Bab 88 – Mantan
Sudut Pandang Penulis:
Berita itu nyebar kayak kebakaran hutan, dan gak lama telepon istana mulai bunyi terus-terusan.
Zagreh kaget dan heran. Tapi yang paling penting, semua orang seneng banget denger berita itu.
Yah, kebanyakan orang sih.
"Jadi beneran, Asahd??" Iris, orang kelima yang nelpon, mantan-mantan Asahd yang sirik dan nyebelin, nanya lewat telepon dengan kaget dan gak percaya.
"Iya beneran, Iris." jawab Asahd, sambil duduk. Dia lagi di perpustakaan.
"Saïda?? Serius?? Gimana bisa lo nikah sama dia, Asahd?!"
"Gue cinta sama dia, dan gue bakal terus ngulangin itu ke kalian semua, yang nelpon." kata Pangeran sambil mikir.
"Lo gak serius kan. Dulu lo gak suka banget sama dia! Gimana sekarang bisa ngaku cinta, sama orang yang nyebelin gitu?? Saïda, seriusan? Lo pantas dapet yang lebih baik!"
"Apaan sih?" Asahd nyolot, "Jadi lo mau ngasih tau gue mana yang bagus buat gue, atau siapa? Lo yang ngaco." Pangeran itu ketawa sinis "Gue pantas dapet apa atau siapa? Lo? Sebelum ngomong, inget kenapa kita putus. Bukan salah gue kali ini. Kalo lo mau kita tetep baik-baik aja, Iris, mending diem deh."
"Oke deh. Gue gak bakal kaget kalo kalian berdua cerai setelah setahun atau lebih, barengan. Atau kalo lo dapet istri kedua karena Saïda bakal bikin lo bosen setengah mati."
"Lo ngarep banget." Asahd ngejek, "Dia jauh lebih seru dari lo."
Iris kaget.
"Lo pasti gak serius. Gak mungkin dia lebih baik dari gue, lo tau itu."
"Hahahaaaaa! Apaan??" Asahd ketawa "Dia jaaauuuh lebih baik. Terima aja, Iris. Gue mau nikah sama dia. Sebarkan berita bagusnya. Dan oh, sekarang gue udah mau jadi pengantin, minggir deh dari DM gue."
"Gak bakal berhasil."
"Tunggu aja, Iris. Lo kan tau gue."
Dan dengan itu, Asahd nutup teleponnya.
'Duh, mereka bikin pusing aja. Gimana dulu gue bisa suka sama cewek-cewek kayak gitu?
Bahkan dulu mereka "tipe ideal" gue. Gila. Kayaknya gue udah naik kelas.'
Asahd ngusap dahinya karena pusing dari mantan-mantan yang udah nelpon.
Dia nyender di kursinya dan santai sebentar. Tapi terus teleponnya bunyi lagi.
"Oh, gak..." dia ngecek layarnya. Satu lagi.
Bahkan sebelum dia mikir buat jawab, panggilan masuk lain muncul. Masih mantan juga.
'Gue capek.'
Sambil muter mata, dia matiin teleponnya.
"Akhirnya damai."
Dia nyender lagi dan nutup mata. Tapi gak lama.
Tiba-tiba, seseorang masuk ke perpustakaan dengan marah dan dia hampir loncat. Hammar langsung nyamperin dia.
"Dia orangnya, Asahd?!" dia mulai, udah teriak pas nyamperin.
"Ya Tuhan..." Asahd ngejatuhin kepalanya ke belakang dan ngusap mukanya.
"Saïda?? Lo cinta sama Saïda?? Ini cuma becanda kan?!" katanya sambil narik tangannya dari mukanya.
Asahd menghela napas, kesel.
"Denger," dia mulai, berdiri dengan malas. "Gue capek, oke?"
"Saïda yang mau lo nikahin, Asahd?! Gimana bisa?!"
"Mmm..." dia ngangkat bahu, "Lo gak bisa ngelawan kalo hati mau apa yang dia mau." katanya sambil mikir.
"Ini cuma becanda kan?!" Hammar nyaut dengan mata lebar.
"Enggak, Hammar. Gue cinta sama Saïda dan gue bakal nikahin dia." kata Asahd santai, gak terganggu.
"Gue gak percaya!" Hammar kaget, "Dia yang lo tolak buat gue?? Lo becanda kan??"
"Enggak." Pangeran keras kepala itu ketawa kecil, "Dia emang orangnya."
"Gimana bisa lo jatuh cinta sama dia?? Dia itu memelas banget. Seriusan?? Dia bahkan gak ada apa-apanya dibanding gue. Dan si tolol itu berani bohong ke gue pas gue nanya siapa yang lo cintai!"
"Hei, hei, hei." Asahd bilang tegas dengan sedikit cemberut, ngangkat jari peringatan ke Hammar. "Cewek, jaga mulut lo. Jangan bikin gue ngusir lo. Beneran ngusir lo."
"Gak! Dulu lo benci dia. Lo gak tahan sama dia!"
"Gue gak suka sama dia. Ada bedanya."
"Gue gak peduli! Lo cinta sama dia, sekarang?! Cewek itu bahkan gak pantes buat lo."
"Salah. Gue yang gak pantes buat dia. Sekali lagi, belajar bedanya." Pangeran itu mikir dan Hammar makin kesel.
"Ini bukan becanda! Gimana bisa lo nikahin dia??"
"Hammar, mending lo mulai nunjukkin rasa hormat ke dia, sayang." dia ngejek "Dia calon Ratu lo. Sekarang kalo lo mau permisi, gue harus bantu ngurusin acara tunangan dan pernikahan gue. Lo diundang kok."
Dan dengan itu, dia jalan melewati dia.
"Asahd, gue belum selesai ngomong sama lo!" Hammar nginjek kakinya.
"Daaah!" dia mikir dan keluar dari perpustakaan.
---
Sementara itu...
Saïda beneran ditarik ke taman sama temen-temennya dan ke tempat duduk mereka yang biasa di bawah pohon rindang.
"Sekarang cerita!" Yasmin nuntut sambil ketawa.
"Gimana bisa ini terjadi?!" Aisha nambahin sambil ketawa.
"Dan dia gak cerita apa-apa ke kita!"
Saïda ketawa gugup.
"Maaf ya. Gue gak bisa. Soalnya gue masih sama Noure."
"Tunggu! Itu sebabnya dia batalin pernikahan?? Dia tau tentang lo dan Asahd?? Pantesan lo gak keliatan kaget sama sekali pas pembatalan itu!" Salma kaget dan yang lain setuju dengan kaget.
"Terakhir gue cek, lo benci banget sama Asahd! Terus lo jadi temenan. Yah, gak beneran sih. Kalian cuma keliatan akur dan ngobrol lebih banyak, jarang berantem. Atau bahkan gak berantem lagi."
"Jadi di balik semua itu, ada kata-kata cinta rahasia?? Ya Tuhan, gimana?! Saïda jelasin sebelum kita gila."
Saïda ketawa, makin merah.
"Yah, awalnya sih di New York..."
"Sejak New York?? Ya Tuhan!"
"Hahaha, iya."
Dia mulai cerita ke mereka yang perlu dan gak perlu. Dia cerita gimana keinginan Asahd buat mulai berubah dan perubahannya yang bertahap, bikin dia ngeliat sisi lain dari Asahd yang dia gak tau dia jatuh cinta. Dia juga cerita detail tentang beberapa kejadian manis kayak pas mereka lari ke halte bis pas hujan, gimana Asahd ngejagain dia dan gak mau temen-temennya godain dia, gimana dia bakal batalin kencan sama Allison buat bareng dia, gimana dia meluk dia sesering mungkin dan yang paling penting, apa yang dia lakuin buat dia pas ulang tahunnya. Dia bahkan cerita gimana dia sadar dia mulai cemburu sama Allison, dan Asahd sama Noure. Dia cerita tentang kejadian lucu lainnya pas mereka main dan bercanda.
"Ya ampuuunn. Gak nyangka banget dari Asahd!" Aisha memuji.
'Dan lo bahkan gak tau semuanya...'
Saïda mikir, pipinya merah.
"Apa yang terjadi pas lo akhirnya balik??"
"Gue coba buat ngehindar dia setelah sadar gue balik sama Noure. Tapi dia gak berhenti."
"Pasti!" Yasmin ketawa, "Asahd emang tipe yang bisa ngerebut cewek orang kalo dia mau."
"Itu sebabnya lo gak pernah mau ke kamarnya sendirian??" Aisha kaget karena geli.
"Agak gitu." Saïda mikir.
"Oooohhhhh!" cewek-cewek itu menjerit.
"Pas lo berdua doang, lo ngapain yang nakal-nakal??" Salma berani nanya dan mereka ketawa. Saïda merah.
"Gak mungkin." Saïda bergumam gak nyaman.
"Gak percaya! Lo pasti udah!"
Mereka kaget dan ketawa.
"Gue gak tau apa yang lo omongin." Saïda mikir.
"Mmhmmm. Iya deh!"
"Karena lo gak mau cerita, setidaknya cerita ke kita kalo lo udah ciuman atau belum."
Saïda ngeliat sekeliling dan temen-temennya cekikikan.
"Mungkin sekali atau dua kali."
"Bohonggg. Ekspresi lo bilang seribu kali!" Rayi ketawa.
"Ssshhhh!" Saïda nyuruh mereka diem dan mereka semua ketawa.
Dia terus cerita tentang Asahd ngaku cinta, masalah sama Noure dan dia akhirnya sadar dia cinta sama Asahd dan cuma dia.
"Sekarang lo tau."
"Eeeppp!"
Temen-temennya loncat dan menjerit.
-
Mereka masih ketawa dan ngegosip pas Rayi ngeliat Hammar dari jauh, lagi jalan ke arah mereka.
"Aduh. Badai Hammar datang." dia mikir dan mereka berbalik. Saïda muter mata.
"Tolong biarin gue berdua aja sama dia." dia bilang ke temen-temennya.
"Oke deh." mereka cekikikan dan pergi lewat sisi lain.
Gak lama, Hammar nyamperin Saïda yang berdiri buat menghadapinya.
"Lo itu penyihir." dia mulai.
"Halo juga, Hammar." Saïda jawab santai.
"Diem! Lo sok polos dan gak berbahaya padahal lo itu pencuri! Cewek gak tau malu!"
"Gimana gue bisa jadi pencuri?" Saïda nanya santai, sambil melipat tangan.
"Lo nyuri Asahd dari gue!"
Saïda gak bisa nahan diri buat gak ketawa kecil.
"Dari lo? Lo gak punya dia." dia ngejek.
"Lo bakal nyesel. Pernikahan lo gak bakal bertahan lama! Gue nanya siapa yang dia cintai dan lo bohong."
"Salah gue. Gue gak mau nyakitin perasaan lo yang berharga." Saïda jawab dengan cara yang paling sarkas dan provokatif, senyum di bibirnya.
"Gimana bisa Asahd cinta sama cewek pelayan kayak lo?" dia ngeliat Saïda dengan tatapan jelek "Lo bahkan gak modis. Gak punya kelas. Memelas."
Saïda nyolot dan cekikikan.
"Tapi siapa yang dia nikahin? Gue." dia mikir, "Terima aja. Dia milik gue sekarang. Dan gue seneng akhirnya bisa ngomong ini dengan lantang. Asahd milik gue, Hammar. Lo udah punya kesempatan. Lo sia-siain. Dia nyimpen yang terbaik buat akhir. Gue. Buktinya, gue yang dapet cincin di jari. Jadi secara teknis dan harfiah..." Saïda ngeliat dia dari atas sampe bawah "...gue lebih baik dari lo."
Hammar makin merah kayak tomat.
"Gue liat warna asli lo. Cewek baik-baik, omong kosong. Lo itu jalang."
"Enggak, enggak. Lo yang jalang. Gue masih cewek baik-baik, maksudnya, kecuali ada yang nginjek kaki gue atau bahkan lebih baik." Saïda menyeringai, "Pas gue berdua sama Asahd. Gue gak bisa nahan diri, lo tau. Kabar burung emang bener. Dia bisa bikin cewek baik-baik jadi nakal begitu dia dikurung sama dia."
Hammar membeku, marah banget. Dia ngangkat tangan buat nampar Saïda tapi Saïda nangkep pergelangan tangannya.
"Jangan berani-berani." Saïda menggeram pelan, "Atau gue pastiin lo pulang dengan memar. Gue bukan putri, Hammar."
Hammar tersentak, pergelangan tangannya sakit.
"Untuk sekarang." Saïda nambahin dengan seringai dan melepaskannya. Hammar mundur dan ngusap pergelangan tangannya dengan kaget.
Dia udah meremehkan cewek baik-baik itu.
Saïda cemberut dan jalan melewati dia, balik ke istana.