Bab 98 – Cancun
Sudut Pandang Asahd:
Kita tiba di Casablanca jam lima sore. Kita punya waktu dua jam lagi sebelum penerbangan kita, jadi aku ajak Saïda ke pusat perbelanjaan, buat makan sesuatu terus belanja kayak yang udah direncanain.
~
Kita duduk di salah satu tempat makanan cepat saji di mal dan pesan sesuatu buat dimakan.
"Capek banget nih dari perjalanan jauh." gumamnya, sambil masukin kentang goreng ke mulutnya.
"Serius? Kamu tidur terus." gumamku, inget gimana dia nyenderin kepalanya di pahaku, di belakang limosin; terus langsung tidur pulas.
"Tau nih." dia cekikikan, "Dari acara kemarin, bikin cinta kemarin, sama perjalanan jauhnya, aku butuh tidur yang bener-bener nyenyak."
"Dan kamu bakal dapet itu." Aku pegang tangannya dan cium. "Kita berdua harus istirahat pas udah nyampe sana. Terus, kita baru mulai nikmatin bulan madu kita secara resmi."
"Gak sabar." dia ngaku malu-malu dan aku naikin alis ke arahnya, bikin dia cekikikan.
"Aku cinta kamu, sayang." Aku senyum.
"Aku juga cinta kamu."
--
Setelah makan, aku ajak dia ke toko yang jual bikini dan baju renang.
"Pilih yang kamu mau dulu." Aku senyum ke dia, udah geli duluan dan tau dia gak bakal milih.
"Kecil banget." gumamnya, sambil liat-liat sekeliling. "Gak ada yang sreg."
Dia pegang-pegang beberapa dan nyoba-nyoba beberapa, sementara aku liat-liat yang lain.
"Ini bagus." katanya dan aku noleh. Dia nunjukin baju renang buat perenang profesional, lengan panjang sama legging. Aku natap dia dan bibirnya bergerak-gerak geli. Dia emang sengaja.
"Kamu bercanda, kan?" gumamku, sambil lipat tangan. Dia ketawa.
"Menurutku keren."
"Mendingan mati aja. Singkirin itu cepet." Aku ketawa dan ambil itu, terus balikin ke tempatnya.
Dia cekikikan kayak anak kecil dan aku senyum ke dia.
"Biar aku yang pilihin buat kamu."
Aku cari-cari dan nemu bikini dua potong yang seksi. Aku udah kebayang dia pake itu.
"Ini, sempurna." Aku senyum nakal dan nunjukin ke dia. Dia kaget geli.
"Gak, ya ampun. Asahd, kecil banget." gumamnya.
"Ini bakal sempurna." Aku senyum, "Aku ambil ini. Kamu bakal pake ini, mau suka atau gak suka."
Dia salting dan geleng-geleng geli.
"Sekarang, beberapa bikini dan baju renang seksi lagi." Kataku dan noleh buat cari yang lain.
Sudut Pandang Saïda:
"Gak nyangka kamu mau aku pake ini." Aku cekikikan, liatin barang-barang kecil yang dia pilih.
"Ya udah, mulai percaya aja." dia ketawa kecil dan noleh ke aku, cium keningku. "Kamu bakal pake ini buat aku dan cuma buat aku, putri. Gak ada yang perlu malu, oke?"
"Hmm..."
"Ayo dong. Oke, sebagai hadiah ulang tahunku, kamu bakal pake ini. Deal?"
'Oh, hadiah ulang tahunnya.'
"Ya udah, deh." Aku senyum dan dia cium bibirku.
'Mungkin aku harus beliin dia sesuatu yang lain. Kejutan yang beneran.
Sesuatu yang gak dia duga dari aku, sesuatu yang bakal bikin dia seneng.
-Tapi apa?'
Dia milih beberapa lagi dan kita keluar dari toko. Kita punya waktu tiga puluh lima menit lagi, sebelum penerbangan kita, jadi kita putusin buat langsung pergi aja.
-
Pas kita lagi jalan ke eskalator buat keluar, Asahd liat toko handphone.
"Udah waktunya aku beli handphone baru." gumamnya, sambil ngeluarin handphonenya. Aku kaget cekikikan. Handphonenya masih yang lama, layarnya retak.
"Kenangan banget." gumamku, "Kukira itu yang pertama kali kamu ganti, pas kamu balik."
"Aku punya kesibukan lain." dia ngedipin mata ke aku dan aku gigit bibir, salting.
"Aku cinta kamu banget." Aku senyum dan cium pipinya.
"Aku juga cinta kamu, sayang. Aku balik lagi." dia cium keningku dan langsung pergi ke toko handphone.
Aku liat-liat toko yang lain. Mataku berhenti di satu toko. Di atasnya ada tulisan:
-TOKO LINGERIE DRAYA.-
Dan di huruf kecil di bawah tulisan utama, ada:
-"Pake mereka, goda dia, senengin dia."-
Pipiku panas dan aku liat-liat sekeliling, ngecek Asahd. Dia masih milih-milih handphone yang ditawarin.
Aku liat toko itu lagi. Aku natap lingerie yang mereka pajang di manekin, lewat jendela kaca.
'Coba liat.
-Gak bisa.
Lakuin buat dia. Cuma coba liat aja, mungkin beli sesuatu sebelum dia balik. Terus kasih kejutan pas bulan madu mulai.'
Aku gigit bibir, gugup dan ragu-ragu. Aku ngecek Asahd lagi dan dia masih sibuk.
"Gak nyangka aku bakal ngelakuin ini." Aku bergumam geli dan buru-buru masuk ke toko.
Aku langsung disambut sama salah satu karyawan. Ada banyak wanita lain yang lagi belanja di sana.
Karyawan itu ngenalin diri.
"Butuh sesuatu, nona?" tanyanya.
"Uhhh..." Aku ngecek buat mastiin Asahd masih di toko handphone. "Iya. Aku belum pernah beli lingerie sebelumnya."
Aku bergumam malu-malu dan wanita itu senyum.
"Tapi kamu mau, sekarang?"
"Um, iya. Aku mau kasih kejutan buat suami aku. Um, kita baru nikah dan mau pergi ke tujuan bulan madu kita beberapa menit lagi. Aku gak tau apa– ya, apa yang dia suka. Aku gak tau apa kamu ngerti maksudku." Aku bergumam gugup.
'Gak nyangka aku ngelakuin ini.'
"Aku ngerti banget." dia cekikikan, "Jangan khawatir, aku bakal tunjukin lingerie terbaik dan paling menggoda kita."
"Oke." Aku cekikikan malu-malu, "Bisa cepetan gak. Dia bakal nyariin aku sebentar lagi."
"Tentu saja. Ikut saya."
"Oke. Makasih."
'Gak nyangka aku beneran ngelakuin ini. Semoga kamu suka ya, Asahd.'
--
Aku buru-buru keluar dari toko lingerie, seolah-olah aku gak pernah masuk ke sana. Aku langsung masukin barang yang aku beli ke tas tangan. Untungnya, Asahd masih belanja.
Semenit setelah aku balik, dia akhirnya keluar dari toko handphone dan nyamperin aku.
"Kita bisa pergi sekarang, sayang. Udah dapet handphone. Semoga aku gak bikin kamu nunggu lama."
"Gak papa kok." gumamku.
"Kamu salting? Demam?" dia elus pipiku.
"Gak, gak. Itu kebiasaan kalau aku liat kamu." Kataku, yang emang bener. Walaupun saat itu, karena alasan yang beda banget.
"Kalau gitu bagus." dia senyum dan pegang tanganku. Kita langsung pergi.
***
Kita pasang sabuk pengaman dan nunggu pesawat lepas landas.
"Cancun, here we come."
--
Gak lama kemudian, kita lepas landas dan aku tau ini bakal jadi perjalanan yang panjang banget. Kita punya banyak jam buat dihabisin di udara.
Tapi, kita di kelas satu dan bener-bener nyaman. Aku tidur hampir sepanjang perjalanan.
***
Akhirnya, kita nyampe Cancun. Pas kita nyampe sana, jam delapan malem. Kita capek banget.
Pas kita keluar dari bandara, mobil udah nungguin kita. Asahd udah ngerencanain semuanya, nyewa mobil dari perusahaan rental mobil.
Orang yang bawa mobil, nyambut kita terus pergi. Asahd masukin barang-barang kita ke bagasi dan kita masuk mobil.
Dia nyalain GPS buat bawa kita ke Vila yang dia sewa.
"Gak sabar mau mandi dan tidur." gumamnya, mulai nyetir.
"Aku juga."
"Laper gak? Biar kita beli sesuatu sebelum ke Vila."
"Gak, gak papa. Aku cuma mau tidur." Aku cekikikan.
"Oke. Kalau gitu, ayo berangkat."
---
Kita nyampe di Vila. Begitu kita berhenti di depan gerbang, gerbangnya langsung dibuka.
Penjaga keamanan yang ada nyamperin kita dan Asahd nunjukin dokumen yang buktiin dia yang nyewa tempat itu.
"Selamat datang, Tuan. Nyonya." mereka nyapa kita terus ngebolehin kita masuk.
Tempatnya bagus banget! Dan lampunya pas banget.
Kita parkir mobil dan keluar. Asahd ambil tas kita dan kita masuk rumah.
Aku nyalain lampu dan takjub. Bagus banget. Dan gede. Pintunya semua dari kaca tapi ditutupin gorden yang bagus, dan aku bahkan bisa denger suara ombak di belakang rumah.
"Wooow."
"Bagus kan?" dia senyum.
"Iya. Ya ampun." Aku kaget dan kagum sama perabotan yang bagus dan lain-lain. Rumah pantai yang keren.
"Kita keliling tempatnya besok aja. Ayo ke atas." dia ngajak dan mimpin jalan. Aku ngikutin.
~~
Kamar utama sama bagusnya kayak bagian rumah yang lain. Semuanya sempurna.
~
Asahd dan aku mandi bareng terus langsung tidur. Kita pelukan dan tidur. Aku beneran seneng di pelukannya.