Bab 263
Bertha nggak ngasih dia kesempatan buat jelasin, dia pake kekuatan sikunya buat nonjok perutnya lagi.
Mumpung dia masih megangin perut kesakitan, Bertha cepet-cepet ngelepas tangannya.
Saat mata mereka ketemu, udara kayak membeku dua detik.
Bertha ngeliat wajahnya dengan takjub.
Kecuali mata yang sama, hampir semua fitur di wajahnya udah berubah. Seluruh wajahnya cuma punya empat atau lima bagian yang mirip sama Derek. Dia nggak berani ngeliat lebih deket lagi.
Tapi matanya, setiap gerak-geriknya nggak bisa bohongin dia.
Dia Derek.
'Kok muka lo beda banget? Lo pake topeng kulit, kan?' Dia ngegenggam mukanya, nyoba buat ngerobek penyamarannya.
Shane ngeremas tangan kecilnya, ngomong serius. 'Karena gue Shane, gue selalu jadi Shane.'
'Gue nggak percaya. Lo operasi plastik, kan? Mikir kalau lo ganti muka jadi beda, gue nggak bakal kenalin lo? Kalau lo jago, ganti mata lo.'
Dia kesel banget sampe giginya bergemeletuk.
Tapi selain mata yang sama, dia nggak bisa nemuin bukti pasti lain selain wajah Shane.
Ingat kalau sebelum kejadian itu, Derek punya luka bakar parah dan cedera di punggungnya. Dia ngelepas diri dari cengkeramannya dan narik bajunya.
Shane masih ngomong dengan tenang. 'Nona Bertha, lo baru ketemu gue terus langsung buka baju gue, nggak terlalu cepet, ya?'
'Diem. Balik badan. Kalau lo bener, biarin gue periksa.'
'Oke, lo bisa periksa gue.'
Shane ngangkat tangannya biar dia bisa kasar-kasar buka bajunya.
Meskipun Bertha ragu, dia masih nyisain ruang buat mundur.
Daripada ngebuka satu per satu, dia narik kemeja dan rompi dari pinggang.
Garisnya jelas di punggung lebarnya, bagian tengah punggungnya mulus, dan kulitnya yang warna madu keliatan cantik banget kena efek cahaya di ruangan.
Nggak ada bekas luka, bahkan nggak ada bekas luka di pinggangnya Shane waktu dia naik gunung buat nyari dia dan kena sabetan anak buah Fawn.
Mata Bertha gemetar, dan dia pelan-pelan ngelepas, dia nggak percaya dan pelan-pelan mundur, dan gitu aja, dia mundur sampe ke sisi ranjang.
Dia duduk di ranjang dengan lemes, suasana hatinya penuh kekecewaan.
Akal sehatnya juga pelan-pelan balik.
Derek udah mati, dia ngeliat dengan matanya sendiri abunya dikubur di tanah.
Lagipula, latar belakang keluarga Derek dan Shane beda banget, kalau mereka berdua beneran nggak bisa sama.
Hatinya kayak diremes kesakitan seakan dia nemuin apa yang udah hilang, tapi terus perasaan putus asa karena kehilangan lagi mulai muncul di dirinya.
Tapi di depan Shane, dia nyoba buat nahan air matanya.
'Gue salah orang.'
Derek nghela napas lega. Begitu dia noleh, dia ngeliat Bertha muram, seluruh tubuhnya memancarkan tatapan bermasalah.
Dia nyoba nanya. 'Nona Bertha, lo salah kira gue sebagai mantan suami lo, kan? Kayaknya lo masih ada rasa sama dia?'
Bertha manyunin bibirnya, ngacuhin dia, dan nggak jawab.
Dia berdiri, duduk lagi di sofa, ngambil botol anggur merah yang isinya setengah di meja, dan nuangin langsung ke mulutnya.
'Nona Bertha.'
Shane ngambil botol anggurnya. 'Kalau lo minum kayak gitu, tubuh lo nggak bakal kuat.'
'Pertunangan kita bakal batal cepat atau lambat, Tuan Shane, lo harus khawatir sama diri lo sendiri.'
Ekspresinya datar, nadanya nggak punya emosi. Dia buka botol anggur merah lain tapi direbut Shane.
'Kalau Nona Bertha mau minum, gue bakal minum sama lo.'
Shane duduk di sofa seberang dia, ngisi dua gelas anggur merah, dan Bertha minum dua gelas itu.
Mungkin masih marah, dia ngambil botol anggur dan minumnya sampe abis dengan menantang.
Harga yang dia bayar adalah dia mabuk.
Shane ngeliat dia mabuk sampe tubuhnya gemetar. Dia ngerasa sedikit sedih di hatinya. Dia jalan keliling meja buat ngambil gelas anggur dari tangannya.
'Jangan minum lagi, gue gendong lo ke ranjang buat istirahat.'
Bertha nggak berontak dan biarin dia nggendong.
Karena aroma di tubuh Shane familiar banget.
Itu ngikis kewarasannya sedikit demi sedikit, bikin dia nggak mungkin mikir tenang.
'Derek Tibble.'
Shane baru aja mau bangun dan pergi ke kamar mandi buat ngambil handuk buat bantu dia ngelap mukanya waktu dia denger dia manggil dan dia berdiri kaku di tempat.
Butuh beberapa detik sebelum dia noleh dan ngeliat Bertha tidur di ranjang dengan nggak percaya.
'Lo baru aja manggil gue apa?'
Pikiran Derek kosong.
Derek Tibble?
Dia nggak pernah nyangka kalau nama ini bakal keluar dari mulut Bertha, apa dia manggil Derek yang lama?
Apa ini bukti kalau dia masih punya sedikit rasa sama dia?
Hatinya bermasalah. Dia mikir sebentar, dan akhirnya, dia mutusin buat ngumpulin keberaniannya dan ngomong.
'Bertha, sebenernya gue...'
Tanpa nunggu dia selesai ngomong, Bertha, yang lagi tidur di ranjang, tiba-tiba marah narik pergelangan tangannya.
'Derek. Kalau lo berani bohong lagi sama gue, gue bakal gali lo dan gebukin lo seratus kali.'
Kerongkongannya langsung mengencang.
Dia duduk lesu di tepi ranjang dan mikir.
Bertha nggak cinta lagi sama dia, dia selalu tau itu.
Sebagai mantan suaminya, satu-satunya perannya kayaknya cuma tempat buat dia nyalahin dan ngeluarin amarahnya.
Kalau Bertha tau dia udah bikin kebohongan besar buat nipu dia, dia pasti bakal benci dia dan nggak bakal ngasih dia kesempatan lagi.
Suasana hatinya suram, dia duduk tenang di sisi ranjang ngeliatin Bertha tidur.
Pertunangan ini karena dia berusaha keras buat dapetin. Karena hal yang paling dia sesali dalam hidupnya adalah cerai sama dia, dia takut dia bakal kehilangan dia lagi.
Kalau dia ngaku, bikin keadaan makin buruk, bakal lebih baik buat dia nerima kenyataan kalau Derek udah pergi selamanya.
Biar dia pake identitas Shane buat mulai lagi sama dia.