Bab 22 – Rindu Rumah
***
Sudut Pandang Penulis:
Asahd balik ke apartemen keesokan paginya, kecapekan banget dan makin nggak yakin sama Kota New York dan cewek-cewek yang tinggal di sana. Dia kangen rumah. Dia kangen duit. Yang dia pengen banget saat itu, lebih dari apapun, adalah balik ke negaranya.
~~
Dia buka pintu dan masuk. Jam enam pagi dan yang lain masih pada tidur. Dia pergi ke kamarnya dan langsung ambruk di kasur.
'Gue benci hidup ini. Gue benci kota ini. Gue benci pestanya. Gue cuma benci semua orang.'
Dia nutupin mukanya pake telapak tangan, pengen nangis tiba-tiba karena kangen rumah.
'Jangan netesin air mata, Asahd. Jangan sekarang, please.'
Dia capek senyum, capek akting seolah semuanya baik-baik aja dan dia mulai bisa ngendaliin semuanya. Bohong. Dia capek berusaha buat cocok sama hidup yang dia yakini emang bukan buat dia dan nggak akan pernah.
"Gue nggak bisa," gumamnya, ada benjolan di tenggorokannya. "Gue nggak bisa. Gue pengen banget ngilang. Gue pengen benci orang tua gue sama Djafar karena ini, tapi gue nggak bisa. Gue sayang mereka."
Dia mengerang putus asa dan guling-guling di perutnya, ngambil bantal dan nguburin mukanya di situ.
"Gue nggak bisa!" teriaknya ke bantal. Dia beneran nahan pengen nangis. "Gue harus gimana, biar bisa keluar dari kekacauan ini? Gimana?"
Dia diem sebentar, napasnya berat ke bantal. Dan tiba-tiba, kayak ada petir, dia dapet ide. Salah satu ide terbaik yang pernah dia punya.
Asahd duduk dengan mata lebar dan sedikit tersentak, harapan terpancar di wajahnya.
'Gue bisa nabung banyak dari gaji gue dan duit tambahan sampe cukup buat beli tiket balik ke Maroko dan satu lagi tiket dari Casablanca ke Zagreb! Yessss!'
Dia nyari-nyari hapenya dan ngambil. Terus dia nyari harga tiket pesawat ke Maroko dan berapa lagi yang harus dia tabung buat dituker ke mata uang Maroko, biar bisa beli tiket kedua di Casablanca. Duitnya nggak sedikit, tapi Asahd nggak nyerah sama rencananya.
"Kalo gue nabung bener, dalam beberapa minggu gue bisa dapet jumlah ini dan terbang balik ke Zagreb," gumamnya.
'Gue bakal pergi tiba-tiba, tanpa Saïda atau Djafar tau niat gue yang sebenarnya. Mereka cuma bakal denger berita kalo gue udah muncul di Zagreb. Orang tua gue mungkin bakal hukum gue dengan ngurung gue di istana dan kamar gue, tapi siapa peduli?! Mending gue dihukum kayak remaja, daripada tetep di sini!'
Udah final dan diputuskan. Mulai saat itu, Asahd mulai diam-diam ngerencanain gimana caranya nabung duit yang cukup dan balik ke negaranya. Dia harus hati-hati banget biar Saïda atau Djafar nggak tau niatnya dan berusaha ngalangin dia.
"Gue bakal keluar dari neraka dunia ini dalam beberapa minggu. Gue harus pergi dari tempat ini. Gue harus," gumamnya, ngerasa ngantuk banget tiba-tiba.
Dia buka baju, nyimpen hapenya, dan nyelimutin dirinya pake selimut.
***
"Cek dia ada di kamarnya nggak," kata Djafar ke putrinya, pagi itu jam sepuluh pas dia selesai bikin sarapan. "Mungkin dia balik tanpa kita denger."
"Bener juga. Coba aku cek dia."
Saïda pergi ke pintu kamarnya dan ngetok, nggak ada jawaban. Jadi, dia puter gagang pintu dan masuk. Dia lega ngeliat Asahd tidur pules dan nyelimutin diri pake selimut. Dia ngintip dan bilang ke ayahnya kalo dia ada di dalem.
"Oke. Tanya dia mau sarapan sekarang nggak," kata Djafar.
Saïda ngangguk dan masuk ke kamar, nutup pintu di belakangnya. Dia deketin kasurnya dan nepuk-nepuk punggungnya pelan lewat selimut.
"Asahd??" panggilnya beberapa kali sampe dia bergerak dan buka mata. Ada kantung mata di bawah matanya dan keliatan capek banget.
"Mm?" gumamnya, ngantuk.
"Sarapan udah siap. Mau sekarang?" tanyanya.
"Mm-mm," dia geleng-geleng ngantuk, matanya nggak mau kebuka. Terus dia bergumam. "Nggak, sekarang pergi sana."
"Terserah," dia berdiri. "Tapi kita sisain buat kamu. Kamu tinggal masukin Bacon sama telur ke microwave buat diangetin dikit. Denger nggak? Ayah sama aku mau keluar nanti dan kamu mungkin nggak bakal liat kita pas kamu bangun. Oke?" tanyanya, nepuk bahunya pelan buat mastiin dia denger.
"Iya, iya, iya. Boleh nggak gue tidur tenang?" gerutunya ngantuk dan guling-guling di kasur, selimutnya lepas dan nunjukin dia cuma pake celana dalam. Saïda kaget dikit dan karena dia cewek baik dan agak polos, dia langsung balik badan dan ngebelakangin Pangeran yang lagi tidur.
"Kita lagi sarapan di dapur ya," tambahnya dan keluar dari kamarnya.
***
Setelah sarapan, Saïda ngobrol dikit sama ayahnya.
"Ayah, aku lagi mikir buat cari kerja, nih," katanya.
"Kenapa?" tanya Djafar.
"Ayah tau aku gimana. Aku benci diem aja seharian nggak ngapa-ngapain. Satu-satunya yang aku lakuin di sini cuma masak. Aku gampang bosen."
"Oke. Terus kamu mau kerja apa? Ada ide mau nyari di mana?"
"Ada. Toko makanan Maroko tempat aku beli bahan-bahan buat masak. Aku rasa mereka bisa nerima aku buat bantu-bantu. Aku mau coba tanya pemiliknya. Mereka itu pasangan tua, dibantu sama dua anak laki-lakinya."
"Oke. Kamu boleh tanya kerja di sana. Kabarin aku kalo mereka nerima atau nggak."
"Oke, Ayah. Makasih."
"Sementara itu, Ayah mau ketemu orang yang disuruh Sultan buat ditemuin. Ayah balik sorean."
"Oke."
---
Djafar akhirnya pergi, beberapa menit kemudian. Saïda ganti baju dan siap buat jalan-jalan dan pergi ke toko itu tempat dia berharap bisa dapet kerja.
Sebelum pergi, dia ngecek Asahd sekali lagi dan dia masih tidur pules, nggak kebangun.
Karena tau dia nggak denger satu kata pun yang dia omongin tadi, dia nulis surat dan ninggalin di meja sebelum pergi.
--
Sudut Pandang Asahd:
Gue bangun, beberapa jam kemudian. Gue liat jam dan udah jam satu siang. Kepala gue agak pusing dan yang gue pengen cuma mandi air dingin yang nyegerin.
Gue bangun dari kasur, ngambil sikat gigi dan handuk. Gue pake celana pendek dan keluar kamar.
Gue kaget ngeliat nggak ada orang di ruang tamu dan nonton TV. Terus gue liat ada surat yang ditinggal Saïda. Gue ambil dan isinya:
-Karena kamu yang ngantuk nggak denger satu kata pun yang aku omongin pagi ini, aku harus nulis ini.
Sarapan kamu ada di microwave. Aku rasa kamu tau gimana pakenya. Kalo masih laper, ada sisa makanan kemarin di kulkas. Ayah sama aku pergi. Mungkin aku balik sebelum dia. Dan oh, cuci piring yang kamu pake makan, setelah selesai. Kalo nggak, kamu bakal kelaperan malam ini. Serius. Cuci.
Saïda.-
"Iya, Ibu. Apa aja yang kamu bilang," gumam gue dan ngebuang kertasnya sebelum pergi mandi.