduli sama sekali sama dia? Dia bahkan nggak punya rasa kesal dan benci?
Derek cukup kesal.
'Jadi lo masih marah sama gue karena gue nggak mau pergi, jadi gue nggak bakal tanda tangan kertas buat batalin perjanjian ini.'
'Derek!'
Bertha mengerutkan kening, ngelihat dia dengan mata gelap. 'Gue cuma mau ngasih tau, gue nggak minta pendapat lo, lo harus tanda tangan.'
Setelah dia selesai ngomong, Derek sobek-sobek kertasnya di depan dia, terus dia lempar ke langit-langit, potongan kertas putih berterbangan kayak salju di seluruh rumah.
Dia setuju buat tanda tangan surat cerai sama dia yang paling dia sesali dalam hidupnya.
Kali ini, dia nggak bakal biarin dia nyesel lagi.
Dia ngelihat dia dengan mata penuh pembangkangan, nadanya provokatif. 'Gue sobek, lo marah? Kalo lo mau, lo bilang ke Tyrone, Casey masuk sini dan pukul gue, selama gue masih punya satu nafas, gue nggak akan bisa tanda tangan.'
Selembar kertas jatuh di kepala Bertha, rasanya kayak api langsung nyambar ke dahinya.
'Oke, bagus banget. Lo suka cari kekejaman, ya?'
Bertha narik napas dalam-dalam, nahan keinginannya buat mukul dia.
'Mending lo berdoa biar penyakit lo nggak makin parah, kemarahan gue bakal reda lebih cepat, kalo nggak gue nggak jamin apa kelompok Tyrone mukul lo atau nggak?'
Setelah selesai ngomong, dia berdiri, dan setelah ngelirik dia, dia keluar dari ruangan.
Derek ngelihat dia beneran marah, tapi di hatinya, dia masih agak takut.
Dia masih sakit banget karena dipukulin tapi dia nggak akan tanda tangan.