Bab 89 – Persiapan
***
Sudut Pandang Penulis:
Dan pas Saïda pikir semuanya udah selesai, malah makin parah.
Beberapa mantan pacar Pangeran beneran nemuin nomornya dan nelpon atau nge-teks dia, semuanya buat tujuan yang sama.
"Kamu gak boleh nikah sama Asahd!"
Saïda gak bisa ngeh apa yang lagi dia hadapi. Kayaknya semua cewek yang pernah diajak kencan sama Asahd, pengen balikan dan marah karena dia yang mau nikah, bukan mereka. Apalagi karena kebanyakan dari mereka benci banget sama Saïda.
Saïda akhirnya matiin hapenya, kesel. Dia duduk di ruang tamu.
Gak lama kemudian, Asahd masuk.
"Sayang?" dia nyamperin buat duduk di deket Saïda dan nyadar kalau dia keliatan capek dan badmood.
"Kenapa?"
"Mantan-mantan kamu. Pertama Hammar, dan sekarang aku beneran dapet telepon dan pesan yang isinya ancaman, nyuruh aku buat gak nikah sama kamu."
"Gak usah dipikirin. Nanti juga reda."
"Semoga aja. Kalau mereka mikir ancaman mereka bikin aku takut, berarti mereka lebih bodoh dari yang aku kira." Saïda nyolot. "Mereka gak tau kalau ancaman mereka malah bikin aku makin pengen nikah sama kamu. Dan aku pasti bakal nikah. Mereka harus terima." katanya tegas dan Asahd senyum.
"Aku suka banget kalau kamu lagi mode savage." dia ketawa kecil dan Saïda geleng-geleng kepala geli. Terus dia nunduk dan nyium bibir Saïda.
"Gak nyangka kamu pernah pacaran sama orang-orang aneh gitu. Mereka nyeremin dan nge-stalk kayak orang gila." dia cekikikan dan Asahd ketawa kecil. "Tapi aku gak bisa nyalahin mereka juga sih."
Saïda ngeliatin dia, senyum hangat.
"Kalau kamu ninggalin aku, aku juga bakal nge-stalk kamu." dia bergumam, pipinya memerah.
"Gak bakal." dia ketawa kecil, "Ego kamu terlalu gede, Saïda. Bahkan kalau kamu masih cinta mati sama aku, kamu bakal sok kuat dan cuekin aku abis-abisan, pura-pura gak terpengaruh sama apapun yang aku lakuin."
Saïda geli dan dia ketawa, karena itu emang bener. Dia bakal tetep jaga harga diri dan gengsi, cuekin Asahd seolah-olah dia gak pernah ada. Padahal, dia bakal patah hati dan mungkin nangis kejer tiap malem.
"Kamu kenal aku banget." dia cekikikan.
"Tentu aja. Aku kan bakal jadi suami kamu."
"Untung kamu." dia bergumam.
"Iya dong."
Dia senyum dan nunduk buat nyium Saïda. Mereka berbagi ciuman yang pelan dan penuh gairah yang bikin sensasi geli di antara kakinya, lagi.
"Ya ampun." dia berbisik dan menjauh dari Asahd dengan cekikikan malu-malu.
"Kenapa?" Asahd bergumam, "Gak ada siapa-siapa dan aku boleh nyium kamu kan?"
"Tentu aja." dia cekikikan gugup lagi. "Bukan itu masalahnya. Ciumannya yang masalah."
"Ciumannya?" Asahd bergumam, kaget.
"Iya. Jenis ciumannya." dia memerah, geli banget. "Kayak yang baru aja kamu kasih ke aku. Yang sensual, pelan."
"Emangnya kenapa?" dia ketawa kecil.
"Itu selalu, ya, kamu tau kan..." dia celingak-celinguk buat mastiin mereka masih berdua, "Bikin geli di antara kaki aku gitu."
dia ngaku dengan pipi merona.
"Oh." Asahd menyeringai, "Kamu jadi horny?"
"Iya..."
"Itu bagus dong."
"Iya. Tapi gak hari ini. Aku gak mau kamu godain aku." dia cekikikan kayak anak kecil. "Karena aku tau aku bakal nyerah."
"Buat bikin cinta yang penuh gairah, lagi?" Asahd bergumam, "Biasa aja kali."
"Sst." dia nyuruh dia diem, celingak-celinguk dan bikin Pangeran ketawa.
"Aku gak ngerti maksud kamu." dia bergumam.
"Maksud aku, tolong jangan coba-coba bikin cinta sama aku, hari ini. Jangan bikin aku nyerah."
"Kasih aku alasan yang bagus kenapa."
"Aku pegel, Asahd." dia ngaku dengan ketawa kecil dan bibir Pangeran membentuk senyuman geli. "Aku pegel dalam arti yang paling manis karena aku masih bisa ngerasain kamu di dalem aku. Aneh jelasinnya, tapi kalau aku orgasme lagi hari ini, mungkin aku bakal pingsan paling lama. Tubuh aku masih susah buat biasa sama sensasi baru dan manis yang kamu kasih..."
"Aku suka denger itu." Asahd senyum dan dia cekikikan.
"Aku masih lemes dari kemarin." dia bergumam dengan pipi merah.
"Tapi kalau aku coba bikin cinta sama kamu sekarang, kamu bakal ngebolehin?" dia nanya dengan seringai nakal.
"Aduh jangan deh." dia ketawa, "Aku kenal diri aku sendiri. Aku sadar kalau aku gak bisa nolak kamu, Asahd, dan aku beneran suka setiap kali kita bikin cinta. Dan kita udah ngelakuinnya dua kali... Makanya aku minta kamu jangan godain aku, karena kalau kamu godain," pipinya makin merah, "...aku pasti bakal nyerah."
Dia natap dia, rasa geli masih ada di matanya.
"Aku bakal kasihanin kamu hari ini, deh."
"Makasih." dia ketawa.
"Aku bakal coba." dia nambahin nakal.
"Asahd, plis!" Saïda ketawa.
"Iya deh, iya." dia ketawa dan nyium bibirnya. Bibirnya lembut banget sampai dia ngegigit bibir bawahnya, kayak yang selalu dia lakuin, dan ngisepnya pelan-pelan.
Terus dia pelan-pelan ngelepasin dan nyium keningnya. Saïda nunduk dan meluk dia erat, dia bales meluk. Mereka duduk di sana sambil pelukan dan cium-ciuman.
***
Hari-hari berlalu dan persiapan makin serius. Gak ada waktu buat buang-buang waktu karena ulang tahun/pertunangan Kerajaan, sekaligus pernikahan lagi dipersiapkan.
Undangan udah dibuat dan dikirim tepat waktu. Seluruh penduduk kesultanan Zagreh lagi mempersiapkan acara-acara ini.
Semua orang di istana sibuk. Pangeran dan Saïda hampir gak punya waktu buat berduaan kayak biasanya. Mereka bahkan hampir gak ketemu!
Saïda selalu sibuk nyobain berbagai macam gaun tradisional dan juga modern, yang cocok buat pertunangan dan pernikahannya. Ratu bikin Saïda terus ada di sampingnya karena dia yang bertanggung jawab buat bantuin Saïda nyari pakaian yang sempurna buat acara, karena dia wali baptis Saïda sejak Saïda lahir.
Dia nyewa penata gaya terbaik dan bikin janji sama seniman henna terbaik di kesultanan. Dia mesen perhiasan mahal dari negara lain, sepatu dan gaun, buat Saïda pilih. Dan percaya deh, gak gampang buat milih atau mutusin sesuatu.
Butuh waktu berjam-jam dan berhari-hari buat Saïda nyobain berbagai pakaian buat milih yang paling sempurna.
-
Di sisi lain, ada Asahd. Kesultanan dan Djafar secara pribadi ngebantuin dia. Sultan juga manggil penata gaya kerajaan terbaik yang bawa, pakaian paling mahal dan keren yang bisa mereka temuin. Asahd harus nyobain lebih dari delapan puluh setelan dan sepatu. Terus dia masih punya banyak pakaian tradisional buat dicoba juga buat bagian adat pernikahannya. Semua orang sibuk.
Ditambah lagi, Asahd dengan bantuan ayahnya sendiri, harus ngurus semua yang ada di daftar yang dibutuhin buat mas kawin Saïda. Sebagai seorang Pangeran, mas kawin itu gak bakal sedikit. Sama sekali! Dan semuanya buat ayahnya dan kakak laki-lakinya. Ngomongin soal kakak laki-lakinya Saïda.

*
Tiga hari setelah pertunangan dan pernikahan diumumkan, Ahmed udah balik ke Zagreh dari Istanbul. Dia dateng buat datengin pernikahan adiknya.
Dia dateng dengan mikir Saïda bakal nikah sama Noure. Ayahnya gak ngasih tau dia siapa yang bakal dinikahin Saïda buat bikin dia kaget.
Pas Ahmed dateng dan nyadar siapa yang beneran bakal dinikahin Saïda, dia kaget kayak orang lain pas mereka denger berita itu pertama kali.
-
"Gimana bisa??" Ahmed ketawa, adiknya gabung sama dia. Mereka duduk di kamarnya, ngobrol. Dia udah dikasih kamar baru. Di lantai atas sama keluarga kerajaan.
"Ceritanya panjang. Ya gitu deh." Saïda cekikikan.
"Dulu kalian gak suka banget satu sama lain. Aku saksinya! Kita semua saksi." dia kaget dan dia ketawa.
"Aku dateng ke sini mikir kamu bakal nikah sama Noure. Tapi kagetnya, aku denger kamu nikah sama Asahd?? Dan ini bahkan bukan perjodohan. Bener-bener bikin kaget."
"Hihihi iya kan. Kadang aku mikirinnya juga kaget. Ya gitu aja, dan sebelum aku sadar, dia ngaku cinta sama aku dan aku cinta sama dia, beberapa waktu kemudian."
"Gak nyangka. Kamu beneran cinta sama dia. Keliatan banget." dia senyum dan megang tangan adiknya. "Aku seneng banget buat kamu, sayang."
"Makasihhhhh." Saïda meluk dia seneng dan dia bales meluk.
*
Dan begitulah. Persiapan tanpa henti. Satu-satunya waktu pasangan ini bisa ketemu cuma pas sarapan dan makan malam. Pas makan siang, keduanya selalu pergi buat nyobain pakaian. Pas malem, mereka kecapekan dan langsung tidur begitu mereka masuk kamar.
Tapi, itu malah ningkatin keinginan dan kebutuhan mereka satu sama lain. Keinginan yang cuma bisa dipuasin di malam pernikahan mereka, setelah pernikahan mereka. Dan bahkan lebih lagi pas mereka bakal pergi bulan madu.
~~
Gak lama, udah malem sebelum pertunangan mereka. Mereka masuk kamar, siap buat ngiket ikatan pertama sekaligus ngerayain ulang tahun Pangeran. Besok bakal sempurna.