Bab 97 – Sudah Pergi
***
Sudut Pandang Saïda:
Gue menggeliat di kasur, mata gue masih merem. Gue ngerasain telapak tangan lembut ngelus punggung sama bahu gue. Bibir lembut nyium kening sama pipi gue. Gue bisa denger detak jantungnya, soalnya kepala gue nempel di dada dia.
Gue senyum dalam tidur, makin nempel.
"Gue mimpi, ya?" bisik gue ngantuk, ngelus dada dia yang mulus.
"Nggak, ini beneran."
Pelan-pelan, gue buka mata dan ngeliatin dia. Dia senyum ke gue dan merinding seluruh badan.
"Selamat pagi, sayang." gumam dia dan gue senyum bahagia.
"Selamat pagi, cintaku." Gue ngangkat kepala dan nyium bibir dia.
Kita pelukan dan ciuman, badan kita yang telanjang dan hangat saling gesekan dan kebungkus selimut.
Masih berasa nggak nyata banget. Ya, nggak. Ini nyata. Ini lagi terjadi. Ini masa kini gue.
"Seks sama lo beda banget." Aku ngaku sambil cekikikan pelan, pipi gue udah merah. "Nggak kayak yang pernah gue bayangin."
"Oh." dia ketawa kecil, "Jadi lo dulu ngebayangin seks kayak gimana?" dia mikir, "Saïda yang baik-baik ternyata nggak polos juga, ya."
"Diem deh." Gue cekikikan, nyolek dia main-main. "Gue hampir nggak pernah mikirin itu. Beneran mulai kepikiran pas, ya lo ada di sekitar. Pas lo mulai nge-stalk gue." Gue mikir, salting.
"Nge-stalk, ya?" dia ketawa kecil, "Lo baru aja ngaku lo ngiler sama gue."
"Ya ampun, Asahd." Gue kaget dan dia ketawa lagi. "Gue nggak bilang gitu."
"Bilang. Nggak langsung. Lo mulai mikirin beneran, cuma pas gue godain lo. Dan nggak mungkin lo ngebayangin seks di masa itu, kalau bukan sama gue. Gue nggak nanya juga." dia nyengir dan gue muter mata karena geli.
'Kena. Dan sekarang gue kayaknya kecanduan ngelakuinnya sama lo.'
"Dan sekarang lo udah ngerasain, lo kecanduan juga sama kayak gue." gumam dia, seolah-olah baca pikiran gue.
"Nggak, gue nggak kecanduan." Gue ngejek sambil cekikikan.
"Iya, lo kecanduan. Dan lo konfirmasi itu setiap kali lo mohon gue buat bikin lo klimaks." dia ngelus pipi gue dan napas gue tersentak.
"Ya ampun, jangan bilang gitu." Gue kaget dan cekikikan gugup. Gue bakal susah, kebiasaan sama omongan kotornya Asahd.
"Lo harus kebiasaan sama hal-hal yang nggak disaring yang gue omongin, sayang." dia senyum "Lucunya, omongan kotor gue kayaknya nggak ganggu lo pas kita lagi bikin cinta."
Gue memerah.
"Soalnya gue nggak dengerin beneran." Gue ngaku pelan, "Gue selalu kebawa suasana dan kayaknya ada di planet lain. Yang gue rasain cuma kenikmatan dan yang gue denger cuma desahan dan erangan gue sendiri, kecampur sama lo."
'Gue baru aja ngomong gitu, ya?
-Iya, lo ngomong gitu. Terus kenapa? Dia suami lo.'
Dia nyengir dan nyium gue.
"Gue suka banget suara itu."
Merinding seluruh badan pas gue ngerasain dia tegang keras di perut gue.
Desahan pelan keluar dari bibir gue dan gue ngeliatin dia. Dia nyengir dan terus noleh ngeliatin jam gede yang nunjukin: jam 9 pagi.
Dia hadap gue lagi.
"Kita punya waktu satu jam buat mandi dan siap-siap. Tapi, gue butuh sepuluh menit buat 'quickie'." dia senyum nakal dan napas gue tersentak.
"K–kamu mau kita." Gue mulai kaget tapi dia motong gue, guling sampai dia ada di atas gue.
"Mmhmm." dia bergumam, nyium leher gue.
"Ya ampun." Gue cekikikan kecil, ngerasa geli, "Kamu nggak pernah capek?"
"Nggak. Apalagi sekarang lo istri gue." dia senyum dan ngeluarin tangan di antara badan kita.
Gue ngerasain dia megang ereksi dia dan itu dorong ke lubang gue. Napas gue tersentak lagi, nungguin regangan yang hebat dan manis, yang selalu dia bikin.
"Kamu bakal bikin gue sakit banget." Gue mikir gugup.
"Kamu pikir?" dia nyengir dan pas gue nggak nyangka, dia masukin gue.
"Ohhhhh." Gue mengerang dan melengkungkan punggung gue, nutup mata rapat-rapat dan ngerasain regangan yang manis.
Gue denger dia mengerang di leher gue, nyiumnya.
Dia dorong maju sampai dia bener-bener kebenam di gue. Itu bikin gue ngos-ngosan. Ukuran dia selalu bikin gue kehabisan napas, bikin gue menggeliat.
"Ya ampun..." Gue mengerang pelan, nikmatin rasa manis yang memuaskan. "Kamu bunuh gue, Asahd."
Gue naikin pinggul gue sedikit, geli nggak terkendali dan pengen dia mulai gerak di gue. Badan gue bereaksi otomatis dan pengen dia mulai nge-hump gue.
"Nggak juga." dia ketawa kecil dalam, ngisep di kulit gue, "Tunggu bulan madu kita, dan setelah bulan madu kita. Terus," dia ngangkat kepala dan ngeliatin gue, "Kamu bisa bilang gue bunuh kamu."
Gue gigit bibir, ngerasa cemas tapi semangat.
'Gue pasti butuh banyak energi.'
Gue mikir geli.
***
Sudut Pandang Asahd:
Sopir berenti di depan istana dan pintu dibuka buat kita.
Genggam tangan Saïda, kita keluar dan disambut sama pelayan.
Kita terus masuk dan pergi gabung sama orang tua kita di ruang tamu. Kita sampai sana dan ketemu mereka, juga temen-temen gue dan anggota keluarga Saïda.
"Itu dia!" ibu gue ketawa bahagia dan berdiri buat nyambut kita.
Kita cium kaki dia dan peluk dia masing-masing.
"Akhirnya." Djafar ketawa dan berdiri.
Kita pergi dan peluk dia juga, juga ayah gue. Kita terus nyapa anggota keluarga dan temen-temen yang lain
"Liat gimana senengnya mereka." ayah gue bilang bahagia, dan mereka semua setuju.
"Kita beneran seneng." Gue senyum, dan narik Saïda lebih deket ke gue. Mereka gemes dan kita ketawa.
"Cuma gue, atau kamu keliatan agak capek, Saïda sayang." ayah gue bilang.
"Um iya, Sultan ku. Upacara beneran bikin aku kecapekan." Saïda jawab.
"Kamu nggak keliatan capek, kemarin malam, sebelum pergi buat malam pertama kamu." ibu gue mikir dan semua orang kaget dan ketawa. Saïda langsung memerah.
"Ibu." Gue mikir dan dia ketawa.
"Aku salah ngomong apa?" dia jawab dan semua orang ketawa lagi.
"Mereka udah nikah sekarang. Asahd suaminya dan bisa ngelakuin apa aja yang dia mau sama dia, bahkan kalau dia harus keliatan capek setiap pagi. Selama dia nggak ngeluh." Djafar mikir bikin kita kaget dan kita ketawa.
"Iya. Aku setuju sama kamu, Djafar sayang!" Gue ketawa dan mereka gabung sama gue.
"Yalah..." Saïda berbisik, nutup mulutnya karena geli dan pipinya memerah.
"Kamu denger ayahmu." Gue mikir dan dia nutup muka, malu dan meringis. Semua orang ketawa karena reaksi dia.
"Yang kita peduliin cuma punya, cucu secepatnya." ayah gue nambahin.
"Bener." ibu gue dan Djafar setuju.
"Itu nggak bakal jadi masalah." Gue mikir, "Tapi kita masih harus diskusiin bareng. Plus, buat sekarang aku cuma mau nikmatin istriku." Gue cium tangan dia dan dia senyum malu, salting.
--
Akhirnya, temen-temen kita dan anggota keluarga besar pergi dari istana hari itu. Beberapa bahkan balik ke tempat mereka tinggal atau kuliah. Rasanya enak banget punya temen-temen di sekitar.
Gue mastiin buat ngasih hadiah ke semua orang sebelum mereka semua pergi.
-
Saïda dan gue dadah ke bibi dan sepupu-sepupunya pas mereka dianter keluar dari properti. Begitu pergi, gue noleh dan meluk dia.
"Gue pengen Derrick, Alex dan Allison bisa dateng." Gue bilang dan dia ngeliatin gue.
"Oh beneran mereka nggak ada di sini. Gue kira kamu udah ngundang mereka?"
"Gue udah ngundang mereka dan nawarin buat bayarin semua biaya mereka buat dateng ke sini. Tapi sayangnya, ujian mereka mulai kemarin lusa dan mereka nelpon buat bilang mereka nggak bisa dateng." Gue jelasin.
"Oh. Sayang banget. Mungkin kamu bisa ngundang mereka lain kali. Kayak buat dateng berkunjung, pas mereka lagi nggak sibuk. Atau bahkan buat upacara penobatan kamu." dia nawarin.
"Hei itu ide bagus. Oke, oke. Gue bakal lakuin itu."
"Oki." dia ngangkat kepala dan nyium gue di bibir.
"Sekarang, ayo kita beresin barang-barang kita. Kita harus ada di Casablanca sebelum malam."
"Hari ini?" dia nanya kaget.
"Yup. Kita ada penerbangan malam ini. Tujuan selanjutnya, tempat yang ada matahari, minuman buah eksotis, air turquoise dan pasir hangat. Tapi yang paling penting, tempat di mana kita nggak bakal diganggu."
Dia kaget kayak anak kecil, senyum lebar di wajahnya bikin gue ketawa kecil. Dia imut banget.
"Itu tempat bulan madu kita?" dia nanya semangat "Apa itu Hawaii??"
"Nggak. Cancun."
"Ya ampun! Yes!"
"Buat minggu pertama tentunya."
"Minggu pertama?" dia cemberut bingung.
"Iya. Mutusin buat bikin dua minggu. Jadi, kita bakal pergi ke tempat pilihanmu buat minggu kedua."
"Ya ampun." dia kaget, "Serius?"
"Mmhmm." Gue narik dia lebih deket ke gue, "Istriku pantas dapat yang terbaik. Dan percaya sama gue, gue bakal manjain lo. Mau lo mau atau nggak."
Dia nggak bisa ngomong dan itu bikin gue senyum.
"Jadi sekarang, ayo kita beresin barang-barang kita." Gue genggam tangan dia dan nuntun dia ke istana.
--
Kemudian, orang tua kita nemenin kita ke mobil.
"Aku bakal kangen kalian berdua. Nggak nyangka Asahd mutusin buat bikin dua minggu." ibu gue cemberut dan kita ketawa.
"Itu bulan madu mereka. Mereka bisa ambil semua waktu mereka." ayah gue mikir.
"Bener, ayah. Makasih." Gue ketawa kecil dan pergi meluk dia, Djafar dan terus ibu gue. Gue cium pipi dia.
"Jangan khawatir, ibu. Aku bakal balik."
"Oke. Jangan nambah hari lagi, oke? Istana ini membosankan tanpa kamu." dia mikir.
"Bener." ayah gue setuju dan kita ketawa.
"Oke, oke." Gue meluk mereka lagi.
Saïda meluk ayahnya erat, dan terus orang tua gue.
Mereka ngucapin selamat jalan dan terus kita masuk mobil dan keluar dari properti.
-
"Aku udah semangat." Saïda mikir.
"Gue juga." Gue senyum dan genggam tangan dia. "Kita bakal punya beberapa jam sebelum penerbangan. Kita bakal pake itu buat belanja buat kamu."
"Belanja?" dia nanya, kaget.
"Mmhmm. Ada banyak matahari di tempat kita mau pergi dan jadi, kamu bakal butuh celana pendek, tank top dan sebagainya. Yang paling penting, bikini."
Dia memerah dan gue ketawa kecil.
"Aku nggak pernah beli atau punya tank top atau bikini." dia bilang.
"Nggak masalah. Gue bakal sama lo. Gue bakal milih yang gue suka liat di lo."
Dia memerah lebih banyak dan itu bikin gue nyengir nakal.
"Asahd, aku nggak yakin aku bisa pake itu di depan umum."
"Siapa bilang kamu bakal pake itu di depan umum? Kamu bakal pake itu buat gue dan cuma gue. Gue nyewa Vila pribadi di salah satu pantai. Kita bakal jadi satu-satunya orang di sana, oke?" Gue nenangin dia dan dia ngangguk. "Anak baik."