Bab 106 – Tujuan Berikutnya -II
POV Asahd:
Gue menggeliat dan membuka mata. Hampir langsung, gue inget kejadian semalem.
'Gimana bisa gue lupa? Sialan.'
Gue berbalik nyari Saïda tapi dia gak ada di samping gue. Sambil ngucek mata, gue duduk.
'Gue suka banget.'
Saïda bener-bener bikin gue kaget. Tapi dengan cara yang manis. Gue gak nyangka bakal dapet yang kayak gitu. Apa bener dia orangnya?
'Iya, dia orangnya!'
Gue merem dan ngerasain lagi momen yang bikin deg-degan itu. Gimana rasanya dia nge-lap dance di gue, gimana dia melilitkan jarinya di sekitar gue. Walaupun cuma sebentar, gue nikmatin banget rasanya.
Gue mikir gimana dia duduk di atas gue dan mulai ngesek.
'Yalah, Saïda. Kamu bakal naikin aku, sayang. Aku ajarin kamu.
Setelah apa yang terjadi kemarin, gue butuh lebih banyak.'
Gue denger suara air di kamar mandi dan langsung turun dari kasur. Gue liat lingerie-nya di lantai dan kenangan manis itu balik lagi.
Tanpa mikir panjang, gue langsung ke kamar mandi.
--
Dia lagi di depan kaca dan sedikit tersentak, berbalik. Dia senyum dan merah pas liat gue.
"Selamat pagi." katanya dengan senyum malu-malu, "Maaf ya buat kemarin." gumamnya. "Aku minum kebanyakan."
"Maaf?" gue nanya sambil ngangkat alis, nutup pintu di belakang gue. "Buat apa?"
"Aku kayaknya main-main banget sama kamu." dia ketawa gugup, nutupin matanya. "Aku udah melewati batas tertentu. Aku sama alkohol udah gak ada hubungan lagi."
Dia bahkan gak tau gue pelan-pelan mendekat ke dia.
"Aku bahkan gak mau mikirin itu. Aku bener-bener bukan diri aku sendiri." gumamnya, matanya masih ketutup.
Pas dia lepasin tangannya dan ngangkat muka, gue udah berdiri tepat di depannya. Dia sedikit gemetar, gak nyangka.
"Itu sempurna." suara gue keluar tanpa sengaja pelan. Dia senyum, ngegigit bibirnya.
"Jadi gak aneh?" gumamnya.
"Sama sekali gak." Gue narik handuknya pas dia gak nyangka dan handuknya jatuh, bikin dia sedikit tersentak kaget. Kita berdua sekarang telanjang. "Kamu bisa lakuin itu lagi dan lagi dan lagi. Aku mau."
Bibirnya kebuka tapi gak ada suara yang keluar. Terus matanya turun ke selangkangan gue dan dia sadar gue udah siap.
"Ya ampun." gumamnya dan ngangkat muka ke gue, "Kamu gak pernah cukup ya?" dia nanya dengan senyum gugup dan pipi yang merah membara.
"Gak." jawaban gue serak dan gue ngelus pipinya. "Aku lumayan gak pernah puas kalau sama kamu."
"Aku nikah sama kuda jantan." gumamnya, makin merah.
"Kirain kamu udah sadar dari tadi."
Gue pegang tangannya dan ngangkatnya di atas kepalanya. Terus gue bikin dia berbalik kayak lagi dansa sampe dia membelakangi gue dan ngeliat bayangannya di cermin.
"Aku harus pegangan wastafel, ya?" gumamnya sambil ngeliat gue di kaca.
"Kamu cepet belajar." cuma itu jawaban gue, sambil meluk pinggangnya. Gue udah tegang dan gue bener-bener butuh pelepasan itu.
Saïda bersandar dan megang wastafel buat pegangan.
"Kenapa aku ngerasa ini bakal terus berlanjut bahkan setelah bulan madu, dan selama mungkin?" katanya.
"Karena emang bakal gitu. Kamu gak komplain, kan?" Gue bersandar sampe dada gue nyentuh dadanya. Terus gue cium pipinya dari samping.
Dia senyum.
"Mm. Gimana kalau aku komplain?" dia berani ngejek.
"Kamu tau aku, Saïda." bisik gue, naruh tangan di bahunya dan bikin dia makin membungkuk sampe dadanya nyentuh wastafel. "Aku gak bakal peduli. Kamu gak bakal nyoba buat berentiin aku, kan?"
"Kamu tau aku gak bisa." bisiknya, udah sedikit ngos-ngosan.
Gue senyum dan nurunin diri buat nyium punggungnya.
"Buka kakimu."
Dia lakuin itu dan gue pegang pinggangnya dengan satu tangan dan bahunya dengan tangan yang lain.
"Ini buat kamu bikin aku penasaran kemarin, sayang." itu kalimat terakhir gue yang serak sebelum gue langsung masuk ke dia. Ngisi dia sepenuhnya.
"OHHHHH!!" dia mengerang dan gue nyengir, lepasin bahunya dan biarin tangan gue meluncur di bawah perutnya ke p*peknya. Gue nemuin kl*tornya dan jari-jari gue main-main sedikit, sementara gue masih tertanam dalam-dalam di dia.
"Ahhhh! Asahd! Tolong! Ya ampun!"
Dia mendesah dan merintih, pengen gue gerakin dan ngasih dia orgasme. Giliran gue buat bikin dia penasaran sedikit. Gue terus main-main sama sensitivitasnya.
"Ohhhhh... Asahd!" dia tersentak, ngesek sedikit ke gue.
"Seseorang lagi horny?" gue mendesah dan tawa lepas dari mulut gue.
"Ahhhh..." dia merintih dan tersentak.
Masih ngusap dia, gue keluar dan masuk lagi. Bahkan lebih kasar dari yang pertama, sekarang.
Dia ngeluarin erangan mentah dan intens lagi. Tubuhnya udah sedikit menggigil.
"OHHH! Ohhhh!" dia jinjit sekarang dan semua berat badannya ada di wastafel.
"Enak, kan, sayang?" gue mendesis dan nyengir jahat. Megang bahunya erat-erat, gue siap buat ngasih dia apa yang dia mau. Apa yang kita berdua mau.
***
POV Penulis:
Pasangan itu menghabiskan dua hari lagi di Pisa, selama itu Asahd ngasih Saïda semua perhatian sensual yang dia butuhin. Semuanya sempurna. Mereka mengunjungi banyak tempat lain di kota dan beli beberapa oleh-oleh, juga hadiah buat orang tua dan orang-orang tersayang mereka di Zagreh.
Karena cuma sisa empat hari sebelum akhir bulan madu mereka, pasangan itu mutusin buat pergi ke Roma buat akhirnya ngakhiri bulan madu mereka yang indah.
--
Mereka naik pesawat dan seperti biasa di kelas satu. Mereka pasang sabuk pengaman dan nyaman.
"Aaaw. Semua ini bakal selesai sebentar lagi." Saïda cemberut terus ketawa kecil.
"Gak kok. Ini baru mulai. Gak kayak ini terakhir kali kita jalan-jalan." Asahd bergumam, megang tangannya.
"Kamu luar biasa. Beneran." dia senyum dan naruh kepalanya di bahunya. "Aku cinta kamu Asahd."
"Aku juga cinta kamu, Saïda." dia naruh kepalanya pelan-pelan di atas kepalanya.
Asahd gak bakal percaya dia bisa jatuh cinta kayak gini, cuma beberapa bulan lalu. Pas dia mikirin itu, itu bahkan bikin dia terhibur dan sedikit kaget.
Selama ini, dari dia masih kecil, dia udah punya belahan jiwa di dekatnya?
Hubungan mereka udah ngalamin semua jenis tahapan. Persahabatan sampe gak suka, sampe persahabatan dan akhirnya...cinta. Mereka berdua udah nyari pasangan yang sempurna, di tempat lain. Tapi itu sia-sia karena mereka udah punya satu sama lain bahkan sebelum mereka bisa sadar dan nerima itu. Mereka selalu melengkapi satu sama lain dengan cara tertentu. Bahkan pas mereka gak tahan satu sama lain. Kebalikan yang akhirnya saling tertarik. Masing-masing mempengaruhi dan mengubah sesuatu dalam hidup yang lain, dan itu bikin mereka lebih bahagia sebagai individu dan juga sebagai pasangan.
--
POV Asahd:
Di tengah perjalanan, gue sama Saïda lagi ngantuk pas tiba-tiba, dia ngangkat kepalanya dari bahu gue dengan cara yang tiba-tiba. Gue langsung buka mata dan ngeliat dia. Dia keliatan pucat.
"Kenapa?" gue nanya, khawatir. Gue sentuh dia tapi dia gak demam atau apa pun.
Dia mengerutkan kening dan nutup matanya rapat-rapat, jari-jarinya neken tengah lehernya.
"Saïda? Sayang, kenapa?" gue nanya, ngusap bahunya.
"Ada masalah, Tuan?" seorang pramugari yang lewat, nanya. Dia terus nyadar juga penampilan Saïda. "Nyonya, kamu baik-baik aja?"
Saïda ngibasin tangannya yang lain dengan kasar dan membuka matanya lebar-lebar. Dia buka mulutnya buat ngomong sesuatu tapi yang bikin gue kaget, dia muntah dan sebagian jus yang dia minum tadi tumpah ke celana jeans gue.
"Yalah!" gue tersentak dan langsung meraih kantong kertas yang biasa dipake buat masalah kayak gitu.
"Ini, sayang."
Dia ngambil kantongnya dan langsung, dia muntah.
"Ya ampun..." gue langsung ngambil rambutnya, megangnya kayak kuncir kuda sementara dia muntahin isi perutnya.
Dia nolak semua yang udah dia telan. Semuanya.
'Ya ampun. Gue harap dia gak sakit. Mungkin sesuatu yang dia makan atau minum, yang gak seger atau bagus.'
Dia muntah lama banget.
"Dia demam?" pramugari itu nanya.
"G-gak."
"Mungkin dia gak tahan penerbangan dan turbulensi? Banyak yang punya masalah kayak gitu."
"Gak, dia gak punya masalah itu. Gue rasa dia makan sesuatu yang gak seger." Gue ngambil kantong muntah dari dia langsung pas dia selesai, nutupnya.
"Ayo."
Gue pegang tangannya dan kita berdiri.
"Tolong bawain dia air hangat yang asin. Kita mau bersihin sedikit."
"Oke, Tuan." pramugari itu pergi. Gue berbalik ke Saïda.
"Ambil tas kecil aku, sayang."
Dia lakuin seperti yang disuruh dan kita langsung ke toilet.
--
Gue nge-flush kantong muntah dan terus ngiket rambutnya sementara dia membungkuk buat kumur dan cuci mukanya.
"Kamu baik-baik aja, sayang?" gue nanya, ngambil handuk muka gue dari tas kecil gue dan ngasih ke dia.
"Iya..." dia tersentak, "Tiba-tiba aku ngerasa mual."
"Gue udah bilang jangan makan sushi sialan itu. Makanan itu menjijikkan buat gue." gue meringis mikirin itu. "Kenapa makan ikan mentah?"
Dia ketawa kecil.
"Mungkin gak seger." katanya.
"Oh. Gak bohong?" gue bilang dengan cara yang paling sarkas, ngangkat alis. Dia ketawa kecil.
"Udah deh, Asahd."
"Gak lucu. Gue khawatir. Gimana kalau kamu kena keracunan makanan atau apa pun?" Gue ngambil handuk dan ngelap beberapa tetes air di dahinya.
"Gak bakal. Aku baik-baik aja. Gak bakal terjadi lagi, sayang." dia cekikikan dan meluk gue.
"Iya." Gue meluk dia balik, "Sekarang balik ke tempat duduk kita. Gue harus bersihin celana jeans gue."
"Oh, maaf banget soal itu. Biar aku bersihin."
"Gak, Saïda." gue memotong dengan tegas, "Duduk aja. Dan minum air asinnya, oke?"
Dia cekikikan.
"Oke, Ayah." gumamnya terus pergi.
'Salah sushi. Kenapa orang makan itu?'
Gue basahin handuk dan mau ngelap celana jeans gue. Yang bikin gue kaget, gue gak cuma kena jus, tapi juga beberapa sushi sialan itu. Gue bener-bener menggigil sedikit, merinding nutupin kulit gue dengan cara yang salah, gak nyaman!
"Eeurk." gue meringis dan langsung ngelapnya, "Ini parah."
Gue gosok. Tapi pas gue lakuin itu, gue muntah dan akhirnya muntah juga.
'Gue pikir gue benci sushi, sebelumnya? Sekarang lebih parah!'