Bab 418
Tapi Bruno lagi *happy* banget, dia lanjut ngomong, "Dua hari lalu, kamu bilang, buku nikah kamu dipegang bokap kamu, jadi kita gak bisa nikah dulu. Gak papa, kita nikah dulu aja, ntar pas balik ke negara kamu, baru kita urus surat-suratnya, gimana?"
Bertha nyembunyiin kebencian di matanya, suaranya kalem, "Kamu udah atur semuanya, gak usah sok nanya aku, lakuin aja apa yang kamu mau."
Dia gak nolak, Bruno malah makin seneng.
Bruno merhatiin gelas jus yang dipegang Bertha, terus dia inisiatif nuangin segelas anggur dan ngasih ke dia.
"Suasana malam ini enak banget, gimana kalau kita minum anggur? Ini anggur berkualitas dari negara H, gak diekspor, cuma buat Keluarga Kerajaan aja, mau coba?"
Mata Bertha gak ngelirik, "Aku lagi agak flu nih, gak mau minum."
"Flu? Ada yang gak enak badan?"
Bruno langsung buka jasnya dan melilitkannya erat di bahu Bertha yang ramping.
"Cuaca lagi dingin nih, aku harus lebih hati-hati. Aku gak bakal biarin kamu sakit lagi."
Mata biru tua Bruno bersinar, dia natap Bertha dengan lembut.
Wajahnya miring, gak natap dia lagi.
Terpaksa pake jas Bruno, Bertha gak ngerasa anget, malah dia ngerasa dingin nyebar ke seluruh tubuhnya.
Dia buka rompi Bruno dan ngembaliin ke dia, "Pestanya mau mulai. Lagian, kamu kan harus naik panggung nanti. Mendingan kamu pake aja. Aku gak kedinginan."
Mata Bruno yang kayak burung phoenix berbinar, kaget sekaligus seneng ngelihat dia, "Jadi Bertha tertarik sama aku?"
Bertha sedikit mengerutkan kening, bulu matanya yang tebal turun sedikit, nyembunyiin jijik dan marah di matanya, terus dia langsung nyelipin lagi rompi itu ke tangan Bruno.
Bruno ngambil, nurut pake rompi itu.
Senyum muncul di wajahnya yang tampan dan lembut, "Bagus, aku makin gak sabar sama kehidupan kita nanti."
Bertha manyunin bibirnya, tapi dia gak peduli sama dia. Mikirin rencana dia, dia diam-diam ngencengin giginya.
Para pangeran bangsawan memenuhi aula perjamuan yang megah.
Bands biola di sampingnya tiba-tiba ganti nada, lampunya tiba-tiba redup, dan pemandangan di aula jadi remang-remang, cuma nyisain lilin merah yang bergoyang di meja panjang.
Lampu sorot nyala, dan semua mata fokus ke tangga spiral.
Putri Hilda berdiri di puncak tangga, pake gaun panjang berlapis emas yang elegan, senyum tipis di bibirnya, dengan anggun melambai ke semua orang di ruang perjamuan.
Pesta malam ini dia yang ngurus, dan dia juga satu-satunya tokoh utama.
Setelah munculnya putri agung, tepuk tangan dan pujian terdengar terus menerus.
Dia nerima sanjungan dari orang banyak, megang pagar marmer, dan pelan-pelan turun tangga.
Lampu sorot ngikutin sosoknya ke panggung di sisi seberang.
Di tengah panggung, ada mikrofon yang dipasang tinggi. Putri agung pelan-pelan ngangkat tangannya, semua tepuk tangan yang dicampur dengan keterkejutan jadi hening.
Bertha natap dengan acuh tak acuh, dia diam-diam dengerin putri ngomong, dan sesekali, dia ikut tepuk tangan bareng orang banyak.
"...Sebenernya, aku ngundang semua orang buat dateng dan ngerayain malam ini karena aku mau ngumumin sesuatu yang penting." Mata putri sulung ngelihat sekeliling kerumunan di bawah, akhirnya, dia natap Bruno dan Bertha.
Lampu sorot ngikutin pandangannya dan nyorotin Bertha dan Bruno.
Bruno langsung megang tangan Bertha.
Bertha bereaksi hampir secara naluriah, mau ngejauhin tangannya, tapi kali ini dia pegang erat, gak ngasih kesempatan buat berontak.
Semua orang mandangin, Bertha cepet sadar, dan senyum tipis muncul di wajahnya, mengubah pergulatan yang gak sadar tadi jadi tegang karena malu.
Kerumunan tiba-tiba mindahin karpet merah ke tengah, ngebiarin Bruno narik Bertha langkah demi langkah ke atas panggung.
Di atas panggung, putri agung lanjut ngumumin, "Anak angkatku, Lance Charles dan Bertha, akan menikah di Katedral Florence tujuh hari lagi."
Tepuk tangan hangat terdengar.
Bruno ngelepas tangan Bertha dan meluk putri sulung, nunjukkin gambaran ibu dan anak yang punya kasih sayang mendalam.
Tahun itu, cerita putri sulung hamil sebelum lamaran ditutup rapat oleh keluarga kerajaan. Lebih lagi, putri sulung adalah satu-satunya adik dari raja yang berkuasa, wanita paling mulia di negara itu.
Bahkan kalau ada yang ngelihat Bruno dan putri mirip, mereka gak bakal berani meragukan identitas asli Bruno.
Semua orang muji betapa beruntungnya anak angkat kayak Bruno, sementara Gaye Harold duduk minum anggur dengan sedih.
Saat ini, semua mata tertarik sama lampu sorot, gak ada yang ngelihat wajah muramnya, matanya penuh amarah.
Guy Size di sebelahnya, satu tangan nyangga dagu, ekspresinya memelas ngelihat Bertha di panggung, dia diem-diem nghela napas.
Di atas panggung.
Setelah Bruno dan putri saling berpelukan, dia ngambil mikrofon di tangannya dan lanjut ngomong dengan tegas:
"Bertha dan aku udah kenal lebih dari sepuluh tahun, aku diem-diem suka sama dia lebih dari sepuluh tahun, dan sekarang akhirnya aku punya kesempatan buat jadi suami sejati dia di depan semua orang. Semuanya, dia dan aku akan saling mencintai seumur hidup."
Bruno noleh, natap Bertha dalam-dalam, dia pelan-pelan ngulurin tangan ke arahnya, "Ayo, kesini, deket aku."
Bertha diem aja, dia diam-diam natap matanya.
Saat ini, semua mata fokus ke panggung.
Musik di ruang perjamuan udah berhenti, dan suara kekaguman dan keterkejutan dari para wanita di bawah nyampe ke telinga Bertha.
"Cewek ini cantik banget, dia dan Lance Charles pasangan yang serasi, mereka cocok."