Bab 48 – Menerima Kenyataan
Sudut Pandang Penulis:
Asahd balik ke apartemen jam dua belas siang besoknya. Dia seneng banget ketemu Djafar di ruang tamu. Pria itu juga seneng ngeliat dia.
"Lo pergi beberapa hari, tapi gue kangen banget, parah." Asahd cekikikan dan membungkuk buat meluk Djafar yang lagi duduk.
"Kangen juga." Djafar senyum bahagia, "Gimana seminggu ini?"
"Ya gitu deh. Gak ada yang baru."
"Tapi lo seneng-seneng kan setidaknya."
"Iya. Gue sama Saïda jalan-jalan sesekali. Gimana tempat yang lo datengin?"
"Ya gitu deh. Gue bisa nyelesaiin apa yang gue datengin buat dikerjain di sana."
"Gue seneng. Saïda mana?" Asahd celingak-celinguk.
"Dia baru selesai mandi. Lagi dandan di kamarnya."
"Oke. Gue mau naro tas dulu."
"Oke, Nak."
Asahd langsung menuju kamarnya.
-
Dia ngebongkar barang-barang yang ada di ransel dan naro lagi di tempatnya di kamar. Pas lagi gitu, ada ketukan di pintu dan Saïda masuk. Mereka senyum-senyuman.
"Akhirnya balik juga." dia berbisik, nutup pintu di belakangnya dan nyender.
"Ngapain lo bisik-bisik?" Asahd berbisik balik dengan geli dan dia cekikikan.
"Soalnya seru..."
"Lo gak mau loncat ke gue?" dia senyum, ngebentangin tangannya.
"Enggak." bibirnya membentuk senyuman geli, "Gue cuma mau meluk lo."
"Gue juga gak masalah."
Dia nyamperin dia dan meluk lehernya. Dia narik dia lebih deket ke dirinya dan mereka meluk erat dan hangat, ngirim perasaan yang sama ke tulang punggung mereka. Masing-masing nyembunyiin wajahnya di leher yang lain, ngirup bau yang manis. Bukan pelukan biasa, oke. Mereka tetep kayak gitu sampe semenit. Terus Saïda ngangkat kepalanya dan bilang:
"Masih mau gue loncatin?" dia cekikikan pelan.
"Iya, iya, iya." dia cekikikan di lehernya dan dia ketawa kecil.
"Oke."
Dia meluk pinggangnya dan dia loncat sementara dia gendong. Dia melilitkan kakinya erat-erat di sekelilingnya. Dia gendong dia dengan gampang banget. Mereka ngangkat kepala dan saling pandang, gak ada yang dengerin suara tertentu di kepala mereka yang bakal manggil posisi mereka yang sebenernya, gak pantas.
Jari-jarinya main-main lembut di rambutnya, bikin dia ngerasa santai banget dan hampir ngantuk.
"Lo bilang apa ke Allison?" dia nanya dengan senyum main-main.
"Katanya ayah gue sakit."
"Oh, oke." dia mikir dan mereka berdua ketawa.
Mereka saling pandang dalam diam yang lama.
"Noure nelpon?" Asahd akhirnya ngomong.
"Dia selalu gitu." Saïda nyengir.
"Manisnya." Asahd mikir dan Saïda ketawa kecil.
"Dia emang manis."
"Lo bilang gue juga gitu." Asahd berbisik dengan cara yang lebih serius sekarang dan senyum Saïda memudar pelan-pelan. "Siapa yang lebih manis buat lo?"
Dia diem-diem natap dia, jari-jarinya lembut ngelus pipinya sampe ke dagunya yang dia usap pelan.
"Gue gak tau..." jawabannya pelan. Pelan banget. Tapi terus dia nambahin, "...tapi Noure."
"Kalo lo bilang gitu, Saïda." Asahd jawab dengan senyum yang bikin Saïda merinding. "Dan gue akhirnya gak tidur sama Allison."
"Dan kenapa lo ngomong ini ke gue?" dia ngeledek dengan geli, bibirnya bergerak-gerak.
"Gue gak tau. Mungkin karena lo nyuruh gue jangan." dia cekikikan kecil.
"Oh, gue gitu?" dia cekikikan.
"Iya, Nyonya."
"Gue gak inget." dia senyum dan naro kepalanya di bahunya lagi, wajahnya di lehernya kayak anak kecil.
Mereka diem lagi, pelukan sambil berdiri. Ya, sambil Asahd berdiri dengan Saïda meluk dia.
"Saïda, sayang?!" Suara Djafar ngebuat mereka keluar dari momen kecil mereka dan dia ngangkat kepalanya.
"Iya, Ayah?!"
"Tolong, bikinin Ayah teh!"
"Oke. Datang!"
Dia ngadep Asahd lagi.
"Kita harus meluk kayak gini, lebih sering." dia mikir, "Bikin gue enak."
"Gue juga."
Dia natap dia sebentar tapi terus dia nunduk dan nyium dia di dagu, deket banget sama bibir bawahnya kayak yang pernah dia lakuin. Dia kaget sama dirinya sendiri dan gak tau kenapa dia ngelakuin itu.
"Lo meleset, Saïda." Asahd berbisik dan sebelum dia bisa ngomong sesuatu, dia nyium dia cepet di bibir, "Gitu caranya. Lain kali jangan meleset."
Mata Saïda agak lebar dan bibirnya kebuka, bukan karena kaget atau marah tapi karena kaget dan geli. Dia megang bibirnya, senyum gugup dan agak bingung.
"Lo gak seharusnya ngelakuin itu." dia mikir.
"Maaf." dia senyum dan ngejilat bibir bawahnya dengan cara yang narik matanya balik ke situ. Tentu aja dia gak maksud gitu.
"Ya Tuhan, lo masih aja mesum." dia mikir dan ngebuat dia pelan-pelan nurunin dia.
"Gue tau. Gue ulang, jangan meleset lain kali Saïda. Atau gue bakal tetep ngelakuinnya sendiri."
Saïda memutar matanya, meskipun pipinya memerah.
"Mimpi..." dia jawab dan pergi.
Sudut Pandang Asahd:
Gue berdiri di sana setelah dia pergi, jantung gue berdebar kayak orang gila.
'Gue nyium dia lagi. Gue harus gitu kan?
-Iya!'
Gue pengen ketawa sama pikiran gue sendiri tapi gue gak ngelakuinnya.
'Ya Tuhan...'
"Ya Tuhan..." gue gumam kaget bercampur geli, megang rambut gue.
"Gue bukan remaja yang naif atau anak kecil yang bodoh." gue mikir, duduk di kasur gue, mikirin fakta yang mengejutkan.
'Gue suka Saïda... Gue suka-suka Saïda... Gue udah berusaha gak mikirin kemungkinan itu tapi itu ada. Itu bener-bener ada. Tapi, gue juga suka Allison??'
"Gue aneh banget." gue gumam, ngusap wajah gue, "Gimana gue bisa suka keduanya?"
'Dan fakta yang mengejutkan adalah, gue ngerasa kayak gue lebih suka Saïda...'
Gue udah mateng. Gimana gue bisa jatuh cinta sama Saïda? Gimana?? Dan jelas gue suka dia lebih dari pacar gue sendiri. Buktinya, kapanpun gue harus pergi sama ally, dan Saïda minta gue buat tetep sama dia, gue bakal gitu. Tapi gak pernah sebaliknya. Gak ada cara gue bakal ngerencanain sesuatu sama Saïda, Ally bakal minta gue buat tetep sama dia, dan gue bakal batalin janji sama Saïda atau ngasih dia alesan. Gak pernah terjadi.
'Dia juga suka gue. Gue tau dia suka. Tapi dia CINTA sama Noure. Ya ampun. Gue lupa sama cowok itu.'
"Oh Noure, gue minta maaf." gue mikir. Gue seharusnya ngerasa gak enak, tapi jujur gue gak. Gue mau Saïda dan sekarang itu fakta. Dia udah ngehantuin malam gue selama seminggu dan hari-hari terakhir. Gue tau jauh di dalam gue mau dia. Tapi gue nolak buat ngaku.
'Mungkin gue harus berenti main-main. Kalo gue ngejar dia, gue bakal ngerusak hubungan sempurna dia sama Noure.'
"Dia udah punya dia duluan. Man, gue harus santai. Dia udah ngerlakuin dia kayak Ratu yang dia miliki. Gue harus fokus sama Allison sedikit lebih banyak. Gue bener-bener harus."
'Ini bakal susah banget, parah! Gue mau Saïda di pelukan gue kapanpun gue ngeliat dia. Gimana ini bisa terjadi?'
"Gue udah tamat." gue gumam dan ambruk di kasur gue, nutupin wajah gue. "Gimana gue bisa dari gak suka Saïda, jadi temennya dan sekarang naksir, atau lebih dari naksir, sama dia! Siapa yang gue bohongin? Dia– dia bikin gue gila dengan cara tertentu."
Gue natap langit-langit kamar gue, pikiran gue makin campur aduk dan membingungkan.
"Gue dalam masalah. Dia dalam masalah. Apa gue bakal berhasil buat ngebiarin dia sendiri?"
'Gue tau gue gak bakal. Tapi gue harus coba...
-coba gue liat gimana.'