Bab 7 – Asahd yang Bodoh
Sudut Pandang Asahd:
Gue tetep ngurung diri selama gue bisa tidur dan sadar lagi.
Gue buka mata setelah tidur dua atau tiga jam, mabuknya udah ilang. Ada benjolan di tenggorokan gue dan gue kesel banget!
Gue kan Pangeran, astaga!! Tapi Ayah gue malah ngurung dan ngawasin gue kayak gue bocah nakal.
'Mandi dulu, Asahd. Lupakan omong kosong ini...' pikir gue, masih kesel banget.
Gue ngomel sendiri dan turun dari kasur. Terus gue langsung ke kamar mandi buat mandi air dingin.
-
Jam tujuh malam, pas gue keluar dari kamar mandi. Gue udah laper banget.
Gue dandan dan pas gue mau bikin masalah dengan ngancem Pengawal di seberang pintu kamar gue, ada yang ngetuk.
"Ya??" jawab gue, kesel.
Sesaat kemudian, anak laki-laki pelayan masuk.
"Selamat malam, Pangeran. Sultan minta Anda bergabung dengan dia, dan Ratu, untuk makan malam."
"Kayak mereka punya pilihan." gumam gue dan jalan melewati dia, beneran nyenggol dia pake bahu gue dan bikin dia kesandung dikit.
Gue masuk ke koridor dan ngasih Pengawal yang ditugasin buat ngawasin gue, tatapan mematikan, sebelum menuju tangga dan turun buat gabung sama orang tua gue.
Sudut Pandang Penulis:
Mereka ngeliatin Asahd gabung sama mereka di meja, tanpa nyapa atau bahkan ngomong sepatah kata pun. Dia tetep cemberut dan lagi gak mood buat nyoba dan ngegombalin mereka. Oh, coba aja dia tau, apa yang udah mereka siapin buat dia.
"Selamat malam, Asahd." mereka nyapa dengan senyum.
Asahd natap mereka kayak mereka gila.
"Jadi kalian cuma mau senyum ke gue, kayak kalian gak ngehina gue, tadi sore?" akhirnya dia ngomong.
"Kamu yang ngehina diri kamu sendiri, juga kami." jawab Ayahnya.
Asahd muter bola matanya.
"Terserah. Gue laper. Sini layanin gue." perintah dia ke salah satu pelayan wanita yang bertugas buat nyajiin makan malam mereka.
Cewek itu ngelakuin apa yang disuruh, sementara yang lain nyajiin Sultan dan Ratu. Sultan terus nyuruh mereka semua, baik pelayan wanita maupun Pengawal, buat ninggalin mereka berdua, yang bikin Pangeran kaget.
"Kami punya sesuatu buat kamu, anakku sayang. Kejutan bagus yang bakal bikin kamu merasa lebih baik." Ratu mulai dengan cara yang lumayan ngegombal.
"Apaan?" jawab Asahd dengan kasar, sebagai gantinya.
"Kamu gak bakal keluar dari istana ini dan bakal diawasin selama dua hari ke depan." Sultan mulai.
Asahd yang lagi ngunyah makanannya, berhenti dan natap kosong ke mereka. Kayak dia gak denger apa yang baru aja Ayahnya bilang. Tapi terus dia ngelakuin sesuatu yang bikin orang tuanya terhibur. Dia celingak-celinguk dan teriak:
"Saïda?? Saïda??" dia manggil tapi dia gak ada di deket situ. Terus dia ngeliat ke orang tuanya, dan dengan cara yang paling sarkas, bilang:
"Cewek itu selalu bawa kamus atau gimana, kayak dia gak ada kerjaan. Gak pernah ada pas gue butuh dia." dia cemberut ke mereka, "Kayak sekarang. Gue butuh kamus, buat ngejelasin kata-kata: bagus dan kejutan, ke kalian berdua. Terus, gue harus ngejelasin apa arti kombinasi dari kedua kata itu."
Dia mengakhiri dengan cemberut. Ayahnya tertawa kecil.
"Apa yang lucu??" dia nanya, dengan mata lebar dan cemberut, "Kamu bilang ke gue, kamu punya kejutan bagus yang bakal bikin gue merasa lebih baik, dan terus kamu, Ayah, nyemburin kalau gue bakal dikurung di sini selama dua hari? Lebih baik gue simpan kata-kata yang gak sopan dan menghina, yang lagi melintas di pikiran gue sekarang, buat diri gue sendiri."
"Asahd, kamu gak biarin Ayah selesai ngomong." Sultan nyatain.
"Terus tolong selesain sebelum gue beneran kehilangan kendali diri gue ke kalian berdua."
"Kamu ngasih syarat dan ngancem kami?" Ratu nanya gak percaya gimana Asahd makin gak sopan.
"Biarin aja." Sultan nenangin istrinya, langsung. Gak perlu kehilangan emosi mereka, Asahd bakal nyesel.
"Iya, kayak yang dia bilang." Asahd nyinyir dan masukin lebih banyak makanan ke mulutnya. Orang tuanya natap dia, masing-masing berusaha keras buat gak marah ke dia.
"Seperti yang Ayah bilang..." Sultan melanjutkan, "...dikurung selama dua hari adalah hukuman kecil kita buat apa yang kamu lakuin tadi sore. Tapi di hari ketiga, kita berencana buat ngirim kamu pergi jalan-jalan ke Amerika Serikat."
Asahd ngangkat muka.
"Buat apa?" dia nanya, mulutnya penuh.
"Asahd, sopan santun." ibunya nyatain. Dia natap sebentar ke ibunya, masukin lebih banyak makanan ke mulutnya, dan terus balik ke Ayahnya, lagi.
"Buat apa?" dia ngulang, mulutnya masih penuh. Asahd beneran godaan yang buruk. Dia bisa bikin orang yang lebih tua pengen ngehajar dia.
"Buat liburan. Kamu belum pernah ke sana. Tapi Ayah tau kamu selalu bilang kalau kamu pengen pergi."
"Lanjut ngomong." dia ngunyah.
"Kamu pergi ke Australia dan balik lagi. Tapi liburannya belum selesai, kan. Jadi, kamu bisa ngabisin sisa liburan di AS. Biar kamu merasa lebih baik."
"Nah, sekarang kamu ngomong." Asahd senyum, masukin lebih banyak makanan ke mulutnya dan ngunyah dengan senang.
"Pernah pengen jalan-jalan ke, New York? Florida? Chicago?"
"Iya, Tuan!"
"Kalau gitu kamu bakal pergi. Djafar dan Saïda bakal ikut sama kamu."
Dia natap Sultan, senyumnya memudar.
"Gue suka kehadiran Djafar dan bakal seneng kalau dia ikut sama gue. Tapi kenapa sih Saïda juga ikut dalam hal ini? Gue gak tahan sama dia."
"Bahasa!" Ayahnya membentak.
"Maaf." Asahd minta maaf, cepet. Bukan karena dia nyesel tapi karena dia gak mau Ayahnya marah lagi, karena dia mikir itu bisa ngerubah rencana Ayahnya buat ngirim dia liburan.
"Djafar itu ayahnya. Dan dia asisten kamu. Mereka ikut sama kamu karena kamu belum pernah pergi ke sana sebelumnya. Dan kamu gak harus sendirian. Mereka bakal ngikutin dan ngurusin kebutuhan kamu."
"Kalau dibilang gitu, kedengarannya lebih bagus." jawab Asahd, makan makanannya.
"Kamu seneng?" Sultan nanya sambil dia dan Ratu, senyum ke anak mereka yang gak tau apa-apa.
"Yup."
Dia bahkan gak bilang, terima kasih.
"Oke. Kamu bakal pergi ke New York dulu. Terus kota-kota lainnya."
"Oke deh."
**
Malamnya, Djafar cerita ke putrinya tentang misi rahasia kecil mereka dan aturannya. Dia ketawa ngakak.
"Jadi, kita harus memperlakukan dia dengan normal?? Kita gak punya perintah buat diambil dari dia?" dia nanya, dengan senang.
"Iya. Ini buat kebaikannya sendiri. Ingat dia gak boleh tau apa-apa tentang ini. Satu-satunya waktu dia bakal tau adalah pas kita di New York. Dengan bantuan kontak di sana, apartemen udah disewa buat kita.
Jadi, begitu kita mendarat, kita bakal langsung ke sana. Itu bakal jadi rumah kita, di sana."
"Hihihi, gue gak sabar pengen liat mukanya pas dia sadar kita bakal ngabisin semua malam kita di sana dan bukan di hotel bintang lima."
"Ayah udah kasihan sama dia." Djafar ngaku. "Dia belum pernah ngejalanin hidup yang normal atau rata-rata. Ayah harap dia belajar buat ngadepinnya karena ini buat kebaikannya sendiri. Dan Ayah harap gak nyerah sama tingkahnya."
"Oh, Ayah." Saïda meluk ayahnya, "Jangan kasihan sama dia. Kalau Ayah pernah merasa pengen nyerah, sama tingkahnya, aku bakal ada di sana buat bantu Ayah balik ke jalur yang benar. Sultan dan Ratu bisa ngandelin aku buat tegas sama Pangeran." dia mengakhiri, udah semangat banget.
"Ayah seneng kamu beneran pengen dia berubah juga."
"Tentu saja." dia bohong dengan senyum.
'Gue gak peduli, kalau dia berubah atau gak! Gue liat kesempatan ini sebagai waktu balas dendam! Gueee udah siap banget.'
Pikirnya, senyumnya melebar. Jadi senyum yang hampir menakutkan.