Bab 28 – Kesenangan Basah
Sudut Pandang Asahd:
"Kalian keliatan deket banget. Gemesin," Allison berbisik padaku saat kami nonton film, merujuk pada Saïda dan aku.
"Menurutmu. Kita gak deket-deket amat," gumamku.
"Menurutku iya. Kamu khawatir banget Stephan gangguin dia terus. Dan dia juga nengok buat liat kamu baik-baik aja. Gemesin banget," dia terkekeh pelan dan itu menghiburku. Teorinya menghiburku karena aku gak mikir itu fakta.
"Kalo menurutmu," aku menatapnya, "Seru?" tanyaku dan dia tersenyum, mengangguk kecil.
"Aku– aku agak gak sabar buat besok," dia mengaku malu-malu, "Cuma kita berdua. Dan, aku bisa kasih tau sesuatu yang pengen aku omongin."
"Apaan?" tanyaku dan dia salah tingkah.
"Ehm, gak ada yang spesial sih. Mendingan aku kasih tau besok aja," gumamnya.
"Hmm. Oke."
*
Setelah filmnya, kita semua keluar dari teater, puas. Seru banget.
Kita saling bilang, selamat malam, dan berpisah dengan suasana hati yang bagus. Sementara Saïda nunggu di pojokan, Allison nyamperin aku.
"Besok?" tanyanya sambil tersenyum. Dia emang gemesin banget.
"Besok," jawabku dan menariknya buat pelukan yang jelas bikin dia seneng, "Selamat malam."
"Selamat malam, Asahd," dia lalu berbalik dan melambai ke Saïda, "Dadaa, Saïda."
"Dadaaa. Selamat malam," Saïda membalas lambaiannya dan Allison lari buat nyusul yang lain.
Aku nyamperin Saïda.
"Tuh kan? Selain Stephan yang nyebelin itu, kamu seru kan?" tanyaku.
"Iya, seru banget," dia tersenyum dan kita mulai jalan di trotoar.
"Bisa gendong aku?" pertanyaannya bikin kaget dan geli.
"Kenapa?" aku tertawa.
"Soalnya kamu keliatan kayak pohon di deket aku dan aku pengen setinggi itu," dia tertawa, "Cuma pengen aja."
"Oke deh," aku terkekeh dan membungkuk sedikit, "Naik."
"Yey!" dia naik ke punggungku, melilitkan kaki dan tangannya di sekelilingku buat pegangan. Aku pegang belakang lututnya dan mulai jalan,
"Ya ampun, kamu tinggi banget."
"Dan kamu pendek banget," aku mengejek, "Kamu juga kecil banget. Hampir gak ada beratnya."
"Tim yang sempurna," dia bercanda.
"Oh, iya banget," aku menyeberang jalan sama dia.
Sudut Pandang Saïda:
Saat dia jalan di trotoar sambil gendong aku, aku gak bisa nahan diri buat gak menghirup wangi rambutnya. Siapa yang aku bohongi? Sampo itu wangi banget. Sejak aku mulai pake sendiri, aku jadi suka nyium beberapa helai rambutku. Tapi setiap kali aku ngelakuin itu, malah bikin aku mikirin Asahd.
"Kamu harus beliin aku sampo, buat yang udah kebuang," gumamku.
"Kenapa? Kan aku bilang kamu boleh pake punya aku."
"Punya kamu enak banget dan wangi bangeeeet. Dan aku jadi pengen nyium rambutku setiap kali aku pake."
"Emangnya masalahnya apa?"
"Kalo aku nyium, aku langsung mikirin kamu. Itu wangi khas kamu dan aku gak mau. Aku gak mau muka nyebelin kamu muncul di kepala setiap kali aku nyium rambutku," aku tertawa.
"Lagian, sampomu bakal cepet abis kalo kita pake barengan. Kayak yang kamu bilang, mahal di sini dan kamu gak bisa pake yang lain, soalnya kamu emang belum pernah nyoba. Kita gak tau efeknya yang lain ke rambutmu."
"Kamu harusnya jadi politisi. Atau pengacara," dia terkekeh dan aku tertawa kecil.
"Oke deh. Besok."
"Oke. Jadi, kamu udah mulai suka sama Allison atau gimana?"
"Untuk saat ini, aku suka dia sebagai orang yang baik."
"Terus gimana kalo dia ngaku suka atau punya perasaan sama kamu?"
"Kayak yang udah aku bilang sebelumnya, aku mungkin terima tapi aku bakal kasih tau dia kalo aku gak ngerasain hal yang sama, dan mungkin aku bakal suka seiring berjalannya waktu. Tapi kalo pada akhirnya aku gak suka sama dia, aku pasti bakal akhiri."
"Itu ide bagus. Aku udah suka sama dia. Dia selalu ceria dan senyum terus. Aku harap kamu akhirnya jatuh cinta sama dia. Dia lumayan polos. Bayangin bawa dia balik ke Zagreh kalo hubungan kalian udah serius. Eeek!" aku menjerit kayak anak kecil dan dia tertawa. "Itu bakal seru! Dia bakal jadi ratu masa depan yang sempurna, tau gak."
"Halah?? Kamu udah ngomongin nikah sama dia??" dia bergumam dan aku tertawa.
"Kenapa enggak? Ingat kamu punya beberapa bulan lagi sampe ulang tahunmu yang ke-23. Dan menurut tradisi, kamu harus nikah di usia segitu, dua tahun sebelum kamu naik tahta. Jadi di usia 25, kamu ambil alih tahta."
"Saïda, bahkan kalo aku akhirnya cinta sama Allison, yang aku agak ragu sih. Gak tau kenapa. Apa orang-orang Zagreh bakal nerima dia? Kamu tau kan gimana tradisi itu. Kamu lupa kalo aku harus nikah sama cewek dari Zagreh, yang berasal dari kalangan bangsawan pula. Bahkan gak mungkin aku nikah sama cewek dari kalangan bawah atau menengah. Terus kamu mikir mereka bakal ngebolehin aku nikah sama orang asing?"
"Asahd, kamu punya kuasa buat mutusin sama siapa kamu mau nikah. Kamu pewaris dan penasihat sultan serta para bangsawan gak punya hak buat ngasih tau kamu harus ngapain. Mereka bisa aja, tapi keputusan akhirnya selalu ada di tanganmu."
"Aku belum pernah denger ada sultan Zagreh yang nikah sama orang asing."
"Sultan Selim pernah."
"Siapa??" tanyanya dan aku tertawa.
"Selim Usaïd. Kakek buyutmu. Dia nikah dua kali. Istri pertamanya orang Jerman. Nenek buyutmu yang kedua. Asahd, kamu harusnya tau semua ini! Kamu calon sultan!" aku tertawa.
"Akibat sering bolos kuliah sejarah kerajaan," gumamnya.
"Asahd, kamu harus tau ini. Upacara penobatan berlangsung dalam tiga tahap. Yang pertama pas hari pernikahanmu, dua lainnya pas kamu umur dua puluh lima. Selama itu, kamu bakal ditanyain serangkaian pertanyaan tentang sejarah rakyat kita, buat liat seberapa kompeten kamu."
"Seriusan? Saïda, kamu beneran?!" serunya dan aku tertawa. Kadang Asahd kayak orang asing, sendiri. Bener-bener gak tau tentang budayanya sendiri.
"Iya! Kalo kamu mau, aku bakal ajarin kamu dan siapin kamu buat itu. Setiap Sabtu malam. Deal?"
"Deal. Gila, aku gak tau apa-apa."
"Emang. Jadi, kayak yang aku bilang, kamu bisa nikah sama orang asing juga sama cewek dari Zagreh yang berasal dari kalangan menengah atau bawah. Itu pilihanmu. Mungkin gak bakal bikin orang-orang seneng, tapi mereka pada akhirnya bakal ngalah sama pilihanmu."
"Aku gak tau apa yang bakal terjadi sama aku kalo kamu gak ada di sini buat ngasih tau aku semua hal ini, yang seharusnya aku tau! Aku ceroboh banget."
"Baru sekarang kamu sadar?" aku tertawa.
"Diem deh."
Kita jalan beberapa blok lagi, ngobrolin apa aja. Sampe, setetes hujan jatuh di bahuku.
"Aduh," gumamku.
Musim gugur udah dateng dan malam jadi berangin, beberapa hujan.
"Kenapa?" tanya Asahd.
"Hujan mau turun."
Jalan tempat kita berada rame dan cuma beberapa mobil pribadi yang lewat. Gak ada taksi. Tetesan mulai berjatuhan, banyak dan cepet.
"Kita cari tempat buat ngumpet gak sih?" tanyaku karena kayaknya makin deras setiap detiknya.
"Udah malem. Gimana kalo berhentinya besok pagi? Ada halte bus dua blok lagi. Pegangan yang erat."
"Oke."
Aku melilitkan tanganku lebih erat di sekeliling bahunya dan dia mulai lari.
Hujannya makin deras dan gak lama rambut dan baju kita basah kuyup. Datengnya bareng angin kencang dan rasanya enak di kulitku.
"Aaaaaah! Aku flash!" Asahd berteriak dan aku tertawa. Kayaknya bukan cuma aku yang seneng di bawah hujan itu.
"Dan aku Ratu dunia!" tambaku dan kita tertawa.
Dia lari kenceng banget sampe angin di rambutku dan tetesan hujan kena wajahku, ninggalin sensasi geli dan menggelitik. Aku seneng banget.
"Ini seru banget!" aku tertawa bahagia.
"Setuju! Mungkin kita bakal sakit, tapi sepadan!" dia tertawa.
"Semoga Ayahku udah tidur! Kalo enggak, aku kena masalah!" gumamku.
"Airnya banyak banget netes di wajahku dan bikin pandanganku kabur. Tanganku gak bisa. Tolong!"
"Oke!" aku mengangkat tangan dan mengusap wajahnya, menyeka airnya.
"Makasih!"
Kita akhirnya sampe di halte bus dan untungnya, bus baru aja dateng.
Aku turun dari punggung Asahd. Pintunya dibuka dan kita liatin sopirnya.
"Kita basah kuyup...masih boleh masuk?!" tanya Asahd di tengah suara hujan deras.
"Boleh aja. Kursinya kulit."
"Makasih!"
Dia pegang tanganku dan aku ngikutin dia masuk.
Beberapa penumpang di dalem, ngeliatin kita dengan geli. Asahd dan aku duduk di dua kursi yang tepat di belakang kursi sopir, jadi kita gak bakal campur sama orang lain.
Kita gak bisa berhenti ketawa.
"Itu seru banget," aku terkekeh, menyeka wajahku dan memeras sedikit air dari rambutku.
"Aku mau minum sup panas, begitu sampe rumah," dia terkekeh.
"Sama. Gak mau sakit. Kamu yang maksa kita lari ke halte bus. Aku basah kuyup gara-gara kamu," gerutuku sambil bercanda.
"Itu yang mereka semua bilang," dia menggerakkan alisnya dan aku langsung ngerti maksudnya.
"Hahaha! Iyuuh! Kamu gak tau malu," aku menyikutnya dan dia terkekeh.
"Tapi setidaknya itu ide bagus. Daripada di luar sana jam segini, nunggu hujan berhenti, kita di sini mau pulang."
"Bener."