Bab 14 – Hari Pertama
***
Sudut Pandang Asahd:
Jam lima pagi, gue udah bangun dan manasin air buat teh sama mandi. Mata gue bengkak banget karena nggak biasa bangun sepagi itu.
"Sial, gue keliatan jelek banget." Gue bergumam di depan cermin kecil di toilet, "Kayaknya gue harus mengucapkan selamat tinggal sama tidur cantik, mulai hari ini."
-
Setelah minum teh panas yang bikin gue nggak terlalu ngantuk, gue masukin air hangat ke ember dan mandi kilat. Terus gue pake baju hangat karena angin di New York lagi dingin banget, kayaknya mau ngasih tau kalau musim gugur bentar lagi dateng.
Gue ambil tas sekolah yang dibeliin Djafar dan masukin seragam sama dompet. Terus gue ambil earphone, hape, dan kacamata, sebelum keluar dari apartemen. Gue pake kacamata buat nutupin kantung mata yang berat karena kurang tidur.
Pas gue jalan di lorong, gue ketemu tetangga yang gue cuekin abis. Gue juga nggak mau mulai sosialisasi sama orang-orang ini, kan? Cih! Dan kayaknya dia juga nggak ada niat nyapa gue, dari cara dia ngeliatin gue. Dia ngasih tatapan yang sama kayak banyak orang lain akhir-akhir ini. Orang-orang yang nggak suka sama orang lain karena ras atau apalah. Gue nggak peduli. Gue nggak bakal terpengaruh sama omong kosong karena gue nggak di sini buat mereka.
Dia lagi buka pintu apartemennya dan natap gue terus, kayak gue ini penjahat. Lebih merasa geli daripada tersinggung, gue lepas kacamata dan berhenti. Gue kasih tatapan yang lebih jelek lagi ke wanita itu.
"Apa?! Lo pikir gue teroris?" Gue tanya keras dan dia langsung kaget, langsung masuk ke apartemennya.
"Bodoh." Gue cekikikan dan pake lagi kacamata gue. Terus gue pergi ke lift dan masuk.
**
Sudut Pandang Penulis:
Beberapa menit lewat jam enam, Asahd udah nemuin jalan ke stasiun kereta bawah tanah.
'Semua kuman. Ya ampun. Gue bener-bener lagi di bawah! Gue udah turun sampe naik kereta bawah tanah! Kereta metro!'
Pikiran itu bikin dia jijik saat dia dengan enggan masuk, bareng banyak orang lain, ke kereta pagi itu.
Dia cepet-cepet nyari tempat duduk. Nggak mungkin dia mau berdiri.
Dia cuekin semua orang dan pake earphone, dengerin musik dan mainin hapenya sementara kereta akhirnya jalan.
-
Di suatu titik, kereta berhenti dan ngambil penumpang lagi. Di antaranya, Brittany, salah satu cewek yang kerja di tempat yang sama kayak Asahd. Dia ngeliat Asahd lagi main hape dan nyamperin dia tanpa dia sadar.
"Hei." dia bilang, nyentuh bahu Asahd dan dia nengok. Kaget ngeliat dia, dia senyum dikit dan lepas earphonenya.
"Halo." dia bilang.
"Gue liat lo dateng kepagian buat hari pertama kerja. Awal yang bagus. Lo bakal dapet perhatian bos kalau lo terus kayak gini."
"Gue cuma berharap bisa tetep kerja di sini." jawab Asahd. "Gue butuh banget kerjaan ini."
"Kita semua emang butuh kerjaan kita." cewek itu mikir "Dan lo nggak keliatan kayak lagi butuh banget kerjaan."
"Maksudnya?"
"Lo keliatan kayak anak manja. Lo tau kan, anak orang kaya." dia ketawa.
"Ya ampun. Dengan baju yang memalukan ini?" Asahd nyolot, ada rasa sakit di dadanya saat dia inget lemari bajunya di Zagreh.
"Baju ini? Memalukan? Keliatan baru. Dan lo jelas nggak beli dari toko barang bekas."
"Terserah lo deh." dia lanjut mainin hapenya.
Brittany natap dia. Tentu aja dia ngerasa Asahd ganteng. Asahd emang punya efek kayak gitu ke kebanyakan cewek yang dia temuin. Di Zagreh atau di mana pun, sama aja.
"Lo dari mana?" dia nanya.
"Maroko." dia terus mainin hapenya.
"Keren."
Mereka diem beberapa saat tapi dia ngomong lagi:
"Jadi, lo nggak mau ngasih gue tempat duduk?" dia bercanda dan Asahd ngeliat dia, geli banget.
"Nggak, gue nggak papa. Gue yakin gue nggak keliatan kayak seorang pria sejati." dia jawab santai, bikin kaget cewek itu dengan sifatnya yang nggak terganggu.
"Aha! Wow." dia mikir, tepuk tangan dikit, "Gue ngerasa kita semua bakal seneng kerja bareng lo, Asahd. Lo nyebelin banget. Tapi dengan cara yang lucu."
dia nambahin sambil ketawa terus pergi, nyari tempat duduk di ujung yang lain.
Geli, Asahd pake lagi earphonenya dan terus dengerin musiknya.
'Dateng kepagian buat nyari tempat duduk dan lo pikir gue bakal jadi pria sejati dan ngasih tempat duduk buat lo! Cih!'
Pikiran itu bikin dia cekikikan.
***
Asahd dan Brittany sampe di restoran jam tujuh tiga puluh. Waktu yang pas banget. Asisten manajer baru aja buka restoran. Dan sama kayak mereka, banyak temen kerja mereka yang lain baru aja dateng.
"Kita ganti baju di mana?" Asahd nanya Brittany.
"Sayangnya, kita semua ganti di ruang ganti yang sama di belakang. Cewek dan cowok. Ayo."
Dia ngikutin dia ke ruang ganti kecil di belakang restoran. Di sana mereka ketemu yang lain lagi ganti baju, nggak terganggu. Yang harus mereka lakuin cuma pake kaos dan celemek. Asahd kaget ngeliat cewek-cewek pada buka baju dan blus mereka, nggak peduli kalau mereka nunjukin bra mereka. Kayaknya itu udah biasa buat mereka. Oh, Asahd nggak peduli sama sekali. Kayak cowok-cowok lain di tim mereka, itu cuma pertunjukan kecil sebelum dan sesudah kerja.
"Siapa cowok itu?" salah satu cowok nanya, buka bajunya.
"Anak baru." jawab Jenna "Selamat pagi, Asahd. Gue liat lo dateng tepat waktu. Keren."
"Selamat pagi, semuanya." Asahd nyapa dan yang lain bales.
"Selamat datang, bro. Gue Stephan."
"Gue Derrick."
Dan seterusnya perkenalan berlanjut. Asahd seneng mereka nyambut dia dengan cara yang lumayan keren.
"Pilih loker." Shanon bilang ke dia.
"Makasih."
Asahd masukin tasnya ke loker dan lepas jaketnya. Terus kaosnya.
"Lo dari mana, bro?" Jason nanya.
"Gue orang Maroko." jawab Asahd.
"Wah, keren banget."
Cowok-cowok mulai ngobrol dikit sama dia sementara cewek-cewek ngumpul di sudut kecil mereka buat ngerumpi dikit. Apalagi pas Asahd lepas singletnya.
"Dia keliatan kayak permen karamel." Shanon berbisik ke temen-temen dan temen kerjanya, bikin mereka cekikikan setuju.
"Iya, dia ganteng banget."
"Badannya, sih. Dia pasti olahraga. Gue seneng anak barunya cakep. Mungkin gue punya kesempatan." Chrissy mikir.
"Ya ampun. Terus berharap aja." Brittany muter matanya geli.
"Brittany bener. Malah, gue mungkin punya kesempatan buat deketin dia." Jenna mikir dan yang lain ketawa.
"Nggak ada dari kalian yang punya kesempatan, dibanding gue." Shanon nambahin.
"Selamat pagi di dalam." mereka denger suara asisten manajer di sisi lain pintu. "Kita bakal buka bentar lagi jadi keluarin pantat kalian dan bersihin meja."
"Siap, Pak!"
Mereka ikat celemek mereka dan keluar dari ruang ganti.
Sudut Pandang Asahd:
Gue ambil kain dan ngelakuin kayak yang lain. Gue bersihin meja, kursi, konter, jendela, dan semuanya.
Koki udah dateng dan kita bisa denger mereka mulai masak dan bikin sesuatu di dapur. Kayaknya restoran itu juga bikin toko roti kecil dan kopi di pagi hari dan cuma di pagi hari, buat mereka yang suka sarapan di sana. Setelah jam sebelas, nggak ada lagi makanan sarapan tapi cuma kentang goreng, nugget, burger, hotdog, pizza, dll. Mereka punya hampir semua camilan di menu mereka. Keren.
"Stephan, kasih tau anak baru apa yang harus dilakuin." manajer sendiri yang bilang pas dia dateng ke restoran. Stephan ngelakuin itu.
"Ini buku catatan dan pulpen lo." dia ngasih ke gue "Lo tulis pesanan dan nomor meja dari mana lo dapet pesanan itu. Terus lo kasih ke Jenna dan Elsa yang bakal ada di belakang konter. Mereka bakal kasih pesanan ke koki dan manggil lo kalau udah siap. Biasanya di sini sibuk banget. Apalagi dari jam satu siang sampe malem. Harus fokus."
"Oke. Gue bisa kok."
"Oke, bro. Ayo kerja."
Hari itu bakal jadi hari yang sibuk banget.