Bab 36 – Sensitif
Sudut Pandang Penulis:
Hari berikutnya, Asahd bilang ke Djafar kalau dia mau keluar.
"Oke deh. Kabarin kalau gak balik cepet ya."
"Siap." Dia jalan ngelewatin dapur dan ngasih lambaian kecil ke Saïda sebelum ke pintu, tapi dia manggil. Dia balik lagi ke pintu dapur.
"Kenapa?" tanyanya, masuk.
"Iya, mau kemana?" tanyanya, matanya gak lepas dari talenan pas dia motong sayuran.
"Mau ketemu Ally." jawabnya, mendekat ke dia dan ngeliatin sayuran yang dipotong.
"Oh..." jawabnya singkat. Asahd natap dia.
"Kenapa sih?" tanyanya khawatir.
"Oh, gak papa. Cuma bosen aja, kupikir kita bisa jalan-jalan atau gimana, abis aku masak. Tapi gak papa kok."
"Aku bisa ubah rencana kalau kamu mau." jawabnya.
"Manis sih, tapi kan gak bisa batalin janji sama pacar cuma gara-gara aku bosen." pikirnya sedikit.
"Bisa kok kalau emang penting atau kamu mau aku gitu. Lagian, aku sama Ally cuma mau ngumpul di apartemen dia sama kampus."
"Gak papa kok." dia senyum buat nenangin.
"Oke." dia senyum dan mau pergi, tapi Saïda gak bisa nahan diri buat gak nanya lagi.
"Jadi, kalau aku minta kamu buat tetep disini, kamu mau?" pikirnya.
Asahd berhenti dan balik badan ke dia. Dia senyum dan masih fokus sama yang dia kerjain.
"Kayak yang aku bilang, aku mau kalau kamu mau. Kamu mau aku tetep disini kan? Kamu tau kamu mau." pikirnya dan dia ketawa, ngeliatin dia.
Faktanya, mereka berdua pengen nemenin satu sama lain. Mereka makin deket seiring waktu dan sering bareng kalau gak lagi kerja atau tidur.
Sudut Pandang Saïda:
"Harusnya kamu nanya diri sendiri, kamu mau tetep disini apa gak." pikirku dan dia ketawa.
"Jadi, kita mau main tebak-tebakan terus nih?" tanyanya.
"Aku punya banyak waktu. Kamu tuh yang harusnya pergi ketemu orang." godaku sambil cekikikan.
Aku gak bisa bohong sama diri sendiri. Aku sebenernya pengen dia tetep disini, tapi aku gak bisa minta dia gitu karena Ally mungkin lagi nungguin dia. Tapi satu hal yang bikin aku seneng banget, yaitu kalau aku minta, dia pasti bakal tetep disini.
'Dia dengerin aku, gitu ya? Wow... Dia... Manis...' pikiran itu bikin aku senyum gak sadar.
"Saïda?" pikirnya dan aku langsung sadar.
"Hah??"
"Kamu ngilang beberapa detik." dia ketawa.
"Gak usah mikirin aku. Kamu-"
Aku keburu dipotong sama teleponnya bunyi. Dia angkat.
"Hai, sayang." katanya dan aku balik lagi natap talenan, alis naik karena alasan yang aku abaikan.
"Oh, aku- aku lagi otw." dia bilang ke Ally lewat telepon. Aku ngeliat ke atas dan saat itu juga, dia ngangkat kepala dan natap aku juga.
"Gak, aku belum keluar apartemen. Kenapa?" tanyanya, buang muka. Aku natap talenan lagi, motong sayuran.
"Oh, oke." katanya santai, "Gak, gak masalah. Aku gak keberatan sama sekali."
Aku ngeliatin dia lagi. Dia noleh ke aku dan ngedipin mata. Jantungku langsung deg-degan kayak yang mulai terjadi setiap dia ngedipin mata ke aku, akhir-akhir ini. Lucu sih karena aku mikir kayaknya bodoh banget badan aku bereaksi kayak gitu.
Terus dia bisikin ke aku, masih nelpon:
"Jangan sampe kepotong jari kamu." pikirnya dan aku cekikikan pelan, ngadep talenan lagi.
"Oke sayang. Iya, aku kangen juga. Telepon lagi nanti ya, oke? Oke. Dah, sayang." dia matiin teleponnya.
"Dia bilang apa?" tanyaku tanpa mikir.
"Aku gak boleh cerita semua yang terjadi antara Allison sama aku, kan?" pikirnya, nyender di wastafel dan ngeliatin aku pas aku motong sayuran.
"Kamu juga gak cerita semua yang seru antara kamu sama Noure, kan?"
Aku cekikikan.
"Soalnya privasi."
"Ya, aku juga punya urusan privasi." dia cekikikan.
"Mm." aku ngangkat bahu, tiba-tiba ngerasa canggung.
Sudut Pandang Asahd:
Aku natap pisau di tangannya dan gimana dia motong sayuran cepet banget, tapi hati-hati, kayak gampang dan gak bahaya.
"Dia bilang kita harus ubah rencana karena dia ada urusan penting lain. Jadi, aku akhirnya tetep disini." akhirnya aku bilang.
"Aku tau kamu bakal ngomong gitu. Kamu gak punya pilihan." godanya dan aku ketawa.
"Kamu masih aja bikin masalah."
"Kamu juga, tau." dia cekikikan.
Aku ngeliatin dia motong sayuran lagi.
"Boleh aku coba motong itu? Itu yang terakhir kan?" tanyaku, berdiri tegak.
Dia senyum dan ngeliatin aku.
"Kamu pernah ngapa-ngapain di dapur? Gak pernah kan. Jadi biar aku aja."
"Pliiis. Dan kalau aku luka, kamu cium." aku senyum dan dia ketawa, ngeliatin aku.
"Kamu bisa aja- aah!" teriakannya bikin aku kaget dan aku langsung nyari apa yang salah. Dia mengerutkan kening kesakitan dan ngangkat jari telunjuknya. Aku liat darah.
"Aduh!" teriaknya.
"Ya ampun. Tunggu bentar." Aku hati-hati megang tangannya dan naruh di bawah keran, nyalain airnya. Airnya nyembur ke jarinya.
"Tunggu bentar."
Aku lari ke kotak P3K kecil di kamar mandi dan ngambil plester sama kapas. Aku balik lagi ke Saïda dan matiin kerannya. Aku hati-hati ngelap air dan darah dari jarinya pake kapas, terus aku balut jarinya pake plester. Dia menjerit dan sedikit gemetar karena plester itu ada alkoholnya, buat berhentiin darahnya keluar dan keringin lukanya.
"Kan udah aku bilang, fokus sama talenan." aku senyum dan niup pelan ke jarinya sampe dia gak ngerasain alkoholnya lagi.
Dia ketawa kecil yang juga kedengeran kayak nangis.
"Kayaknya kamu yang butuh ciuman itu deh." pikirku dan dia cekikikan. "Mau? Bikin kamu enak kok. Sumpah."
Dia ketawa.
"Ya, mungkin aku mau." dia memutar matanya dan aku nyengir. "Emang ngaruh?" dia bercanda.
"Mmhmm." Aku nunduk dan cium jarinya.
"Aku malah suka rasanya. Aku enakan." dia senyum dan napasku sesaat tersentak.
"Bagus." tanpa mikir sama sekali, aku pegang pinggangnya, bikin dia kaget.
"Kamu mau-"
"Aku ambil alih dari sini." potongku dan gendong dia. Dia rapuh banget.
"Ya ampun." dia kaget dan cekikikan, tangannya di bahuku buat pegangan pas aku gendong dia di udara. Mata kita gak lepas dari satu sama lain, sampe aku dudukin dia di wastafel.
"Kamu mau bantuin aku selesai?" tanyanya sambil senyum.
"Mmhmm."
Aku berdiri deket banget sama dia dan di antara kakinya, tanganku di pinggangnya dan tangannya di bahuku.
"Semoga aku gak kepotong. Aku hati-hati kok. Gak kayak kamu." godaku dan dia cekikikan. Cekikikannya selalu bikin perasaan aneh di punggungku, akhir-akhir ini. Perasaan yang enak. Aku suka banget nemenin dia karena kita selalu ketawa banyak dan gak pernah kehabisan topik obrolan. Dan aku yang dulu mikir dia membosankan. Dan, aku suka nyentuh dia.
'Bukan dalam arti yang buruk sih. Aku cuma suka rasa kulitnya yang halus pas aku meluk dia atau megang tangan atau lengannya...
Itu... Itu yang aku maksud.'
"Kamu pake lotion apa sih?" tanyaku, "Kulit kamu halus banget." kataku, tanganku naik dari pinggangnya ke sampingnya.
Dia geli dan ketawa, ngejauhin tanganku. Akhir-akhir ini aku sering gelitikin dia dan sekarang dia hati-hati sama setiap gerakanku, bikin aku terhibur.
"Aku tambahin minyak kelapa ke lotionku. Sekarang mulai motong biar aku masak." pikirnya.
"Siap, nyonya." aku lepasin dia dan noleh ke talenan dan ngambil pisau,
"Semoga aku gak kepotong juga."
"Kalau iya, aku cium juga biar gak sakit." dia ngangkat alisnya main-main ke aku dan aku senyum.
"Ya, aku bisa aja motong sekarang." aku bercanda.
"Asahd, jangan!" dia nyolek aku dan kita ketawa.
"Gak tau ya, tapi aku suka banget main sentuh-sentuhan gini. Kamu juga kan." kataku main-main dan ngangkat alis ke dia.
"Apaan sih? Aku gak kayak kamu. Kamu gila." dia ngejek dan ketawa, padahal pipinya jadi merah.
Ketahuan.