Bab 13 - Kata-Kata Kemarahan
POV Asahd:
Gue berdiri di depan pintu apartemen malam itu, benerin diri sambil cemberut biar Djafar sama Saïda lihat kalau gue masih kesel banget sama mereka berdua.
Gue masuk apartemen dan nemuin mereka lagi nonton TV. Kayaknya mereka beli TV hari itu.
"Selamat malam, sayang. Gimana hari ini?" tanya Djafar dengan khawatir. Susah banget buat nggak peduli dan tetep marah sama dia. Susah banget. Tapi gue harus. Gue nggak bakal maafin dia atau orang tua gue semudah itu, setelah apa yang mereka lakuin ke gue. Sama sekali nggak.
Gue banting pintu di belakang gue, cemberut. Terus, gue mendekat dan ngelempar seragam baru gue ke meja kecil di tengah ruang tamu kecil itu. Apartemen itu bisa jadi seluruh kamar gue di Zagreh, gabung sama ruang ganti dan kamar mandi, semuanya.
—
Mereka natap kaos itu dengan bingung. Akhirnya gue ngomong:
"Dapet kerjaan jadi pelayan. Mulai besok jam delapan."
Gue lihat ekspresi mereka cerah dan kaget.
"Ya ampun, ini bagus banget!" seru Djafar senang sementara Saïda senyum dan tepuk tangan, "Gue tahu k–"
"Ini bukan karena kalian berdua, jadi nggak usah muji-muji." potong gue dengan kasar, ngambil kaos itu, "Tempatnya bener-bener di ujung kota. Gue harus bangun dua jam sebelum waktunya biar nggak telat. Mereka bilang kalau gue telat, gue bakal dipecat."
"Nggak bakal. Gue percaya lo bakal tepat waktu." kata Djafar senang, "Gue seneng banget, Asahd sayang. Seneng banget buat lo."
"Gue nggak butuh kepercayaan atau kebahagiaan lo." jawab gue, "Lo udah ngekhianatin gue dan sekarang gue nggak peduli apa yang lo atau cewek mulut pedes ini pikirkan."
Saïda senyum, nggak terganggu kayak ayahnya.
"Berarti lo dulu peduli sama apa yang gue bilang?" godanya dengan senyumnya masih ada.
Gue mendengus.
"Sialan lo." Gue muter mata dan ngadep ke ayahnya, "Gue nggak bakal bisa ngadepin masalah bangun pagi ini. Terlalu banyak. Macetnya gila-gilaan tiap pagi di kota ini. Gue bahkan mungkin harus bangun tiga jam sebelum waktunya. Lo harus benerin masalah itu."
"Gimana?" tanya Djafar.
"Mobil. Gue butuh mobil." jawab gue, santai.
"Ck! Tunggu aja." Saïda mendengus, ngambil kaleng soda buat minum, "Lo harus bangun pagi, Asahd. Suka atau nggak."
"Siapa yang ngomong sama lo?" tanya gue dengan cemberut dan mukul kaleng soda, bikin minumannya tumpah ke dadanya.
"Aah! Ayah!" dia menjerit waktu minuman dingin itu tumpah ke dia.
"Ayah." gue niruin dengan suara kecil, "Berikutnya alis lo dicukur pas lo tidur."
"Cukup." Djafar geleng kepala dengan kesal. Terus dia ngadep ke gue, "Asahd, gue rasa mobil terlalu berlebihan. Lo harus belajar dari pengalaman."
Mata gue membelalak.
"Gue bakal bangun jam lima tiap pagi?! Adil nggak sih? Djafar gue bakal selesai kerja jam 10 malem tiap hari sialan! Dan gue bakal sampe rumah jam 11 karena macet atau kalau gue nggak nemu taksi cepet. Kapan gue istirahat? Gue harus mandi dan makan dan saat itu, udah tengah malam atau lebih. Berapa jam tidur??"
Mereka nggak jawab dan benjolan di tenggorokan gue makin besar dan mulut gue, pahit.
"Gue bahkan nggak tahu kenapa gue ngeluh ke kalian berdua." gue cemberut dan geleng kepala, "Kalian di sini makan enak dan nikmatin hidup dengan uang yang dikasih ke kalian yang seharusnya buat ngurusin kebutuhan gue yang paling penting dan perlu. Gue tahu gue minta hal-hal nggak berguna kebanyakan waktu, tapi gue beneran berharap kalian ada di pihak gue buat yang satu ini."
"Asahd, tujuannya di sini adalah biar lo ada di posisi yang sama dengan orang-orang di luar sana yang kerja lebih keras. Orang-orang yang cuma punya tiga sampai empat jam tidur karena dua kerjaan yang mereka coba kerjain buat bayar tagihan dan masukin makanan ke mulut mereka. Lo terlalu egois. Dan kalau itu berubah, maka lo bakal mulai dapet lebih sedikit sampai akhirnya lo keluar dari situasi ini." adalah jawaban tegas Djafar. Saat itu, nggak ada cara gue bakal bisa ubah pikirannya. Itu bikin gue marah banget. Sangat, sangat marah.
Gue jadi marah banget, gue nendang meja itu keras banget sampai kebalik dan jatuh ke lantai dengan suara gedebuk keras yang bikin ayah dan anak gemetar kaget.
"Asahd, cukup!" kata Djafar tegas, cemberut.
"Lo nggak nyuruh gue apa yang harus dilakukan!" gue menggeram, "Jangan berani-berani, Djafar. Lo udah ngebunuh hubungan kita. Dulu gue kagum sama lo tapi sekarang," gue ngasih dia tatapan paling nyebelin, "Gue nggak peduli lagi sama lo. Gue nggak peduli! Kalian berdua setuju buat ngawasin gue di sini, kan? Ya buat gue kalian bukan siapa-siapa!"
Gue dengan marah nendang kursi dan Saïda gemetar ketakutan.
"Asahd, lo nggak tahu apa yang lo omongin!" katanya.
"Lo, diem. Gue benci lo, jadi jangan ngomong sama gue."
"Asahd!" serunya kaget.
"Asahd, tenang." kata Djafar.
"Jangan ngomong sama gue. Saïda, mending lo abaikan gue. Gue serius!"
Dan tanpa basa-basi lagi, gue langsung ke kamar gue. Gue marah banget sampai gue harus nenangin diri. Bener-bener nenangin diri.
**
Satu jam setelah tiduran nggak gerak di kamar gue, akhirnya gue udah tenang. Gue harus mikir positif. Gue udah dapet kerjaan dan pikiran itu bikin gue merasa bener-bener enak. Gue harus lakuin semuanya buat pertahanin kerjaan itu. Itu adalah keajaiban gue bisa nemuin tanda itu. Bahkan kalau gue harus bangun tiga jam sebelum waktunya, meskipun bakal susah buat gue, gue bakal lakuin itu.
—
Setelah mikir sebentar tentang apa yang udah terjadi sebelumnya, gue mulai nyesel sama semua yang udah gue omongin ke Djafar dan Saïda. Gue ngomong kata-kata itu karena marah. Gue nggak maksud gitu. Mereka bukan 'siapa-siapa' buat gue. Dan gue jelas nggak benci Saïda. Gue nggak suka banget sama dia, tapi gue nggak benci dia.
'Tapi gue nggak minta maaf, sih.'
Fakta. Gue nggak bakal minta maaf sialan! Nggak buat saat ini. Gue bakal, dengan waktu dan kalau gue udah bisa ngalahin masalahnya, baru gue bakal minta maaf. Gue mau mereka terus hidup dengan hati nurani yang berat, mikir gue beneran maksud kata-kata itu.
Nge-tutupin selimut tipis yang seharusnya jadi selimut gue, gue merem dan setelah beberapa menit, gue ketiduran. Gue harus bangun pagi buat hari pertama kerja gue.
—
POV Penulis:
Satu jam setelah Asahd keluar dari ruang tamu, Djafar dan Saïda masih di ruang tengah. Saïda sangat terganggu dan nggak nyaman sejak Asahd ngaku benci dia. Dia kaget ayahnya kelihatan nggak terganggu. Meskipun dia sebenernya agak terganggu, dia nggak terlalu khawatir, sih.
"Ayah, Dad, udah satu jam. Dan lo nggak mau ngomong apa-apa tentang kata-kata Asahd?" akhirnya dia nanya ke Djafar yang lagi sibuk nonton TV.
"Dia nggak maksud gitu, sayang. Dia cuma marah." jawab Djafar santai.
Dia kenal Asahd banget. Mungkin bahkan lebih baik dari Sultan sendiri. Dia nggak terganggu karena dia tahu semua yang keluar dari mulut Asahd cuma kata-kata kosong dan marah.
Saïda, bagaimanapun, nggak yakin.
"Ayah, dia serius banget. Dia natap gue di mata dan bilang dia benci gue. Dia bilang kita bukan apa-apa buat dia." keluhnya.
"Sayangku, Ayah lihat dia tumbuh. Ayah kenal Asahd sama kayak Ayah kenal kakak laki-laki lo. Dia kayak satu anak lagi buat Ayah. Santai. Dia nggak maksud gitu. Dalam beberapa hari, semuanya bakal baik-baik aja. Dia masih harus beradaptasi sama hidup ini. Dia masih harus nerima kenyataan dia sekarang. Semuanya bakal baik-baik aja. Oke?" dia mengakhiri dan senyum ke putrinya yang khawatir.
"O– oke, Ayah." dia senyum balik. Tentu aja dia masih nggak yakin. Buat Saïda, Asahd beneran benci dia. Dia serius banget waktu ngomong gitu sampai cewek itu harus percaya.