Bab 55 – Dijanjikan
***
POV Asahd Usaïd:
Malam itu, gue balik ke apartemen dan nyapa Djafar. Pas gue lihat Saïda duduk deket dia, jantung gue langsung jedag-jedug.
'Dia cakep banget.'
Dia lagi asik mainin hapenya, dan pas gue nyapa, dia ngangkat muka terus senyum tipis.
"Helllooo. Gimana hari ini?" tanya dia santai.
"Lumayan, lumayan."
"Oke. Gue angetin makanan dulu ya, lo mandi sana."
"Oke."
Gue langsung masuk kamar buat ganti baju dan mandi.
Begitu selesai dan keluar kamar, gue langsung nyamperin Saïda yang lagi nyiapin makanan di piring. Gue deketin dia.
"Hey..."
Dia noleh, dan gue langsung meluk dia erat. Dia bales meluk gue, sambil ngusap-ngusap punggung gue pelan kayak biasanya. Jantung gue berdebar kencang di dadanya, dan gue juga bisa ngerasain jantung dia.
Kita pelukan lumayan lama, terus gue cium lehernya sebelum pelan-pelan lepas.
"Kayaknya lo kangen gue deh." goda dia dengan pipi merah, terus balik lagi ke apa yang dia kerjain.
"Lo tau lah gue kangen."
Dia senyum malu-malu, terus makin merah.
"Kemarin- kemarin itu-" dia mulai, sambil berdehem nggak enak. Gue tau apa yang mau dia omongin, tapi gue juga tau susah buat dia ngakuinnya terang-terangan.
"Enak? Bergairah? Penuh gairah?" tanya gue, meluk dia dari belakang, "Soalnya buat gue sih luar biasa."
Gue nundukin kepala, terus nyium-nyium lembut di lehernya. Gue bisa ngerasain bulu kuduknya berdiri di lengan halusnya.
"Enak kan?" tanya gue pelan, meluk dia makin erat. Gue beneran denger dia nelen ludah. "Gue buktiin ke lo, apa yang lo lakuin ke gue, Saïda. Gue sampe keluar keras cuma gara-gara ngeseks sama lo."
Napasnya udah berubah dikit, dan gue tau gue udah bikin dia terpengaruh.
"Gue mau lo, Saïda. Gue beneran mau. Please, sama gue."
Pelan-pelan, dia lepasin pelukan gue, dan dengan muka merah dan napas yang agak ngos-ngosan, dia bilang:
"Gue sama Noure. Lo sama Allison."
"Tapi kita saling mau, dan lo tau itu."
Dia diem, kayak nge-iyain omongan gue.
"Gue janji satu hal," gue narik dia lagi ke gue sampe dadanya nempel di dada gue, "Gue bakal bikin lo jadi milik gue sepenuhnya."
"Jangan sok yakin deh." gumam dia, matanya turun ke bibir gue.
"Mulut lo bilang lain, tapi hati dan badan lo bilang lain." Gue nundukin kepala dan nyium bibirnya. Dia langsung gigit bibir bawahnya begitu gue selesai, bikin gue nelen ludah dan pengen nyium dia sampe dia keabisan napas.
"Lo udah baca hati dan badan gue sekarang?" tanya dia santai, matanya masih di bibir gue.
"Nggak keliatan jelas, sayang?"
"Lumayan." dia ngangkat tangan dan ngusap lembut bibir gue, "Gue lagi berantem sama diri sendiri setiap kali gue lihat lo. Gue benci diri gue sendiri karena apa yang gue jadiin. Tapi di saat yang sama, gue suka semuanya, Asahd. Bilang ke gue apa yang udah lo lakuin ke gue." gumam dia, natap mata gue sekarang kayak dia bisa baca pikiran gue.
"Bilang ke gue apa yang udah lo lakuin ke gue, Saïda. Lo ngabisin pikiran gue terus-terusan."
"Pas banget berarti, kita sama-sama kena. Bakal susah keluar dari lubang ini." ekspresinya agak sedih, "Kenapa lo lakuin ini ke gue? Kenapa lo nggak biarin gue aja, Asahd."
"Gue udah coba. Nggak bisa."
"Coba lagi, please. Bikin gue belajar buat nolak lo."
"Udah telat, Saïda." bisik gue, terus nyium dia. Pelan dan penuh gairah, nikmatin waktu dan dapetin kepuasan yang sama yang dia kasih ke gue setiap saat.
Dia desah pelan, dan tangan halusnya megang muka gue sambil dia bales ciuman gue dengan intensitas yang sama.
'Oh Saïda, gue harus bikin lo jadi milik gue, sepenuhnya milik gue. Bahkan kalau harus ngerayu lo sampe akhir. Gue bakal lakuin.'
"Lo bikin gue ngerasain sesuatu yang belum pernah gue rasain sebelumnya, tadi malam." gumam dia di bibir gue, "Kenapa gue biarin lo ngelakuinnya? Semuanya makin berantakan karena gue nggak bisa berhenti mikirin lo sekarang. Gue belum pernah sebingung dan nggak berdaya ini sebelumnya." keluh dia, nyenderin dahinya di dahi gue.
"Itu tujuan pertama gue." gue senyum di bibirnya, nyium dia lagi.
"Jadi ada lagi?" gumam dia.
"Iya. Bikin lo jadi milik gue dan sepenuhnya milik gue. Mau lo cinta sama Noure atau nggak."
Gue cium dia lebih dalam, dan dia desah pelan dan lirih sambil gue elus-elus dia. Gue suka banget ngerasain badan halusnya yang lembut di pelukan gue. Bau manisnya dan kerapuhannya. Gue cuma pengen ngerawat dia, ngasih dia dunia kalau bisa.
Akhirnya kita pisah, dan dia lihat gue sebentar, bibirnya yang merah muda bengkak karena ciuman, sebelum balik lagi ke piring.
"Gue di ruang tamu ya."
"Oke..."
***
Besoknya libur nasional, jadi kita nggak kerja. Semuanya baik-baik aja di pagi hari.
Sorenya, gue lagi main hape di kamar pas Saïda masuk. Dia senyum tipis, dan gue bales senyum. Dia duduk di pinggir kasur gue, dan gue langsung duduk terus nyium pipinya pelan.
"Lo baik-baik aja?" tanya gue, dan dia ngangguk.
"Iya, gue bosen. Mau jalan-jalan keliling kota?" tanya dia.
"Oke, sayang."
-
Kita pamitan sama Djafar dan keluar dari apartemen. Gue berhasil benerin pintu mobil gue sama sepupu Alex yang lumayan jago soal mobil dan mau bantu gratis. Jadi, nggak perlu masuk lewat jendela lagi.
'Syukurlah...'
Kita masuk mobil begitu di luar, dan langsung jalan. Kita keliling kota, dan gue bahkan mampir ke restoran cepat saji buat beliin kita makanan. Sore kita berjalan lancar.
Pas kita lagi nyetir di jalanan, Saïda ngelihat tempat yang sepi kayak tembok atau balkon dengan pemandangan kota yang bagus, di sisi lain.
Kita keluar dari mobil dan duduk di sana. Kita duduk deket banget. Gue nyender ke samping dan ngadep dia, tangan gue di bahunya sementara dia naruh kaki kirinya di kaki gue.
"Pemandangannya bagus, kan?" kata dia pelan.
"Iya." kata gue, akhirnya ngalihin pandangan dari wajah cantiknya dan natap kota.

"Nggak ada aturan di sini. Nggak ada tradisi yang dipaksain." gumam dia dan natap gue, "Gue nggak bohong, gue udah bilang sebelumnya, Asahd. Walaupun nggak percaya kalau gue beneran ngebiarin semuanya terjadi."
"Kita?" tanya gue, pelan-pelan ngusap bahunya.
Dia merah dan nyelipin rambutnya ke belakang telinga. Mulai berangin, dan dia ninggalin jaketnya di mobil. Gue lepas jaket gue dan nutupin dia pake itu.
"Makasih." dia senyum ke gue.
"Sama-sama."
Dia natap gue dan matanya turun ke mulut gue.
"Gue penasaran banget, lo tau. Gue benci kenyataan itu." dia noleh dikit buat ngadep gue, "Tapi gue suka hal-hal yang gue temuin. Soal badan gue sendiri. Hal-hal yang lo bikin gue rasain."
'Gue belum selesai.'
"Gue mau bikin lo ngerasain hal yang lebih enak lagi, Saïda." Gue usap pipinya dan mendekat, "Biarin gue aja."
Gue cium dia dan gue ngerasain dia meleleh di pelukan gue kayak biasanya.
"Gue belum selesai sama lo." bisik gue di bibirnya, "Gue bakal cicipi setiap bagian dari lo, Saïda."
Desahan pelan keluar dari bibirnya.
"Setiap bagian dari lo, lidah gue bakal jelajahi. Gue janji."
Gue denger napasnya berubah.
"G-gue nggak bakal biarin lo." dia tergagap kehabisan napas.
Gue senyum, bibir gue nempel di bibirnya.
"Kita lihat aja nanti." gue jilat bibir bawahnya pake ujung lidah gue, "Kita lihat." Gue pelan-pelan tempelin bibir gue ke bibirnya.