Bab 110 – Pulang
POV Asahd:
Gue senyum hangat ke dia pas dia gosok-gosok sabun ke seluruh badan dan lengan gue, pagi berikutnya.
"Gue ngerasa diperhatiin banget, setiap kali sama lo," kata gue, sambil elus pipinya.
"Wajar," dia senyum dan pipinya merah, "Kan gue bini lo."
Dia meluk gue dan gue bales meluk dia, sambil cium kepalanya.
"Iya, bener." Gue cium dia.
"I love you."
"I love you lebih lagi, Saïda." Gue kecup dia, "Kemarin seru banget."
Dia ngangkat kepalanya dan senyum malu-malu.
"Iya, seru," dia makin merah, "Dan gue siap ngelakuinnya sesering yang lo mau. Sekarang kita impas."
"Kita emang selalu impas."
Dia senyum dan gue bales senyum. Gue nyalain shower dan air hangatnya nyiram kita. Gue kasih gel ke tangan gue dan olesin ke badan mulusnya dia.
POV Penulis:
Hari itu adalah hari terakhir mereka dan mereka ngehabisinnya dengan cara yang lebih seru lagi. Mereka nikmatin tempat itu buat terakhir kalinya dan balik ke hotel pas sore buat siap-siap buat penerbangan mereka.
--
Jam tujuh malem, keluarga Usaïd naik pesawat buat ke Casablanca, Maroko. Balik ke negara mereka.
Asahd dan Saïda nyampe Zagreh jam 9 malem. Mereka disambut dengan gembira dan hangat sama keluarga dan temen-temen mereka. Tentu aja semua orang pengen tau gimana bulan madu mereka. Tapi pertama-tama, mereka diizinin buat segeran dulu sementara makan malam lagi disiapin.
---
POV Asahd:
Rasanya emang enak banget bisa balik lagi ke rumah juga, dan di tengah-tengah semua orang. Gue seneng banget bisa ketemu lagi sama orang tua gue dan Djafar tersayang.
Kita duduk di meja malem itu juga dan makan malem bareng orang tua kita.
"Kalian berdua keliatan cantik," ibu gue mulai dengan senyum bahagia.
"Dan bahagia juga." Djafar nambahin sambil ketawa kecil.
"Kita emang bahagia," kata gue dengan senyum cerah, "Bahagia banget malah. Anak cewek lo adalah hal terbaik yang pernah terjadi sama gue, beneran." Gue ngaku dan mereka senyum.
"Semoga pernikahan kalian diberkahi." dia bilang dengan senyum cerah.
"Amin." Saïda dan gue jawab barengan, saling pandang.
"Semoga langgeng selama mungkin." ayah gue nambahin.
"Insya Allah, ayah. Makasih banyak."
Kita lanjut ngobrol gimana kita ngehabisin minggu pertama kita di Cancun dan gimana indahnya tempat itu.
"Kedengerannya indah banget," ibu gue merdu, "Terus kalian kemana setelah itu? Buat minggu kedua kalian."
"Italia. Kita kunjungan ke Pisa dan Roma."
"Yalah. Kalian berdua emang tau gimana caranya seneng-seneng." dia mikir dan kita semua ketawa.
"Oh, coba aja kalian tau." Gue ketawa kecil dan mereka ketawa lagi.
"Sempurna," kata ayah gue, "Kalian berdua masih muda banget dan punya masa depan yang lebih cerah lagi. Seneng-seneng aja sepuasnya."
"Bener banget." Djafar setuju.
"Kita bahkan beli beberapa hadiah buat kalian semua," Saïda bilang ke mereka, "Semua dari Pisa dan Roma."
"Ooou, kabar bagus nih," ibu gue mikir, "Kita bakal liat hadiahnya, abis makan malem ya."
"Oke." Saïda cekikikan.
Kita lanjut ngobrol dan cerita ke mereka semua tentang kegiatan yang kita lakuin selama bulan madu kita.
"Ceritain tentang si kembar." Saïda nyolek gue dikit.
"Kembar?" orang tua kita nanya.
"Iya. Kita emang ketemu orang baru." Saïda bilang ke mereka dengan senyum. "Beberapa kembar Italia."
"Iya. Gue ketemu mereka pertama kali di Cancun. Kita lagi di bandara. Dan kemudian, kita juga ketemu di Roma."
"Kebetulan banget."
"Iya kan."
Gue lanjut cerita detail tentang ceritanya.
"Oh, baik banget mereka ngajak kalian jalan-jalan kecil di Roma." Djafar bilang dan orang tua gue setuju.
"Bener. Kalian bakal tetep kontak sama mereka?"
"Pasti. Mereka seru." Gue jawab santai.
"Iya. Kita emang nyaman sama mereka. Kita ngobrol dan ketawa di restoran pizza, kayak udah kenal lama banget." Saïda jelasin, "Mereka santai."
"Itu bagus banget," ibu gue senyum, "Gue seneng kalian berdua punya waktu yang indah."
"Kita gak bakal lupa." Saïda senyum ke gue dan gue bales senyum.
POV Saïda:
-
Selama sisa waktu, kita makan dan ngobrol. Gue seneng bisa pulang. Akhirnya, Asahd dan gue bisa bareng di istana itu – sebagai sepasang kekasih – tanpa harus sembunyi-sembunyi. Kita udah nikah, dalam segala arti kata.
Pas kita makan, tiba-tiba gue ngerasa mual. Gue membeku dan natap piring gue, berusaha keras buat nahan diri biar gak muntah. Tanpa mikir panjang, gue meraih gelas gue dan langsung minum jus lemon di dalamnya. Untungnya buat gue, itu ngebantu dan mualnya ilang.
'Gue harus ke dokter. Gue bakal ngomong sama Ratu dan cuma dia. Gue bakal liat apa yang dia bilang.'
Gue mikir, minum lebih banyak jusnya.
--
Abis makan malem, Asahd dan gue bawa hadiah yang kita beli buat orang tua kita dan mereka seneng banget sama hadiahnya.
Pas mereka lagi sibuk ngagumin apa yang udah kita kasih ke mereka, gue nyamperin ratu.
"Ibu?" gue panggil pelan, berdiri deket banget sama dia.
Dia langsung noleh dan ngasih perhatiannya ke gue.
"Iya, sayangku?" dia jawab.
Gue liat ke pria-pria yang masih diskusiin tentang hadiahnya.
"Ada sesuatu yang pengen aku omongin sama Ibu. Lebih baik nanti malem aja."
"Oh," dia langsung keliatan khawatir, "Oke sayang. Tapi tentang apa?"
"Kesehatan aku–" gue jawab.
"Hmmm, oke. Ikut aku. Kita ngobrol sekarang aja." dia megang tangan gue dan kita mulai jalan ke pintu.
"Kalian mau kemana?" Asahd yang nyadar, nanya.
"Bukan urusanmu," ratu mikir, "Kamu udah sama dia selama dua minggu yang bagus. Kasih dia istirahat."
Asahd ketawa kecil dan ngangkat tangannya tanda menyerah.
"Oke, Ibu."
"Nah." dia ketawa dan narik gue.
-
Kita pergi ke perpustakaan dan dia nutup pintu di belakang kita.
"Sekarang ceritain," kita duduk, "Ada apa sama kamu, sayang?"
"Aku gak tau juga."
Gue cerita tentang demam, mual dari waktu ke waktu, gue muntah dan sakit kepala.
"Yalah!" dia berseru pelan, senyum cerah di wajahnya. "Tuhan Maha Besar! Kalo ini yang aku pikir, yang aku yakin emang ini!"
"Itu– itu aku hamil?" gue gumam pelan dan dia senyum cerah.
"Aku percaya!" dia kaget bahagia.
Merinding di kulit gue dan jantung gue berdebar.
'Yalah...'
Pipi gue panas dan gue gigit jempol gue, gak tau gimana harus bereaksi.
"Itu– itu kepikiran sama aku dan," gue ngusap dahi gue, ngerasa gugup, "Aku coba beli test tapi aku nyerah. Aku gugup, Ratu."
"Itu Ibu dan cuma Ibu sekarang, Saïda." dia senyum dan megang tangan gue. Gue bales senyum, mata gue berair dikit, "Dan kamu gak perlu gugup. Ini kabar baik!"
"Tapi kita belum yakin." gue gumam.
Dia mau ngomong sesuatu tapi tiba-tiba membeku, sedikit cemberut.
"Bener," dia mulai, "Sekarang aku mikir."
Dia ngusap dahinya.
"Kamu baru nikah dua minggu setengah –" dia nyatain, "Aku tau beberapa gejala muncul lebih awal, tapi aku pikir gejala yang kamu punya terlalu dini buat seseorang yang baru nikah dua minggu setengah. Dari pengalamanku, gejala kayak gini biasanya muncul sebulan sampe tiga bulan setelahnya."
"Oh–"
"Kamu mungkin cuma sakit, sayangku." dia jelasin.
'Atau hamil. Yalah.
Asahd dan gue bercinta buat pertama kalinya, sebulan lalu. Dan, dia keluar di dalem gue. Dua kali! Malam pertama di kamarnya, dan malam berikutnya juga, di salah satu kamar tamu. Ya Tuhan.'
"Iya, Ibu. Aku mungkin sakit." gue jawab, suara gue pelan banget. Tiba-tiba gue ngerasa gak enak badan.
"Aku bakal panggil Dokter pribadiku buat periksa kamu besok," dia bilang ke gue dan jantung gue berdebar, "Jangan khawatir, sayang. Perbaiki wajahmu. Mungkin gak ada yang serius. Apapun itu, kamu bakal diobatin. Mungkin kamu kena sesuatu di Cancun tanpa kamu tau."
"Iya, mungkin..." gue nelen ludah.
'Gue harus santai. Gue khawatir gak jelas. Gue aman selama periode itu. Aku inget udah ngitung hari-hariku dan itu jelas bukan masa suburku, waktu itu.
-Bener.'
Keringanan langsung nyelimutin gue dan gue senyum.
"Nah. Senyum yang indah. Jangan khawatir lagi. Kita bakal obatin apapun itu." Ratu bilang dan meluk gue. Gue bales meluk dia, senyum bahagia.
Gue gak khawatir tentang kehamilan. Gue khawatir tentang itu yang jadi hasil sebulan lalu, pas gue belum nikah sama Asahd dan masih bertunangan sama Noure.
'Phew. Kalo emang bener dan mereka tau, Asahd yang pertama kali dimarahin. Dia emang keras kepala banget dan mungkin itu bakal bikin orang tuanya kaget dikit. Kalo gue, ya ampun. Mereka bakal kaget banget dan tetep nyalahin Asahd.'
Pikiran itu bikin gue terhibur. Dia udah godain gue, kan.
'-Kamu pergi ke dia malam itu.-
Tapi mereka gak bakal pernah tau itu.'
Gue terhibur banget.