Bab 100 – Alasannya
Sudut Pandang Penulis:
Setelah berenang dan menikmati pantai cukup lama, Saïda balik ke rumah buat mandi dan makan. Asahd masih di sana agak lamaan.
~
Abis mandi dan cuma pake celana pendek, Saïda ke dapur buat manasin makanan dan makan.
"Ini keliatan enak banget." katanya, ngomongin makanan Meksiko yang keliatan pedes di *microwave* gede.
Dia nyalain dan nunggu sampe anget.
Saïda duduk di meja dapur dan mainin *handphone*-nya. Dia liat jam.
'Jam tujuh, dan dia masih di luar?'
Pas dia mikir mau nyamperin, Asahd masuk rumah dan dapur.
"Akhirnya." dia bergumam dan Asahd senyum ke dia.
"Gue seneng banget di air."
"Sama. Gue lagi manasin makanan yang ditinggal koki. Mau?"
"Ehm, nggak sekarang. Mungkin nanti. Baunya enak banget."
"Iya kan. Nanti gue tinggalin di oven buat kalo lo mau makan."
"Oke. Gue mau mandi." dia nyamperin dan nyium dia.
"Oke. *Love you*."
"*Love you* too." dia senyum terus pergi.
'Gue masih susah percaya.'
Saïda mikir sambil senyum, ngeliatin dua cincin mahal di jarinya. Cincin tunangan dan nikah, jadi satu.
"Nggak deh." dia gumam, masih senyum. "Ini beneran banget."
*
Asahd ngobrol sama istrinya pas dia selesai makan. Mereka ketawa-ketawa nginget kebiasaan lama mereka pas masih kecil.
"Gue inget." Saïda mulai, ngegeser piring kosongnya. "Kita dulu temenan pas kecil."
"Bener juga." Asahd rada cemberut, nyadar. "Iya bener! Gue inget sekarang. Kita dulu main petak umpet. Kayaknya gue bahkan ngajarin lo naik sepeda pas gue umur delapan setengah. Lo enam tahun."
"Iya, lo emang gitu!" dia ketawa, inget.
Sudut Pandang Asahd:
"Tunggu dulu," gue ketawa kaget, "...kenapa sih, kok bisa jadi nggak suka satu sama lain? Gue nggak tau gimana bisa gitu. Gue kelewatan sesuatu?"
Gue sama Saïda dulu sering banget main bareng, pas masih kecil. Sekarang gue mikir, gue nggak inget apa yang bikin hubungan kita jadi jelek banget.
"Gue inget. Itu salah lo." dia bergumam, nyilangin tangan.
"Kok bisa? Gue salah apa? Gue beneran nggak inget." gue cekikikan, berusaha keras inget.
"Mulai pas lo umur dua belas atau tiga belas, kayaknya." dia mulai ngejelasin.
"Mulai apanya? Nggak sukanya?" gue nanya, bingung.
"Pubertas. Itu mulai bikin lo gede kepala." dia cekikikan dan gue ngeliatin dia geli.
"Pubertas??" gue nanya sambil ketawa kecil "Gue masih nggak ngerti maksud lo."
Tiba-tiba, gue inget sesuatu.
"Tunggu," gue mulai, "...malah salah lo kali."
"Salah gue??" dia ketawa.
"Iya! Sekitaran waktu itu, lo mulai nggak sopan sama gue. Lo mancing-mancing dan selalu nyari masalah sama gue. Lo dulu ngasih gue tatapan paling jelek, Saïda!"
Dia ketawa.
"Lo tau kenapa gue gitu." dia jawab.
"Demi Allah gue nggak tau! Gue bahkan nggak mau nanya karena gue ngerasa perubahan lo tiba-tiba itu nyebelin. Gue juga nggak peduli."
"Nah. Itu masalahnya." dia bergumam dan gue makin bingung.
"Jelasin. Gue dengerin." gue nyender di meja dapur yang misahin kita.
"Pas lo umur dua belas atau lebih, lo mulai nggak peduli sama gue."
"Serius?"
"Mmhmm. Lo tiba-tiba jadi terlalu 'gede' dan 'keren' buat main sama cewek umur sepuluh tahun. Lo ngabisin waktu sama Landry, Kanaan, dan Amir." dia ngejelasin.
"Tunggu. Gue nggak nyadar. Jujur. Gue beneran nggak tau kenapa gue gitu. Harusnya lo ngomong sama gue."
"Gue udah coba. Pernah gue ikut main sama cowok-cowok dan lo. Lo ngusir gue, Asahd. Keras kepala kayak gue, gue nggak pergi. Lo nyamperin gue dan bilang: 'ayo main. Tutup mata lo dan coba tebak gue bawa lo kemana.'"
"Ya Tuhan." gue bergumam, nutup mulut pake tangan pas gue inget beberapa bagian dari kejadian itu. "Saïda, gue–"
"Biar gue selesai ngomong." dia bergumam sedikit, "Jadi, gue setuju. Dan percaya deh, gue seneng banget lo mau main lagi sama gue."
Gue pengen ngilang.
"Lo harusnya liat muka lo." dia ketawa kecil, "Kayak yang gue bilang."
"Saïda–"
"Sst!" dia nyuruh gue diem sambil cekikikan. Terus dia lanjut, "Gue dengan senang hati nutup mata dan nunggu. Lo pegang tangan gue dan nuntun gue ke tengah kamar lo sampe gue berdiri di atas karpet tempat tiga temen lo ada. Kalian berempat ngelilingin gue, terus lo tutup mata gue pake kain kayak kita mau main petak umpet."
Gue beneran gigit jempol, inget semuanya sekarang. Gue lupa semuanya. Gue malu banget waktu itu.
"Kalian berempat bikin gue muter-muter beberapa kali. Pelan dulu, tapi terus cepet. Gue nggak komplain dan malah ketawa, ngerasa seru. Pas lo berhenti, kepala gue pusing banget. Terus lo, Asahd, pegang bahu gue dan mulai nuntun gue ke suatu tempat. Awalnya sih seru-seruan aja buat gue."
Walaupun dia keliatan seneng, nada bicaranya ada sedikit rasa sakit.
"Lo bawa gue ke suatu tempat dan berhenti. Terus lo bilang: 'Tebak lo ada di mana.'
Sebelum gue ngomong, gue denger suara keras yang bikin gue kaget. Abis itu hening. Gue manggil nama lo beberapa kali dan nyadar lo udah pergi. Gue langsung buka penutup mata dan kaget pas nyadar gue dikunci di lemari kecil, di ruang ganti lo. Gue coba keluar tapi kekunci. Udah gitu, gue denger kalian ketawa sambil keluar dari kamar. Gue denger lo bilang: 'Itu bakal bikin dia nggak ganggu buat beberapa waktu.'"
'Gue harus ngilang.'
Gue mikir, masih gigit jempol.
"Gue di sana, nangis dan nyoba buka lemari. Gue di sana sampe satu jam lebih beberapa menit. Lo lupa sama gue. Untungnya, pembantu yang biasa ngurus cucian lo dateng dan pas gue teriak sekali lagi, dia buka lemari. Dia kaget banget liat gue. Gue langsung lari keluar dari lemari dan kamar, sebelum dia nanya apa-apa. Itu nyakitin gue banget, Asahd. Gue nggak pernah lupa. Lo balik lagi abis lo pergi sama nyokap lo, tapi lo bahkan nggak minta maaf. Lo berusaha bersikap seolah semuanya baik-baik aja. Lo lupa apa yang udah lo lakuin ke gue, cepet banget."
Gue ngerasa bersalah banget. Iya itu udah bertahun-tahun lalu dan gue beneran lupa ngunci dia hari itu juga. Gue nggak pernah nyangka perubahan sikap dia ke gue, gara-gara perbuatan bodoh gue itu.
"Gue bahkan nggak tau harus ngomong apa." gue mulai "Gue ngerasa maaf aja nggak cukup. Gue minta maaf banget, sayang. Gue lupa sepenuhnya. Gue emang pantes dapet semua hinaan yang lo kasih ke gue selama ini. Gue emang brengsek, bahkan di umur segitu."
"Iya, lo emang gitu." dia cekikikan, "Tapi nggak papa. Kita masih kecil dan semuanya udah selesai. Gue udah maafin lo dari dulu."
Dia senyum dan berdiri, nyender di meja dapur buat nyium gue.
"Aaaw, lo harusnya liat muka lo." dia ketawa, ngelus pipi gue.
"Gue ngerasa bersalah banget, sekarang." gue cekikikan nggak nyaman.
"Oh nggak, nggak, nggak." dia ketawa dan lari ngelilingin meja dapur buat nyamperin gue. Dia meluk leher gue.
"Jangan begituuu. Jangan jadi *moody*, please. Kita cuma ngobrol dan ngungkit alasan kenapa kita mulai nggak suka satu sama lain. Harusnya sih obrolan seru, Asahd."
Dia cekikikan dan megang dagu gue, bikin gue ngadep dia. Gue masih ngerasa bersalah dan nggak nyaman. Iya gue dua belas pas itu terjadi, tapi tetep aja.
"Sayang, senyum dong." dia cemberut manja dan nyium gue. "*Sweetheaaaartttt*."
Dia menggoda dengan tawanya yang imut.
"Lo mau gue *moody* juga?" dia nanya, "Gue kira lo mau kita bikin cinta. Ayo dong, senyum buat gue atau gue juga bakal *moody*."
Gue ngeliatin dia dan dia senyum.
"Senyum." katanya dan akhirnya gue senyum balik, "Nah."
"Lo janji, lo udah maafin gue?" gue harus nanya.
"Gue janji, Asahd. Sekarang gue cinta banget sama lo dan pengen sama lo. Lupakan aja. Oke?"
"Oke."
Dia nyium gue terus ngambil piringnya dan jalan ke wastafel buat nyuci.
Gue diem aja ngeliatin ke depan, rada bingung.
"Gue kira lo bakal meluk gue atau gimana gitu." cekikikan tiba-tiba dia bikin gue kaget dan ngeliat ke atas.
Dia noleh dengan pipi merah.
"Gue nunggu lo buat nyamperin dan godain gue, Asahd. Semoga sebelum gue selesai bilas piring ini." dia cekikikan dan ngadep depan lagi. "Waktu lo tinggal beberapa detik. 15, 14, 13..."
Gue cekikikan kecil dan berdiri. Gue nyamperin dia dan mulai dengan meluk dia dan nurunin kepala gue buat nyium lehernya.
Terus pelan-pelan, geser tangan gue di bawah kaosnya, ke atas perutnya sampe ke payudaranya. Dia nggak pake bra dan cuma masalah beberapa detik sebelum darah mulai ngalir ke kontol gue.
Gue cubit putingnya sedikit dan dia mengerang pelan.
"Awal yang bagus?" gue bisikin deket telinganya, dan merinding nutupin kulitnya yang mulus.
"Iya. Iya, bagus." dia jawab pelan.