Bab 31 – Pertemuan Kekasih
***
Sudut Pandang Asahd:
Gue udah sampe kerja dan langsung ke ruang ganti buat ganti baju sama naro barang-barang gue. Yang lain juga udah pada di sana. Gue nyapa, terus mereka semua bales.
"Gimana Minggu lo, bro?" tanya Derrick sambil kita salaman.
"Menarik." jawab gue, sambil merhatiin Allison di pojokan, lagi salting dan senyum-senyum tipis.
"Mmhmm. Ada cewek yang terlibat?" goda dia.
"Nggak tau juga sih." gue ketawa kecil.
"Oke, bro."
Gue emang suka banget ada Derrick atau Alex di deket gue. Gue beneran udah temenan sama mereka. Mereka tuh cowok-cowok yang nggak terlalu nyebelin dan kompetitif di antara yang lain. Contohnya, Jason tuh selalu ngejekin gue dan berusaha bikin gue nggak nyaman, manggil gue *pretty boy* dan bilang dengan nada 'bercanda' kalo dia nggak ngerti kenapa cewek-cewek yang kerja bareng kita pada bilang gue ganteng. Katanya gue nggak seganteng itu dan bla bla bla. Aslinya sih dia cuma iri. Gue sih nggak peduliin dia kebanyakan. Stephan juga nyebelin karena dia juga ngejekin gue dan terus-terusan nyuruh gue buat nge- *match* -in dia sama Saïda. Sama kayak Jason, dia juga kompetitif banget. Nggak jelas alasannya. Dia selalu jadi dingin ke gue kalo ada cewek yang muji gue dan selalu berusaha banding-bandingin semuanya sama gue. Gue ngejauhin mereka biar nggak emosi dan ngelakuin hal yang nggak-nggak.
Matt, di sisi lain, lumayan simpel. Dia baik, tapi nggak terlalu bergaul sama yang lain. Agak mirip versi cowoknya Elsa. Dia bakal ngelakuin apa yang harus dia lakuin, bilang *goodbye* ke kita, terus pergi. Selalu ngurusin urusannya sendiri.
--
Yang lain pada ganti baju dan pergi sampe gue sendirian. Gue baru aja masang kaos, tiba-tiba Allison masuk.
"Selamat pagi." dia senyum, terus gue bales senyum, narik dia buat meluk.
"Selamat pagi. Gimana malam lo?" gue cium keningnya.
"Seru banget. Mikirin kamu terus." dia cekikikan.
"Beneran? Asik banget."
"Terus gimana malam kamu? Kayaknya agak capek." kata dia.
'Ya iyalah, gue semaleman ngegosip sama Saïda.'
Pikiran itu bikin gue senyum karena dia udah cerita banyak hal lucu dan memalukan tentang kepala pelayan yang nyebelin di istana, dulu di Zagreh. Hal-hal yang bahkan gue nggak tau.
"Kamu senyum-senyum?" goda Allison, bikin gue sadar.
"Gue tidur malem karena mikirin kamu dan gimana caranya gue bisa bales perasaan kamu seiring waktu."
Dia senyum.
"Aku yakin kamu bisa."
Kita ciuman singkat.
"Nggak boleh ada yang tau tentang kita, sekarang. Apalagi cewek-cewek." goda dia, terus mundur. "Brittany lumayan suka sama kamu, meskipun dia sok jutek karena malam pesta itu. Dia cerita ke kita. Jenna juga suka sama kamu. Aku yakin banget yang itu. Mereka kadang nyebelin dan aku nggak mau mereka ngomong aneh-aneh ke aku."
"Oke, mereka nggak bakal tau." gue nenangin dia.
"Makasih. Ayo pergi."
*
Sudut Pandang Saïda:
Akhirnya jam dua belas, waktu istirahat gue. Gue pamit dan keluar dari toko buat duduk di kafe deket situ.
Gue pesen donat dan duduk buat makan, sambil mainin hape. Gue nge- *chat* Asahd:
-Lagi istirahat nih. Kalo lo?-
-Sama. Lagi ngapain?-
-Makan donat 😜.-
-Sisain buat gue 😩.-
-Nggak mau... Lo kan kerja di *fast food*. Makan kentang goreng kek 😂😂😂-
-😑😑😑 Yaudah deh.-
-Tolong sisain burger ya...-
Gue berani minta, setelah nolak buat nyisain donat buat dia. Gue ketawa kecil, ngarepin balesan yang paling nyinyir.
-Seriusan? Gue nggak nyisain apa-apa!-
-Yaudah deh, 😑😑.-
Gue dapet telepon.
-Ada telepon nih. Bye.-
-👋-
Gue cek, ternyata nomor nggak dikenal. Gue angkat.
"Halo?"
"Halo, sayang?" Ternyata Noure!
"Noure?? Ini nomor siapa? Nomor Amerika nih."
"Iya, sayang. Ayah lagi ada seminar di sini. Kita nyampe New York tadi pagi. Dia lagi rapat, jadi aku bebas. Gimana kita ketemuan? Kamu di mana?"
Jantung gue rasanya mau meledak saking senengnya.
"Seriusan?? Ya ampun! Gue lagi istirahat. Masih ada lima puluh menit lagi. Kita bisa ketemuan cepet. Kamu di mana?"
Dia ngasih tau nama hotel tempat dia nginep dan gue sadar itu nggak jauh dari tempat gue.
"Gue sampe sana sepuluh sampe lima belas menit lagi!"
"Nggak sabar! Aku tungguin kamu di depan."
"Oke!"
Gue matiin telepon dan nelpon pelayan.
"Tolong bungkusin ini buat saya. Nanti saya ambil lagi."
"Siap."
Mereka udah pada kenal gue di sana, jadi gue bisa minta mereka buat nyimpen donatnya sampe gue balik lagi.
"Taksi!" Gue berhentiin taksi dan masuk. Gue nggak sabar banget mau ketemu Noure.
*
Pas gue liat dia dari jendela taksi, jantung gue langsung deg-degan. Dia berdiri di sana, tinggi dan ganteng banget. Dia baru aja ulang tahun yang ke dua puluh tiga. Kira-kira seminggu yang lalu.
Gue bayar supirnya dan langsung keluar. Begitu dia liat gue, dia langsung ngebuka tangannya dan gue lari ke pelukannya, meluk dia erat-erat. Kita ketawa bahagia, saling meluk erat.
"Aku kangen banget sama kamu!"
"Aku juga kangen kamu!"
"Ayo masuk. Nggak mau ada orang yang mungkin kita kenal liat kita." dia ketawa kecil dan megang tangan gue. Gue cekikikan dan ngikutin dia masuk ke hotel.
Kita masuk ke lift dan sampe di lantai kamarnya.
--
Gue kagum sama *suite* tempat dia nginep, sementara dia nutup pintu di belakang kita.
"Wah, *suite* ini bagus banget." gue memuji.
"Saïda?" dia manggil pelan dan gue noleh ke dia. Dia senyum dan nyamperin gue, megangin tangan gue. Gue bales senyum.
"Iya?"
"Aku pengen banget cium kamu."
Gue senyum dan gigit bibir bawah.
"Tunggu apa lagi?" jawaban gue keluar dengan bisikan pelan. Gue tuh cewek baik-baik dan agak pemalu, tapi semua sopan santun gue hilang kalo lagi berduaan sama orang yang gue cintai. Tiba-tiba gue jadi berani dan ngomong apa adanya.
"Kamu nggak perlu minta izin." gue meluk lehernya.
Dia senyum dan meluk gue juga, narik gue lebih deket ke badannya. Nggak bener buat kita buat berbagi momen-momen yang penuh gairah atau bahkan ketemu kayak gini, sebelum tunangan, tapi kita mau bohongin siapa? Gue nggak bisa nolak dia dan dia nggak bisa nolak gue.
Dia nundukin kepalanya dan kita berbagi ciuman yang panjang, dalam, dan penuh gairah. Untuk pertama kalinya, seumur hidup! Dulu di Zagreh, kita nggak pernah punya cukup privasi dan paling mentok cuma ciuman di bibir.
Gue suka banget rasanya dan gue cium dia dengan hasrat yang sama. Kita butuh momen kecil itu yang bakal nempel di kulit kita, bikin kita sabar dan puas sampe hari tunangan kita. Karena yang pasti, kita nggak bakal ciuman kayak gitu lagi sampe hari tunangan dan pernikahan kita nanti.
Setelah ciuman yang panjang, kita pelan-pelan misah dan gue narik bibir bawahnya, bikin gue kaget sendiri. Ya ampun, gue butuh banget itu. Gue bahkan nggak tau sisi sensual gue itu ada atau bisa muncul.
"Kamu bikin aku makin gila." bisik Noure sambil kita saling pandang, kening kita nempel dan napas kita agak ngos-ngosan.
"Aku nggak tau kamu bisa sesensual dan sebergairah ini. Kamu udah bikin aku pengen lagi, Saïda. Aku nggak sabar buat akhirnya nikahin kamu."
'Dan Asahd bilang, gue *turn off*. Coba dia liat ini...'
"Aku penuh kejutan." gue senyum dan nyium dia sekilas "Tinggal beberapa minggu lagi sampe aku ulang tahun yang ke dua puluh. Tunangan kita makin deket dari yang kamu kira."
"Aku nggak sabar."
Kita senyum-senyuman dan meluk lagi.
***
Malam itu, gue balik ke apartemen, seneng banget. Gue lagi *mood* yang paling bagus. Sore gue sama Noure sempurna. Dia udah balik lagi malam itu juga.
Gue masuk dan meluk Ayah, ngerasa seneng. Terus gue ke kamar buat ganti baju dan mandi. Nggak ada yang bisa ngerusak malam gue.
-
Malamnya, setelah Asahd selesai makan, gue ambil piringnya dan pergi buat nyuci.
"Oke, cerita." tiba-tiba dia ngomong dan gue ketawa kecil.
"Cerita apa?" goda gue.
"Saïda, kamu lagi nyuci piring gue. Biasanya kamu maksa gue buat nyuci piring sendiri, tapi sekarang kamu bantuin gue. Apa yang bikin kamu *mood* banget? Spill the tea!" dia ketawa.
Akhir-akhir ini, kita udah saling cerita hampir semuanya dan dia selalu ngasih tau gue tentang Allison, jadi gue mutusin buat cerita tentang sore gue. Ditambah lagi, Ayah udah tidur.
"Oh, hampir lupa. Akhirnya gue nyisain donat buat lo. Ada di kulkas. Bisa dimakan buat sarapan besok." kata gue dan senyum lebar langsung muncul di bibirnya.
"Seriusan??" dia langsung lari ke kulkas dan liat donatnya, "Saïda?" dia manggil pelan.
"Iya?" goda gue.
Dia nyamperin gue dan bikin gue hadap-hadapan sama dia.
"Gue berkati lo dan generasi lo." goda dia dan pas dia megang muka gue dan nyium kening gue, gue langsung ketawa ngakak. Dia tuh selalu berlebihan dan gue suka banget sisi dia yang itu.
"Makasih." gue ketawa.
"Sekarang gue inget. Gue nyisain burger buat lo dan lupa di tas gue. Kayaknya bisa diangetin buat sarapan besok juga. Sekarang berkati gue." dia ketawa kecil dan gue ketawa.
"Gue berkati lo dan generasi lo."
"Oke. Sekarang spill the tea."
Gue liat-liat sekeliling dan mastiin pintu Ayah udah ketutup rapat.
"Noure ada di kota ini hari ini. Kita ketemu pas gue istirahat." gue bisik dan mata dia langsung gede.
"Beneran?? Cewek keras kepala. Nggak dibilangin buat jauhin dia buat sementara waktu?" dia goda dan gue cekikikan.
"Hukum gue dong." goda gue.
"Gimana ceritanya?"
"Ya gitu deh. Kita ngobrol banyak dan *catch up* dikit."
"Catch up* yang kayak gimana?" goda dia.
Gue liat-liat lagi.
"Kita ciuman. Nggak cuma ciuman sekilas. Ciuman beneran."
"Seriusan??" mulutnya kebuka lebar dan gue ketawa "Saïda, lo??"
"Mmhmm. Dan gue lumayan jago ciuman." gue cekikikan gugup.
"Gue laporin."
"Asahd!" gue ketawa dan narik tangannya pas dia pura-pura mau lapor ke Ayah. Dia ketawa.
"Lo nggak se-innocent itu ternyata, Saïda." dia ketawa kecil.
"Cuma ciuman doang, Asahd. Itu nggak bikin gue nakal atau gimana." gue ketawa.
"Gue lumayan seneng buat lo. Dan gue nggak nyangka lo bakal nikah dalam waktu deket. Lo ulang tahun yang ke dua puluh kan bentar lagi?"
"Yup, beberapa minggu lagi."
"Gue bakal joget, minum, dan pesta di pernikahan lo. Fakta banget."
"Hahaha semoga aja."