Bab 26 – Bermain -II
Sudut Pandang Penulis:
Karena macet tiba-tiba di jalanan, malam itu juga, Asahd balik ke apartemen jam sepuluh malam.
Dia buka kunci pintu dan masuk. Pas dia gak liat Djafar di ruang tamu, dia tau orang itu udah tidur. Dia mau ke kamarnya sendiri, pas dia denger suara cekikikan pelan dari kamar Saïda.
Penasaran, dia deketin pintu kamarnya dan tempelin telinganya buat nguping.
"Hihihi, stop...iya...mmhmm...enggak, itu kerjaan keren. Iya, aku gak ada kesulitan...aku kangen banget sama kamu..."
Asahd sedikit cemberut, mikir dia lagi ngomong sama siapa, atau sama siapa. Pelan-pelan, dia buka pintu kamarnya dan ngintip. Dia sama sekali gak denger!
Dia lagi tiduran miring dan punggungnya ke arah dia. Dia lagi nelpon.
Asahd pelan-pelan nyamperin dia, geli dan dengerin percakapan itu.
"Jangan biarin cewek lain deketin kamu, oke?" Saïda cekikikan, "Iya, aku serius... Aku gak peduli karena kamu udah jadi milikku..." dia cekikikan dan alis Asahd naik kaget dan geli.
"Iya..." katanya dengan suara lebih pelan, "...aku juga milikmu..."
Dia sadar itu pasti Noure. Asahd, dengan seringai nakal di bibirnya, nundukin badannya sampe bibirnya deket sama telinga dan teleponnya. Dia keasyikan banget sampe gak sadar apa-apa.
"Sayang, temenin aku tidur, yuk." tiba-tiba dia bilang dengan suara terseksi dan serak yang pernah ada, cukup keras buat Noure denger dan buat Saïda hampir kena serangan jantung.
Dia beneran gemeteran, takut dan teriak tapi Asahd, yang sekarang lagi berlutut di kasur di sampingnya dan ngambang di atasnya, udah naruh tangan di mulutnya buat membungkam teriakan ketakutannya. Dia mungkin mikir itu perampok atau orang asing.
Pas dia liat itu dia, dia mulai napas lagi dan nyoba buat narik tangannya dari mulutnya tapi Asahd gak narik tangannya.
Malah, Pangeran yang nakal dan suka main-main itu merebut teleponnya dengan tangan satunya dan nempelinnya ke telinganya.
"Saïda?? Saïda, sayang, itu siapa??" Noure bingung nanya, bikin Asahd ngikik dan susah nahan ketawanya. Itu lucu banget.
Dia berdehem pelan dan ngejawab Noure. Sementara itu Saïda mati-matian nyoba narik tangannya dan merebut balik teleponnya.
"Saïda gak bisa jawab kamu sekarang." Asahd mikir, ngeliatin Saïda yang panik.
"Kenapa? Kamu siapa??"
"Kamu siapa, malah? Dia gak bisa jawab, karena dia lagi di bawahku sekarang." senyumnya makin lebar geli pas dia liat Saïda makin panik.
"Maksudnya apa?? Kasih teleponnya ke dia!"
"Maksudku, aku mau bikin dia mendesah namaku, kayak yang selalu aku lakuin. Bikin matanya yang indah muter ke belakang kepalanya sambil dia ngeces karena nikmat. Saïda sayang, kamu pasti suka itu, kan?"
"Kasih teleponnya ke dia!"
"Kamu gak bisa nyuruh aku. Gak bisa biarin dia nunggu karena dia udah basah dan siap. Bye."
Dia matiin teleponnya dan meledak ketawa, ngebiarin Saïda pergi dan turun dari kasur.
"Yallah! Apa yang kamu lakuin, Asahd?! Apa yang salah sama kamu! Ya ampun!" dia panik dan buru-buru ngambil teleponnya. Dia nyoba nelpon Noure balik tapi jaringannya agak ganggu.
"Asahd!" dia mencicit gak percaya, matanya lebar dan tangan di mulutnya, "Kamu tau apa yang udah kamu lakuin?? Dia bakal mikir aku selingkuh! Yallah, Asahd, apa-apaan sih?!"
Asahd batuk dan tersedak karena ketawanya.
"Asahd, itu jahat banget!" Saïda mikir, padahal dia juga panik.
"Itu enaaaaak banget! Kamu harusnya denger ketakutan di suaranya."
"Asahd! Kamu nyebelin!" Saïda masih syok.
Tiba-tiba, teleponnya bunyi. Lucu banget pas tiba-tiba, mereka berdua nyerbu teleponnya, Asahd loncat ke kasur buat ngambilnya. Tapi Saïda lebih deket dan cepet. Dia ngambilnya dan lari ke pojokan, ngangkat teleponnya.
"Halo Noure??"
"Saïda, itu siapa? Maksudnya apa sih??"
"Gak ada apa-apa! Noure itu Asahd lagi main-main. Aku janji. Maaf ya!"
Asahd yang lagi tiduran miring, di kasurnya dengan tangan nyangga kepalanya, ngeliatin dia nyoba ngejelasin sesuatu, senyum bahagia di wajahnya.
"Anak itu ada masalah. Pangeran apa, kelakuannya gitu??"
"Lupain aja. Dia cuma ngerjain aku. Aku telpon balik nanti, oke? Aku harus angetin makanannya."
"Oke, sayang. Dia emang idiot."
"Udah, jangan dibahas, ya. Aku telpon balik." dia matiin teleponnya dan ngasih Asahd tatapan kaget, bikin dia nyengir, "Asahd, kamu serius??"
"Aku denger dia manggil aku idiot lewat telepon itu." Asahd mikir, "Pas kamu nelpon balik, bilang dia bego dan aku bakal hancurin calon istrinya. Atau aku bakal minta nomornya dan bilang sendiri."
"Asahd! Diem! Kamu gak percaya banget! Kamu bikin aku takut setengah mati." dia teriak dan ngusap dahinya, jarinya agak gemeteran karena cemas dan panik.
"Aku berhasil ngerjain dia. Aku seneng banget sama diri sendiri."
Saïda memutar matanya geli.
"Jadi itu balas dendam kecilmu, ya?"
"Gak sama sekali. Itu cuma becanda." Asahd cekikikan dan turun dari kasur.
"Apa?! Asahd, udah deh." Saïda gak percaya sama telinganya.
"Aku serius." dia mikir "Kamu udah makan malam?"
"Belum. Aku lagi nelpon."
"Bagus. Kita makan bareng. Ada cewek dan temen kerja yang harus aku ceritain ke kamu."
"Oou, aku suka masalah cewek. Aku angetin makanannya, sana mandi."
"Oke, mommy."
"Ugh. Aku geli tiap kamu manggil aku gitu. Mom lebih enak." dia mikir, "Gimana perasaanmu kalau aku manggil kamu daddy?"
Dia noleh ke arahnya, seringai nakal di bibirnya dan alis terangkat.
"Kamu beneran mau tau? Hal itu agak seksi dan nakal. Aku bakal seneng banget. Bikin aku ngerasa kayak cowok."
"Kamu lebih aneh dari yang aku kira. Pergi sana." dia ketawa.
"Oke. Aku mandi cepet."
"Oke."
*
"Jadi, dia jelas ngajak kamu kencan. Walaupun cuma buat jalan-jalan. Tapi itu jelas berarti dia suka sama kamu liat gimana dia kecewa pas yang lain ngerusak rencananya, dan gimana senengnya dia pas kamu ngajak dia buat hari Minggu." Saïda bilang, motong daging di piringnya.
"Dia baik. Aku cuma mau bikin dia nyaman." Asahd jawab dan masukin makanan ke mulutnya.
Saïda natap dia sebentar.
"Kamu mau nerima buat pacaran sama dia, kalau dia ngajak kamu?" dia nanya, bikin Asahd kaget.
"Aku gak mikir sampe situ."
"Tapi mau gak?"
"Jujur, dia bukan tipeku. Tapi aku menghargai dia. Dia agak pemalu dan kalau dia ngumpulin keberanian buat beneran ngajak aku pacaran kayak yang kamu bilang, aku mungkin bakal nyoba buat sama dia."
"Berarti kamu mungkin bakal nerima dan walaupun kamu gak suka sama dia sekarang, kamu bakal liat kalau kamu akhirnya mulai suka pas udah pacaran?"
"Yup."
"Jujur, aku harap dia ngajak kamu kencan. Biar kamu akhirnya belajar buat punya hubungan yang stabil dan bagus."
"Harusnya aku tersinggung sama itu, tapi itu kenyataannya." Asahd ketawa.
"Dan siapa tau? Kalau itu makin mendalam dan tulus di antara kalian berdua, kamu bisa kenalin dia ke orang tuamu, pas balik ke Zagreh. Itu kalau dia mau."
"Iya, mungkin. Kita liat aja nanti."