Bab 67 – Masalah Dengan Noure
***
Sudut Pandang Saïda:
Jam empat sore itu, gue lagi duduk di halaman depan istana, mikirin apa yang terjadi tadi siang.
'Gawat juga...'
Gue gigit ujung jempol gue dengan gugup.
'Asahd marah banget. Gue bisa lihat di matanya dan dari senyum sarkasnya.
Ya Tuhan. Semoga dia nggak marah sama gue.
Gue udah bilang ke Noure buat nggak datang! Gue udah bilang ke dia buat nggak datang!'
Lagi mikir, gue lihat Asahd keluar dari istana dan turun tangga. Dia pakai pakaian olahraga dan gue bisa tebak dia mau ke gym.
Dia cemberut pas masuk ke salah satu mobil kerajaan, ditemani seorang pengawal dan sopir. Mereka pergi.
'Dia kayaknya marah sama gue.'
Gue perhatiin mereka keluar dari area istana. Dia punya gym pribadi di istana, tapi kalau dia mutusin buat pergi ke gym umum, berarti dia mau jauh-jauh dari orang-orang istana.
'Dari gue?'
--
Gue lagi ngobrol sama teman-teman gue di taman. Udah jam enam sore.
Kita ngomongin banyak hal, tapi gue nggak kaget pas nama Asahd muncul kayak biasanya. Salma cerita gimana dia minta maaf ke dia dan yang lain juga sama. Katanya dia udah minta maaf ke mereka semua.
'Baik juga dia.'
"Jujur," Aya mulai sambil cekikikan, "gue nggak peduli sama permintaan maafnya karena gue nggak pernah tersinggung. Kalau dia minta gue mijitin dia lagi, gue mau!"
"Kita semua juga mau. Itu bukan rahasia lagi." Aisha nambahin dan mereka ketawa.
"Kalian sadar nggak sih kalau dia udah nggak bawa cewek-cewek aneh dan nggak tahu malu lagi ke istana?" Leila nanya.
"Bener."
"Dia udah berubah." Gue bilang ke mereka, "Dia malah jadi tipe yang bisa ngerasain perasaan yang tulus."
"Manis. Berarti dia bakal nemuin istri bentar lagi. Ulang tahunnya udah deket, dia harus nikah waktu itu. Dia bentar lagi 23 dan harus nemuin istri sebelum 24." kata Salma.
"Dia punya waktu setahun buat itu. Dia punya waktu kok." jawab gue.
"Bener, bener."
Tiba-tiba, Ratu keluar dari istana dan kita semua berdiri dan membungkuk hormat.
"Saïda, sayang?" panggilnya, mendekat.
"Iya, Ratu?"
"Anakku belum balik?"
"Belum, Ratu."
"Udah jam enam. Minta sopir dan jemput dia, ya."
"Siap, Yang Mulia."
Gue langsung lakuin apa yang disuruh.
*
Kita nyampe di gym dan gue bilang ke sopir buat nunggu. Gue masuk ke gedung dan naik tangga ke bagian pribadi tempat para bangsawan dan kadang Pangeran, selalu latihan.
Gue deketin pintu dan sadar kalau pintunya agak kebuka. Gue ngintip dari celah. Dia lagi sendirian dan udah buka kaosnya. Dia keren banget dan gue kagum sama bentuk tubuhnya yang bagus. Tapi bukan cuma itu yang gue perhatiin. Gue perhatiin dia masih cemberut... bahkan waktu dia ngangkat beban. Gue nelen ludah. Dia bener-bener lagi nggak mood.

Gue narik napas dalam-dalam dan masuk ke ruangan.
"Pangeran." Gue membungkuk hormat dan dia ngelihat gue. Dia naruh bebannya. "Ratu, ibumu, minta saya buat jemput Anda."
Dia diem, cemberutnya masih ada. Dia natap gue lurus dan gue tersentak. Gue mutusin buat ngomong lagi. Dia bener-bener masih marah sama gue. Ada pengawal sama dia, berdiri di ujung ruangan. Gue noleh ke dia.
"Tolong, pergi. Saya ada urusan pribadi dan penting yang mau saya omongin ke Pangeran." kata gue dan dia ngangguk kecil sebelum pergi.
Gue nutup pintu dan ngelihat Asahd yang masih diem dan cemberut.
"Asahd," gue mulai pelan, "Gue udah minta dia buat nggak datang. Gue janji."
"Saïda, kayaknya lo nggak ngerti perasaan gue ke lo." akhirnya dia bergumam.
"Asahd, gue ngerti, tapi gue nggak tahu harus gimana. Lo harus ngerti kalau Noure itu tunangan gue. Gue harus nikah sama dia."
"Lo cinta sama dia?" dia nanya, bikin gue kaget.
"Asahd, lo tahu gue cinta sama dia."
"Terus gue? Lo ngerasain sesuatu nggak sih sama gue?" dia nanya.
"I– iya." Gue ngaku, "Gue punya perasaan yang dalem banget sama lo, Asahd. Dalem banget sampai pikiran gue kacau. Dalem banget sampai gue nggak bisa nolak lo kebanyakan waktu. Ini nggak pernah terjadi sama gue. Maaf kalau lo mikir gue mainin perasaan lo, tapi gue nggak main-main! Perasaan gue yang mainin gue." mata gue agak berkaca-kaca, "Gue mau sama lo, Asahd. Tapi gue juga mau sama Noure. Gue nggak ngerti apa yang terjadi sama gue."
Nah. Gue udah ngaku. Gue mau sama Asahd. Banget. Tapi sisi lain dari gue mau sama Noure.
Gue lihat ekspresinya melunak setelah gue ngomong.
"Lo mau sama gue?" dia nanya pelan.
"Iya. Banget." mata gue berair dan gue ngerasa frustasi dan bingung banget. "Gue nggak ngerti diri gue sendiri, Asahd. Gue nggak ngerti dan nggak bisa kontrol perasaan gue sendiri. Gue bingung banget karena gue tahu gue mau sama lo tapi gue juga tahu kalau gue mau sama Noure."
Dia nyamperin gue dan megang tangan gue.
"Saïda, lo tahu lo mau sama gue dan lo tahu lo harus sama Noure. Itu dua hal yang beda. Lo mau sama gue tapi lo ngerasa harus sama Noure karena itu yang lo tumbuh, mikirinnya. Dijodohin sama dia."
Gue merem dan air mata ngalir di pipi gue.
"Nggak semudah itu, Asahd."
"Iya, kok. Tinggalin dia."
"Gue nggak bisa." Gue nangis dan menjauh dari genggamannya, nyembunyiin wajah gue di tangan. Gue nggak yakin sama apa yang gue rasain. Gue capek.
"Oke." katanya tegas dan gue ngelihat dia. "Kalau gitu, gue nggak bakal biarin lo sendirian sampai lo ninggalin dia. Noure beruntung hari ini karena ibu gue muncul. Lain kali, dia nggak bakal. Lo lihat kan, bahkan lo nggak bisa ngelarang gue buat ngadepin dia, cintaku. Satu-satunya hari lo bisa ngelarang gue buat nyakitin dia adalah hari di mana lo ninggalin dia buat gue."
Dia ngambil kaosnya dan jalan ngelewatin gue.
"Ayo pergi."
***
Seminggu berlalu dan gue berhasil ngejauhin Noure dari istana.
Suatu malam, gue lagi sama Noure di rumah orang tuanya. Mereka lagi keluar dan kita mutusin buat punya waktu berdua. Kita lagi diskusi di kamarnya pas tiba-tiba, suasana jadi panas di antara kita. Kita mulai ciuman.
Sudut Pandang Penulis:
Ciuman mereka kayaknya makin panas setiap detiknya. Noure suka banget cara Saïda nyium dia dengan 'keinginan' kayak dia lagi berusaha buat dapetin kepuasan yang belum dia dapat. Itu bikin dia kaget banget dari Saïda yang biasanya pemalu dan kalem, tapi dia biarin aja. Walaupun dia suka, Saïda nggak dapetin apa yang dia mau. Dia cium dia dalam-dalam karena frustasi, berusaha ngerasain sesuatu yang spesial tapi dia nggak dapetin apa-apa. Itu mulai bikin dia sedikit kesal, cara dia nggak ngapa-ngapain selain meluk pinggangnya.
Oh, Saïda udah selesai. Asahd udah sepenuhnya ngaruhin dia. Dia berharap lebih dari Noure, lebih dari yang Asahd selalu kasih ke dia. Dia berharap Noure bakal ngelakuin hal yang sama. Dia percaya kalau dia ngelakuin itu, dia akhirnya bakal bisa ngelupain Asahd yang dia percaya nggak mungkin bisa sama dia karena statusnya. Dia berusaha buat ngerubah Noure jadi Asahd tanpa sadar! Asahd mulai ngebuat dia terobsesi dalam setiap hal kecil yang dia lakuin. Dia berusaha kabur tapi nggak berhasil.
Dia meluk leher Noure dan nyium dia lebih dalam, bikin dia kaget. Dan terus dia ngelakuin sesuatu yang nggak terduga, dia tanpa sadar megang tangan Noure dan ngegeseknya ke atas bokongnya dan berbisik:
"Lakuin sesuatu, Noure, lakuin sesuatu. Sentuh gue."
Itu ngebuat 'anak baik-baik' itu kaget dan ngehentiin ciumannya dan natap Saïda. Dia natap balik, nggak punya malu untuk pertama kalinya.
"Saïda, ada apa sih sama lo?" dia nanya dengan sedikit cemberut, "Sayang, lo aneh banget sejak balik? Lo baik-baik aja? Lo udah berubah."
"Gimana?" dia cemberut sedikit dan ngangkat alisnya ke dia.
"Lo jadi nggak punya malu, sayang. Lo udah aneh dan minta gue buat ngelakuin hal-hal yang nggak biasa, nggak pantas. Kita bahkan belum tunangan."
Saïda ngerasa diserang dan jadi kesel.
"Cuma karena gue minta lo buat nyentuh gue?" dia nyolot, "Itu yang jadi masalahnya, Noure?"
Noure natap kaget. Saïda memutar matanya dan berdiri.
"Gue pergi. Nanti gue telepon. Bye." sebelum dia bisa ngomong sesuatu, dia keluar dengan marah.
**
Saïda nyampe istana jam 7 malam itu. Masih kesel tapi bingung sama kelakuannya tadi sama Noure. Pas dia jalan di aula utama, dia ketemu Pangeran. Dia lagi cemberut sama kayak dia.
"Pangeran." dia membungkuk hormat sedikit, ngerubah ekspresinya biar dia nggak nanya ada apa.
"Lo dari mana?" dia nanya tapi dia nggak jawab dan jadi dia ngerti kalau dia abis sama Noure. Dia narik napas dalam-dalam. "Ketemu gue di kamar gue, setelah makan malam."
"G–"
"Ini permintaan." dia ngusap pipinya tapi dia mundur dan ngelihat sekeliling buat mastiin nggak ada orang di sekitar. "Tolong, ketemu gue di kamar gue setelah makan malam. Gue nggak mau ngasih perintah. Gue mau lo datang karena lo mau."
Saïda diem, napasnya tersengal. Matanya turun ke bibirnya.
"Gue tahu lo bakal datang. Gue bakal nunggu." dia berbisik terakhir sebelum jalan ngelewatin dia dan pergi.
Saïda merem dan narik napas dalam-dalam.