Bab 15 – Pelayan Baru
Sudut Pandang Asahd:
Stephan gak bohong waktu dia bilang hari-hari mereka selalu sibuk dan rumit.
Jam dua belas, tempat itu mulai penuh. Tiap ada meja kosong, langsung ada rombongan lain masuk dan dudukin. Ditambah lagi, orang-orang pada masuk dan ngantri di depan konter buat pesen, ambil pesenan, terus pergi. Ada lagi bilik pesanan di belakang buat pelanggan yang mau mampir dan pesen dari mobil mereka.
Manajer bisa bangga, soalnya restorannya sukses banget. Beneran rame pelanggan. Gak heran dia butuh pelayan tambahan. Masalahnya, itu berarti kerjaan nambah buat kita... buat gue. Gue yang dari dulu malesan.
--
"Gue bilang es teh!" omel pria pemarah itu, nolak pesenan yang gue bawain.
"Tuan, Anda bilang soda. Saya gak tuli." sahut gue.
"Es teh! Gue bilang es teh!" dia meninggiin suaranya dan gue udah hampir mau nyiram minuman itu ke kepala botaknya.
"Asahd." seseorang manggil pelan dan narik lengan gue. Gue noleh ke salah satu temen kerja gue, Allison, kayaknya.
"Biar gue yang urus. Lo ke meja lain aja, mereka baru dateng."
Gue narik napas dalem-dalem. Dia baru aja nyelametin pria pemarah itu dari mandi es teh dan umpatan serta hinaan. Dan dia udah nolong gue biar gak dipecat, soalnya gue udah siap gak peduli dan ngasih pelajaran ke pria itu.
"Oke, makasih." Gue pergi dan pas gue mau ke meja lain, gue dihentiin Derrick.
"Woi bro, gue liat kejadiannya. Lo beruntung manajer gak ada di sini. Saran gue, jangan coba-coba debat sama pelanggan."
"Pria itu pesen soda. Gue gak tuli, kan?!" kata gue dengan mata lebar. Derrick ketawa kecil.
"Itu Tuan Jameson. Dia emang selalu pemarah dan bad mood. Bukan pertama kalinya. Dia selalu salah pesen terus nyalahin kita. Kayaknya dia gak waras beneran deh."
"Ck! Fakta." Gue muter mata.
"Kita udah biasa sama dia, jadi kita gak peduli lagi sama omong kosongnya. Tiap dia dateng, kita tanya pesanannya terus konfirmasi lagi sebelum ngambilin. Lo harusnya gitu juga nanti."
"Makasih, bro."
"Sama-sama."
Dia pergi dan gue pergi ke meja yang udah ditentuin. Gue lumayan seneng yang lain baik sama gue dan beneran ngasih saran. Gue kaget, gimana mereka nerima gue. Kalo jadi mereka, gue mungkin gak bakal gitu? Gue bisa aja nyebelin kadang-kadang. Mungkin gue bakal coba nakut-nakutin atau nge-bully anak baru.
'Soalnya gue bego...'
Gue geleng-geleng kepala dan fokus ke pelanggan yang duduk di meja.
"Selamat siang. Selamat datang di Fries & Spice." Gue nyapa sambil senyum dan mereka jawab "Udah pada mutusin mau pesen apa?"
"Udah." jawab mereka serempak.
"Oke. Boleh saya minta pesanannya?"
---
Gue jalan-jalan, ngambil pesenan dan bawain selama tiga jam penuh! Tiga!!! Beberapa pelanggan bikin gue pusing, sementara yang lain ngasih gue tip. Tip yang menyedihkan. Kayak gue pengemis aja. Cuma beberapa yang ngasih gue tip yang lumayan.
Setelah bawain satu pesenan lagi ke meja lain, gue liat sekeliling dan sadar semua meja lain udah ada yang ngurus. Akhirnya. Gue pergi gabung sama Jenna dan Elsa di belakang konter, duduk buat istirahat sebentar.
"Capek?" tanya Elsa.
"Kecapekan."
"Nah, sekarang lo tau gimana rasanya." Jenna cekikikan.
"Lo di belakang konter. Kerjaan lo cuma ngambil pesenan dari pelayan lain dan ngasih pesenan buat dibawa pulang ke orang-orang yang ngantri. Kita di sisi lain, jalan mondar-mandir bawa nampan dan buku catatan. Ditambah lagi, kita bersihin meja setelah orang-orang pergi." kata gue.
"Ada benernya juga." kata mereka setuju.
Kepala gue sakit banget dan gue capek banget. Gue butuh tidur. Tapi itu gak mungkin. Gue masih punya banyak jam kerja di depan gue.
"Ada meja kosong dan pelanggan baru baru aja masuk." kata Elsa, bikin gue makin kecewa.
"Mulai lagi deh gue." Gue berdiri males-malesan, ngambil buku catatan gue. Cewek-cewek itu ketawa pas gue dengan enggan pergi nyambut pelanggan baru.
'Lima menit! Yang gue butuh cuma lima menit buat istirahat! Cuma sebentar!'
"Halo dan selamat datang di 'Fries & Spice'. Ada yang bisa saya bantu?" tanya gue, maksa senyum. Itu kewajiban buat senyum tiap ngambil pesenan dari pelanggan. Rahang gue sakit gara-gara tingkah konyol itu.
Rombongan orang yang ternyata cewek-cewek remaja seumuran Saïda, cekikikan. Itu bikin gue kesel entah kenapa. Oh tunggu, mungkin karena gue kecapekan banget!
"Halo juga." salah satu cewek akhirnya jawab, "Gue belum pernah liat lo di sini. Lo anak baru, ya?"
"Iya. Ini hari pertama gue." jawab gue.
Mereka saling pandang, senyum penuh arti.
"Lo ganteng banget." kata yang lain.
"Makasih." Gue maksa senyum lagi. "Pesanannya?"
Gue cuma pengen duduk diem.
Mereka ngasih pesenan mereka dan terus salah satu dari mereka ngomong lagi.
"Nama lo siapa?" tanyanya.
"Asahd."
"Lucu. Kayaknya kita bakal makin sering ke sini gara-gara lo, Asahd."
Temen-temennya senyum ke gue.
"Bagus deh. Saya ambil pesanannya." Gue langsung pergi sebelum yang lain buka mulut!
Gue ambil pesanannya dan dengan enggan balik ke meja mereka, ngasih makanan.
"Ini dia."
"Makasih Asahd." jawab mereka serempak.
"Gue punya sesuatu buat lo Asahd, soalnya ini hari pertama lo." kata yang pertama kali ngomong ke gue.
Gue liat dia ngambil uang lima dolar dan bungkus di tisu meja sebelum nyodorin ke gue.
"Tip kecil buat hari pertama lo."
Saat itu, senyum beneran merekah di bibir gue. Lima dolar sebagai tip jauh lebih bagus dari semua recehan yang gue terima.
"Makasih." Gue senyum dan ngambil uangnya sama tisu yang ngebungkusnya, "Selamat menikmati makanan Anda."
"Makasih." mereka cekikikan dan gue pergi. Gue gabung sama yang lain yang udah ngumpul di konter buat istirahat sebentar karena gak ada pelanggan baru yang harus dilayanin buat saat ini.
"Gue liat lo dapet tip bagus. Senyum di wajah lo bilang semuanya." kata Stephan pas gue gabung sama mereka.
"Yup. Lima dolar yang bagus." Gue ketawa kecil dan mereka liatin gue buka tisu dan ngambil uangnya. Tapi gue kaget nemuin nomor ditulis di tisu itu barengan sama kata-kata:
"Hubungi Gue ;-)"
"Oooh." yang lain bersenandung dan gue ketawa kecil.
"Dia cepet belajarnya." kata Brittany.
"Cepet belajar?" tanya gue, terhibur.
"Yup." jawab Matt "Kalo lo perhatiin, kita selalu buru-buru ke meja yang ditempatin orang-orang seumuran kita, lebih muda atau bahkan lebih tua, yang kita percaya bisa kita pake pesona kita."
"Pesona." Derrick ngulang dan ketawa.
"Pesona?" tanya gue.
"Yup. Lo datengin pelanggan, tunjukin senyum terbaik lo atau kedipin bulu mata lo atau gimana gitu. Itu berhasil hampir setiap saat dan kita dapet tip bagus." Allison ketawa dan tos sama Elsa.
"Oooh jadi lo sedikit menggoda?" Gue ketawa.
"Tentu saja. Sama orang-orang yang kita percaya lebih gampang dideketin. Kita gak coba-coba gitu sama pelanggan yang keliatan galak, pemarah, udah tua banget atau cemberut." Stephan ketawa.
"Itu berhasil hampir setiap saat. Itu salah satu rahasia kita buat dapet tip baru." kata Jenna.
"Sekarang lo tau." Alex nepuk bahu gue terhibur, "Oke guys, balik kerja. Beberapa meja udah kosong."